Memanas

1333 Kata
"Semua ini salahku, Nadia. Sudah membuat hubungan kamu dengan Marcel menjadi bermasalah. Bagaimana kalau kamu abaikan saja aku dan Angga." Ucap Raffi dengan jurusnya. Nadia menarik napasnya. "Ini bukan salahmu, Raffi. Ini semua karena Marcel yang terlalu perhitungan. Jangan hiraukan dia. Jangan khawatir, Marcel itu selalu patuh denganku. Walau sedang marah, aku bisa membujuknya, dia pun akan tetap patuh dan minta maaf kepadaku." Nadia menjelaskan kepada Raffi. "Sebenernya aku juga sudah mulai melamar pekerjaan di kota ini, akan tetapi...." Ucapan Raffi terhenti. "Tetapi apa, Raffi?" Tanya Nadia penasaran. "Tetapi, lingkungan kerja disini terlalu kecil. Dibandingkan dengan luar negeri. Terlalu jauh bedanya. Jadi, aku yang punya kualifikasi tinggi, justru sulit mendapatkan pekerjaan." Jelas Raffi berbohong. Raffi memang gemar sekali mengada-ada dan memanipulasi keadaan. "Ya, kerja didalam negeri memang begitu. Lingkungan kerjanya juga gak bagus. Gak seperti diluar negeri, semuanya mengandalkan kemampuan sendiri, untuk mendapatkan pekerjaan." Sahut Nadia yang sering sekali termakan oleh ucapan Raffi. Tampak dua orang perawat berjalan melewati Nadia dan Raffi yang sedang bercakap. Keduanya pun menoleh kearahnya. "Si Nadia ini, terlalu mengagung-agungkan luar negeri. Gak tahu diri, kalau bukan bantuan suaminya, mana mungkin dokter kecil bisa dapat posisi seperti sekarang ini?" Cerita perawat satu dengan perawat disebelahnya sambil berjalan. "Di kota kita yang kecil ini, hanya bisa andalkan relasi dan koneksi baru bisa dapat kerja. Kamu jangan khawatir, Bos besar di Jakarta ini, aku kenal semuanya. Aku bisa kenalkan kamu." Ucap Nadia kepada Raffi. Raffipun tampak senang dan menggenggam jemari tangan milik Nadia. "Yang benar, Nadia? Kamu memang membawa keberuntungan. Sebenarnya, aku kembali ke Indonesia, bisa dibilang taruhannya besar. Aku meninggalkan kehidupan yang luar biasa di luar negeri. Aku pikir, aku akan sulit di Indonesia ini. Tapi nyatanya, memang lebih sulit. Tapi, untungnya ada kamu." Raffi pun segera memeluk tubuh Nadia didepan umum. Tidak sedikit orang-orang yang melihatnya. Terlebih para tenaga medis yang sudah mengetahui kasus tentang dirinya, hanya bisa mengelus d**a dengan perbuatan yang dilakukan Nadia didepan umum itu. "Raffi, masalahmu adalah masalahku juga. Tenang saja, sekarang aku atur pertemuan dengan bos besar." *** "Hei Leo. Seingatku waktu bekerja sama dengan perusahaan kita, kamu pernah bilang jika kalian sedang mengembangkan proyek baru. Kebetulan aku merasa temanku doktor lulusan luar negeri ini sangat cocok. Tolong atur dia di perusahaan kalian. Berikan dia posisi eksekutif." Ucap Nadia seolah-olah ia lah yang paling berkuasa dan dengan mudah memberikan arahan kepada siapapun. Kini Nadia dan Raffi sedang berada di ruang makan VIP disebuah restoran. (Pantas saja Pak Marcel, tiba-tiba memblokir jalan untuk isterinya. Wanita ini terlalu bodoh, gak tahu sopan santun. Aku lebih senior, dia malah memanggilku hanya dengan sebutan nama.) Batin Leo dalam hatinya. "Mohon maaf Bu Nadia, untuk posisi eksekutif, sudah penuh." Jawab Leo. "Apa? Mungkin aku belum cukup jelas, dia ini bukan teman biasa. Dia mantan pacarku, hubungan kami sangatlah baik." Jelas Nadia dengan menoleh kearah Raffi. "Apa? Mantan pacar?" Leo begitu terkejut mendengar penuturan dari Nadia. Nadia mengangguk cepat dengan bangganya ia mengenalkan kepada Leo jika Raffi adalah mantan pacarnya. (Apa Nadia ini otaknya bermasalah?) batin Leo kembali. "Untuk posisi eksekutif, memang sudah gak ada posisi lagi. Maaf!" Tegas Leo kepada Nadia. Nadia yang tadinya berwajah berseri-seri kini menjadi berubah masam. "Benar gak ada lagi? Kalau begitu, apakah bisa untuk posisi Manager? Yang memiliki tunjangan tinggi, gaji tinggi, dan kerjaan yang sedikit!" Nadia mencoba kembali untuk meminta posisi lain. "Mulai dari posisi Manager? Hmm.. Boleh juga. Dengan kemampuanku, gak lama lagi juga bisa naik pangkat." Dengan percaya diri Raffi mengucapkan hal itu. Leo pun tersenyum. "Posisi Manager juga gak ada! Bagaimana kalau begini saja, aku sudah ingat dengan Bapak ini. Kalau ada lowongan buat posisi kamu, aku akan langsung beri tahu, aku permisi dulu, masih ada urusan kantor!" Leo berdiri hendak pergi meninggalkan Nadia dan Raffi. Leo pun akhirnya pergi meninggalkan Nadia dan Raffi. "Tunggu sebentar, Leo. Sebaiknya kamu pikir-pikir lagi, Leo!" Panggil Nadia hendak mengejar Leo. Leo berjalan dengan menoleh kearah Nadia. "Sampai jumpa!" Ucap Leo dengan melambaikan tangannya. "Dasar si Leo ini, berani-beraninya bersikap seperti ini kepadaku. Waktu itu dia mohon bantuanku, gak berani bersikap seperti ini. Awas saja, kalau lain kali ada perlu lagi, jangan minta tolong sama aku!" Nadia berkoar-koar seperti tidak memiliki etika. Emosinya semakin menjadi-jadi ketika dirinya merasa tersinggung atas sikap Leo. "Nadia, lalu bagaimana ini? Apa kamu masih mempunyai koneksi?" Tanya Raffi kepada Nadia. "Tenang saja, koneksiku masih banyak. Gak perlu lagi sama dia. Sebentar, aku coba hubungi lagi yang lain." Nadia kemudian meraih ponselnya dan segera menghubungi semua relasi yang ia pamer-pamerkan kepada Raffi. Semuanya disuruh datang satu persatu dimana Nadia dan Raffi sedang berada. "Bu Nadia, aku tahu tujuan kamu memintaku kesini. Tapi, maaf. Aku gak bisa membantu. Kamu cari orang lain saja." Ucap salah seorang relasi kembali yang Nadia hadirkan dalam ruangan VIP tersebut. Nadia lagi-lagi dibuat terkejut oleh para relasinya itu. "Tunggu! Waktu itu kamu memohon bantuanku. Sikap kamu saat itu gak seperti ini. Hari ini, kalau kamu gak bisa berikan alasan, kamu gak boleh pergi! Dan kamu akan tahu akibatnya." Ancam Nadia kepadanya. "Baiklah, kalau begitu aku jelaskan alasannya. Aku akan terus terang saja. Orang yang kamu kenalkan ini, hanya orang yang gak beres di luar negeri. Kalau biarkan orang seperti ini, kerja di posisi eksekutif di perusahaanku, itu adalah sesuatu yang gak masuk diakal." Jelas orang itu. Raffi tersulut emosi. "Omong kosong!" Sentak Raffi. "Kamu gak punya mata? Raffi ini doktor lulusan Universitas luar negeri. Beraninya kamu hina dia. Aku bisa membuat usahamu bangkrut." Ancam Nadia kembali. "Apa? Memangnya kamu ini siapa? Kamu kira kamu masih mempunyai kuasa? Menurutku, Pak Marcel memang sangat s**l mendapatkan isteri macam kamu." Tegas orang itu. Nadia lagi-lagi dibuat emosi. "Omong kosong, kamu!" Hardik Nadia. "Omong kosong? Kamu sudah menjadi isteri orang, gak peduli dengan anak sendiri. Hanya tahu mencari perhatian dengan laki-laki lain. Wanita macam kamu, hanya orang baik seperti pak Marcel yang bisa memberikan toleransi, dan sabar dengan kamu. Kalau aku berada di posisi Pak Marcel, sudah aku bantai sejak dulu. Aku jujur saja, di tempat ku ini, jangan harap bisa dapat kerja. Jangan mimpi!" Ungkap panjang lebar orang itu. Ia berani mengutarakan semuanya kepada Nadia. Hingga Nadia merasa kelagapan dan berusaha ingin membela diri. Bahkan, sesekali ia menoleh kearah Raffi. Raffi pun tidak ada hak untuk ikut campur dalam urusan ini. Tujuannya hanya ingin terus memanfaatkan Nadia. "Hei, ternyata semua ini karena Marcel? Betul?" Tanya Nadia dengan nada kerasnya. Orang tidak menjawab apapun, ia segera pergi meninggalkan Nadia dan Raffi. "Nadia, pasti semua ini adalah ulah Marcel. Bukannya dia pernah bilang, gak akan biarkan kita hidup tenang? Marcel sangat perhitungan sekali, padahal hubungan kita, sangat murni." Ucap Raffi yang terus mengompori Nadia. "Betul, ini ulah Marcel. Beraninya dia mempermainkan aku. Aku ingin mencari dia untuk menyelesaikan semua ini." Nadia marah-marah hendak pergi mencari keberadaan Marcel. Namun, langkahnya kembali dihalangi oleh Raffi dengan menarik tangan Nadia dengan cepat. Tiba-tiba, muncul Marcel datang mendekati Nadia dan Raffi. "Ada apa mencari aku?" Ucap Marcel datang dengan gayanya yang santai dan elegan. Nadia menoleh kearah sumber suara itu. Ternyata Marcel telah berdiri di hadapannya. "Pantas saja mereka berdua, berani bersikap seperti itu. Ternyata kamu dibalik semua ini, kamu gak memberikan kesempatan untuk Raffi mendapatkan pekerjaan, lalu memblokir kartu kreditku, apa kamu sudah gila? Cepat buka kartu kreditku." Ucap Nadia meminta kepada Marcel. Marcel masih dengan santai menyikapinya. Ia duduk manis ke depan meja makan. "Itu kartuku dan uangku. Terserah aku mau apa kan, apa masalahnya dengan kamu?" Jawab Marcel seraya menuangkan teko teh ke dalam cangkir putih kecil. "Bukan masalah punya kamu atau aku, punyamu juga punyaku! Ini harta keluarga kita bersama!" Protes Nadia. "Kamu masih mengingatku sebagai suamimu?" Marcel menjawab dengan meneguk teh dalam cangkir kecil nya. Nadia kemudian duduk mendekati Marcel. "Aku sudah bilang berkali-kali. Aku dengan Raffi gak ada hubungan apa-apa. Kenapa kamu harus berpikir kesana? Kamu bahkan jahat sekali ke dia, gak mau memberikan pekerjaan. Memang dasar kamu laki-laki s*alan!" Sarkas Nadia kepada Marcel. Marcel mengalihkan pandangannya kepada Raffi. Ia tersenyum sinis kepada Raffi. "Doktor lulusan luar negeri masih perlu kamu carikan pekerjaan, Nad? Apakah, jangan-jangan gelarnya palsu ya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN