Satu Persatu, Hilang!

1310 Kata
"Kamu masih mengingatku sebagai suamimu?" Marcel menjawab dengan meneguk teh dalam cangkir kecil nya. Nadia kemudian duduk mendekati Marcel. "Aku sudah bilang berkali-kali. Aku dengan Raffi gak ada hubungan apa-apa. Kenapa kamu harus berpikir kesana? Kamu bahkan jahat sekali ke dia, gak mau memberikan pekerjaan. Memang dasar kamu laki-laki s*alan!" Sarkas Nadia kepada Marcel. Marcel mengalihkan pandangannya kepada Raffi. Ia tersenyum sinis kepada Raffi. "Doktor lulusan luar negeri masih perlu kamu carikan pekerjaan, Nad? Apakah, jangan-jangan gelarnya palsu ya?" Marcel mulai menaruh curiga terhadap Raffi. "Kamu ini memang terlalu iri dengan Raffi, ya? Salahkan diri kamu sendiri. Jangan meremehkan orang. Raffi ini doktor lulusan luar negeri. Mempunyai keahlian dan etika. Sedangkan kamu? Hanya mempunyai uang saja sudah sangat egois. Kenapa aku bisa menikah dengan laki-laki seperti kamu sih?" Cecar Nadia kepada Marcel. Namun, lagi-lagi Marcel masih menanggapinya dengan keadaan dan sikap yang terlalu santai sembari menikmati teh dalam cangkir kecilnya. "Nadia, jangan hanya karena aku, kamu bertengkar dengan Marcel lagi. Jagalah kesehatanmu. Sebelumnya aku mengira kamu menikah dengan orang kaya bisa membuat hidupnya sangat bahagia. Jadi laki-laki, mengapa harus iri? Baru kali ini aku bertemu dengan orang seperti kamu." Raffi berbisik kepada Nadia. Namun, ia tetap mengeraskan suaranya agar Marcel dapat mendengarnya pula. "Sudahlah, Marcel. Aku gak mau berdebat denganmu lagi. Cepat buka kartu kreditku. Kalau gak, jangan salahkan aku jika gak menghargai kamu. Aku akan gugat kamu di pengadilan!" Ancam Nadia kepada Marcel. Marcel menarik panas panjangnya. "Kalian mau uang, kan? Tiga hari lagi, adalah satu minggunya Tiara meninggal. Kamu bisa datang ke makam untuk sekedar syukuran tujuh hari. Kalian ikuti apa yang aku bilang, aku akan berikan kalian uang kompensasi!" Marcel bangkit dari tempat duduknya dan hendak pergi meninggalkan Nadia serta Raffi. Nadia mencegahnya. "Marcel, beraninya kamu memerintahkan aku, kamu sudah jago ya? Kamu kira mempunyai uang, sudah hebat? Lagi pula, uang itu sebagian milikku. Kemarin acara pemakaman, sekarang mau ke kuburan. Kenapa? Pasti akan bilang ini acara pemakaman Tiara lagi, kan?" Nadia meluapkan emosinya, ia marah-marah dengan begitu tidak jelas. Marcelpun terbakar emosi, ia langsung menendang bangku yang berada didekatnya. Gubraaakkkk!!! Marcel berjalan mendekati Nadia. "Nadia!" "Kenapa? Aku bongkar kebohonganmu, lalu kamu mau pukul aku? Pukul saja! Laporan k*******n dalam rumah tangga, bagi orang macam kamu sudah biasa." Nadia melawan Marcel. "Marcel, semua ini memang salahmu. Telah mengutuk anakmu sendiri. Sekarang, masih berani akan menyusahkan Nadia? Aku gak akan biarkan." Ucap Raffi dengan merangkul pundak Nadia dengan sangat dekat. Tatapan Marcel tampak fokus menuju tangan Raffi yang telah merangkul pundak Isterinya tersebut. Emosinya membara, biar bagaimanapun, Nadia masih menjadi isteri sahnya. Ia tidak rela jika Nadia dekat-dekat dengan Raffi. Marcel mendekati keduanya dengan tatapan yang begitu tajam. "Kenapa? Kamu ingin pukul aku? Aku gak takut." Imbuh Raffi yang bersembunyi dibalik tubuh Nadia. "Marcel, kalau kamu berani memukul Raffi. Aku akan memastikan kita akan segera bercerai. Gak peduli bagaimana cara kamu memohon atau memberikan uang ke aku, aku gak akan pernah memaafkan kamu. Aku juga gak akan membiarkan kamu bertemu dengan Tiara." Tegas Nadia kepada Marcel. Marcel mengangguk tanda mengerti. "Baiklah, aku ingatkan kamu sekali lagi. Tiga hari lagi, jam sembilan pagi. Itu adalah kesempatan terakhirmu." Marcel kembali menegaskan kepada Nadia untuk terakhir kalinya, agar datang ke makam Tiara pada hari ketujuh Tiara meninggal. Karena, tepat hari itu juga, akan diadakan malam tujuh hari pada Tiara. Sedangkan, Marcel berencana ingin berziarah ke makam Tiara tepat di hari ke tujuh. Marcel pergi meninggalkan Nadia dan Raffi. Ia tidak ingin berlama dengan orang-orang yang telah membuat puterinya kehilangan nyawa. "Lihat, Raffi. Aku sudah bilang, begitu aku bilang cerai, Marcel langsung mundur. Dia itu hanya terlalu protektif kepadaku. Itulah mengapa dia sangat iri kepadamu, kamu tenang saja." Nadia menenangkan hati Raffi. Raffipun menyentuh kedua pundak Nadia. "Nadia, tapi kita sudah gak bisa tinggal dirumah Marcel lagi. Aku belum mendapatkan pekerjaan. Biaya operasi Angga juga belum terkumpul, gak mungkin juga tinggal di Hotel." Ucap Raffi memelas kepada Nadia. Nadiapun tersenyum. "Sudahlah, aku masih mempunyai banyak rumah, Marcel masih mempunyai rumah kecil yang cukup di komplek sebelah untuk kalian. Nanti kalian bisa pindah kesana. Tapi, agak menyusahkan kamu dan Angga saja. Walau gak bisa sama dengan rumah sebelumnya. Tapi, semua fasilitas ada. Renovasinya juga sangat bagus." Jelas Nadia kepada Raffi. Raffi kembali tersenyum. "Nadia, kamu begitu tulus denganku dan Angga.Mana mungkin aku akan salahkan kamu, ini hanya tinggal sementara." Ujar Raffi kepada Nadia. "Ya sudah, kita pergi sekarang." Ajak Nadia kepada Raffi. Namun, Raffi segera menghalangi langkah Nadia. "Nadia, tunggu dulu. Makan dulu baru kita pergi. Jangan sia-siakan makanan ini." Raffi mengajak Nadia untuk menikmati semua hidangan sebelum pergi meninggalkan area restoran VIP yang telah Nadia pesan. *** Disuatu perumahan elit. Nadia mengajak Raffi pergi kesana. Nadia tampak antusias ingin menunjukkan bahwa ia masih memiliki rumah yang akan ia berikan sementara untuk Raffi dan Angga. Ketika, Nadia memasuki rumah tersebut yang kebetulan pintu rumah itu tidak terkunci, mereka masuk kedalam. "Raffi, ini tempatnya! Cukup lumayan kan?" Nadia menunjukkan rumah itu kepada Raffi. Namun, betapa terkejutnya ketika Nadia memasuki rumah tersebut. Ia menemukan seorang pria tengah menenggak alkohol dan dengan santainya sedang bersandar di sofa yang empuk. "Kamu siapa? Mengapa ada disini? Ini rumahku! Aku harus lapor Polisi, kamu telah masuk tanpa izin. " Hardik Nadia kepada pria itu. Pria itu pun tidak kalah sama terkejutnya dengan Nadia. "Siapa yang masuk tanpa izin? Saya, pemilik rumah ini! Seharusnya saya yang harus lapor ke Polisi, kalian ini siapa? Pergi!" Sentak pria tersebut. "Tunggu! Ini rumahmu? Ini jelas rumahku! Siapa yang jual?" Nadia menanyakan kejelasan kepada pria itu. "Dasar wanita b*rengsek!" Umpatnya. Pria itu pun berjalan menuju meja seperti hendak mengambil sesuatu. Pria itu mengambil sebuah sertifikat, kemudian ia menunjukan kepada Nadia. "Lihat ini! Lihat sendiri, nama siapa itu?" Pria itu menyodorkan sebuah sertifikat rumah. Nadiapun menerima kemudian ia langsung membuka sertifikat rumah itu. Betapa terkejut kembali, Nadia melihat nama yang tertera di dalam sertifikat itu bernama Sandi Aditya. "Sandy Aditya?" Ucap Nadia dengan bingung. "Ya, itu saya! Pergi! Cepat pergi dari rumah saya!" Pria yang bernama Sandy segera mendorong kasar Nadia dan Raffi untuk segera pergi dari rumahnya. Nadia dan Raffi masih merasa keberatan, karena mereka harus pergi dari rumah itu. "Tunggu! Tunggu sebentar!" Teriak Nadia, menolak untuk didorong-dorong oleh Sandy. "Sudah, sudah.. Kalian ini mau apa berdua-dua begini? Pergi sana!" Hardik Sandy kemudian dengan cepat menutup pintu rumahnya dengan sangat kencang. Nadia dan Raffi pun hampir jatuh karena didorong keras oleh Sandy. "Rumah ini sudah dijual. Kalau bukan kamu, berarti Marcel yang jual. Dia sengaja buntukan jalan kita. Sekarang, aku dan Angga sudah gak punya tempat tinggal lagi." Ucap Raffi kembali memelas kepada Nadia. Nadiapun menjadi iba, tidak tega terhadap Raffi dan Angga. "Tenang saja, biarkan aku selesaikan masalah ini." Jawab Nadia. "Nad, Marcel itu terlalu perhitungan. Bukannya kamu bilang kalau dia itu sayang sekali dengan kamu? Patuh dengan kamu? Lalu, mengapa jadi begini?" Protes Raffi kepada Nadia. Membuat Nadia semakin merasa tersudut. "Marcel itu terlalu cemburu, nampaknya ancaman cerai sudah gak efektif. Harus pakai cara lembut." Tegas Nadia. "Kamu harus pikirkan cara untuk membujuk dia, Nad. Gak ada uang, gak ada tempat tinggal. Kamu pasti punya cara, kan?" Raffi kembali memerintahkan Nadia untuk terus membujuk Marcel. "Tenang, Raffi. Marcel itu mudah dibereskan. Kalau aku rayu dia menggunakan bahasa lembut, pasti dia akan luluh hatinya." Jawab Nadia. "Baiklah." Sahut Raffi. Dengan tiba-tiba ponsel Raffi berdering. Ia kemudian meraih ponselnya yang berada dalam saku celananya. "Hallo, bukankah aku sudah membayar biaya obatnya? Mengapa masih ditagih lagi?... Apa? Kondisi Angga semakin parah? Harus operasi?.. Nadia, bagaimana ini? Kondisi Angga gawat, semakin parah. Kamu harus selamatkan Angga, Nad." Ucap Raffi ketika menerima telepon, kemudian ia memutuskan sepihak karena sudah terlanjur panik. Ia kemudian memohon kepada Nadia untuk cepat menolong Angga, karena kondisi Angga kian memburuk. "Raffi, tenang saja. Kamu jangan panik! Aku yang menangani operasi Angga, aku tahu kondisi Angga. Begitu sampai rumah sakit, biar aku yang tangani dia." Ujar Nadia menenangkan Raffi. "Apakah Angga akan tertolong?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN