Memohon Belas Kasih

1127 Kata
"Hallo, bukankah aku sudah membayar biaya obatnya? Mengapa masih ditagih lagi?... Apa? Kondisi Angga semakin parah? Harus operasi?.. Nadia, bagaimana ini? Kondisi Angga gawat, semakin parah. Kamu harus selamatkan Angga, Nad." Ucap Raffi ketika menerima telepon, kemudian ia memutuskan sepihak karena sudah terlanjur panik. Ia kemudian memohon kepada Nadia untuk cepat menolong Angga, karena kondisi Angga kian memburuk. "Raffi, tenang saja. Kamu jangan panik! Aku yang akan menangani operasi Angga, aku tahu kondisi Angga. Begitu sampai Rumah Sakit, biarkan aku saja yang menangani dia." Ujar Nadia menenangkan Raffi. "Apakah Angga akan tertolong?" Raffi panik. "Segera kita cek kondisinya!" Nadia segera bergegas pergi untuk mengecek kondisi Angga di Rumah Sakit. *** Nadia terlihat sedang berlari-lari untuk masuk kedalam ruang operasi lengkap dengan pakaian alat pelindung dokter. Raffi begitu panik berjalan kesana-kemari karena khawatir dengan kondisi Angga. "Raffi, aku menangani operasi Angga dulu ya. Kamu jangan panik!" Ucap Nadia menenangkan Raffi. Ia pun hendak berjalan menuju ruang operasi. Namun, langkahnya terhenti ketika ada suara yang memanggilnya. "Nadia! Kamu masih masa skors kerja sementara. Gak boleh masuk ruang operasi... Kalian berdua masuk kedalam ruang operasi dan tanganilah segera. Aku sudah mengatur untuk menangani operasinya. Kalian tinggal membayarnya saja." Direktur Utama yang sekaligus dokter senior pada Rumah Sakit tersebut langsung berjalan mendekati Nadia yang hendak masuk keruang operasi. Ia memerintahkan dua orang dokter lainnya untuk menangani kasus Angga. Nadia mengerutkan dahinya, ia merasa tersaingi. "Dok, belakangan ini aku sedang ada masalah, dok! Sementara belum ada uang. Hutang dulu ya, dok. Aku dokter handal di Rumah Sakit ini. Dokter pasti percaya denganku kan?" Dengan percaya diri, Nadia menyebut dirinya sebagai dokter handal di Rumah Sakit itu kepada Direktur Utama yang juga berprofesi sebagai dokter. "Nadia, karena kamu sudah lama kerja di Rumah Sakit ini, aku hanya ingin ingatkan kamu. Hargailah hidupmu sendiri sekarang, jangan mengurusi hidup orang lain. Yang pada akhirnya gak akan mendapatkan apa-apa." Tegas sang Direktur Utama dengan sesekali melirik kearah Raffi. Direktur Utama segera pergi meninggalkan Nadia yang sedang bersama dengan Raffi. "Dok, tunggu. Beraninya orang tua ini mengguruiku. Apa hanya karena kamu tua? Begitu nanti aku naik pangkat jadi Direktur. Aku pasti akan langsung memecat kamu!" Hardik Nadia kepada sang Direktur Utama. Begitu beraninya Nadia menghardik sang Direktu Utama dimana tempat ia bekerja selama ini. "Nadia, semua ini salahku. Gak bisa memberikan Angga badan yang sehat. Sekarang, aku gak bisa membayar biaya operasinya. Semua ini salahku, salahku!" Raffi menyalahkan dirinya sendiri. Ia menampari wajahnya sendiri dengan tangannya berkali-kali. Wajahnya memerah akibat tamparannya sendiri. "Semua ini bukan salah kamu! Semua salah Marcel. Kalau bukan dia yang menghalangi kita, Angga pasti gak akan seperti ini." Jawab Nadia kembali menenangkan Raffi. "Nadia, kita harus bagaimana?" "Tenang saja, Raffi. Aku akan mencari Marcel. Kalau perlu, aku minta bantuan kepadanya. Biasanya, asalkan aku bicara baik-baik, dia pasti patuh denganku. Demi Angga, aku rela memohon kepadanya." Ucap Nadia. "Nadia, kamu sudah cukup menderita menghadapi, Marcel. Tunggu aku berhasil, ya. Aku pasti akan menikahi kamu." Raffi memberikan janjinya kepada Nadia. Seolah-olah bahwa ia yakin suatu saat bisa menikahi Nadia. Nadiapun merasa dirinya diatas segala-galanya. Ia merasa iba dan terharu. "Jangan bicara seperti itu. Biar bagaimanapun, Aku gak akan meninggalkan kamu dan Angga." Janji Nadia kembali membuat Raffi semakin yakin kalau Nadia tidak akan pernah meninggalkan dirinya. Nadia lebih mementingkan hidup Raffi dan Angga. Sedangkan, hidup bersama Marcel dan Tiara menjadi terbengkalai. Raffipun terharu atas penuturan Nadia. Ia memeluk Nadia begitu erat di hadapan umum. Tanpa memikirkan apa yang akan dibicarakan oleh-oleh orang nantinya. "Ya sudah, aku menghubungi Marcel dulu." Nadia melepaskan pelukan Raffi. Ia segera pergi meninggalkan Raffi, kemudian mencari tempat duduk agar lebih nyaman untuk menghubungi Marcel. Senyum sinis Raffi telah mengembang. Rupanya ia berhasil membuat Nadia bertekuk lutut dihadapannya. Nadia akan melakukan segala cara untuk dirinya dan Angga. Tut.. Tut.. Tut.. "Marcel, aku tahu. Semua yang kamu perbuat hanya karena kamu sayang denganku, kan? Aku bisa memaafkan kamu. Tapi, kamu harus menunjukkan ketulusanmu. Malam ini, aku lembur di Rumah Sakit. Kamu, malam ini bawa makanan untukku, ya! Masak sedikit banyak, untuk tiga porsi. Buatlah menu seperti biasa." Nadia mendaratkan b*okongnya pada bangku panjang yang terpasang di Rumah Sakit. Ia merayu Marcel dengan bertutur kata lemah lembut. Sehingga membuat Marcel menjadi penuh tanda tanya. Sikap arogan dan angkuh Nadia, kini menjadi melunak. Jangan sampai, Marcel mengiba dan menuruti apa kemauan Nadia kali ini. "Nadia, apa maksud kamu?" Marcel menjawab dari panggilan suara diseberang. "Terkejut sekali, ya? Dulu kamu paling suka ke Rumah Sakit, untuk bawakan aku makanan. Waktu itu aku bilang jangan bawakan makanan, namun kamu malah marah. Sekarang aku berikan kesempatan, dan jangan sia-siakan hal itu. Jangan sampai membuat aku kesal lagi." Cerita Nadia kembali untuk mengingatkan memori Marcel seperti kala itu. Marcel mengerutkan dahinya, seperti ada yang tidak beres pada Nadia kali ini. "Aku membawakan kamu makanan? Tiga porsi? Untuk Raffi, Angga dan kamu, begitu? Kamu bercanda, Nadia?" Tanya Marcel. "Iya, benar! Kamu bisa masak untuk mereka. Itu suatu kehormatan untuk kamu. Oh iya, masakannya jangan terlalu asin, ya. Dan jangan terlalu pedas juga. Raffi dan Angga, memiliki selera ala luar negeri. Gak bisa makan pedas. Ingat baik-baik, ya. Jam tujuh malam, bawakan ke Rumah Sakit. Aku lanjut kerja dulu, sudah itu saja." Nadia kemudian memutuskan panggilannya. Ia tersenyum kepada Raffi yang sedari tadi duduk disampingnya yang tak lepas tersenyum bangga karena telah berhasil membuat mantan pacarnya mengalihkan dunianya hanya untuk dirinya dan Angga. "Raffi, kamu tenang saja ya. Nanti Marcel akan datang mengantarkan makanan untuk kita. Asalkan aku makan masakannya, dia pasti sangat senang. Sampai melupakan semua masalah sebelumnya. Apa pun yang aku minta, dia pasti akan memberikannya." Jelas Nadia dengan bangga, seolah-olah Marcel tidak dapat melepaskan dirinya. "Pantas, kamu adalah wanita cantik yang sehebat ini, bagaimana Marcel bisa mendapatkan hatimu? Ternyata begini caranya." Ledek Raffi kepada Nadia, membuat Nadia tersipu malu. "Kamu ini, jangan berlebihan. Tapi, Marcel memang cinta mati kepadaku. Aku menyuruh kemanapun, dia pasti akan menuruti. Dulu mulutku agak sedikit manis saja, dia sudah mematuhinya. Mau minta uang berapapun, dia pasti akan memberikannya." Nadia menyombongkan dirinya kembali. "Nadia, serius kamu sehebat ini? Hanya karena makan masakannya, dia sudah begitu patuh?" Raffi menjadi penasaran. "Marcel memang seperti itu orangnya. Tapi, harus aku akui, masakannya memang sangat enak sekali. Warna, aroma dan rasanya sangat lezat. Dulu, waktu dia datang ke Rumah Sakit bawa makanan, aku gak pernah mau menghargainya. Gak ada alasan apa-apa, hanya sengaja seperti itu." Jelas Nadia. Raffi menarik nafas panjangnya. "Aku jadi ingin tahu, masakan dia bagaimana rasanya." Ucap Raffi kemudian. Nadia pun tertawa bersama dengan Raffi. Namun, disela-sela tawa mereka. Ponsel Nadia berdering. Ia pun melihat pada layar ponsel, tertera nama sang Papa, Herman. Nadia segera menerima panggilan tersebut. "Nadia, apa-apaan Marcel ini? Besok sudah hari ulang tahunku yang ke enam puluh tahun, dia masih belum mengurus pestanya. Adikmu telepon dia, juga gak diangkat. Benar-benar keterlaluan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN