Menjebak

1036 Kata
"Aku jadi ingin tahu, masakan dia bagaimana rasanya." Ucap Raffi kemudian. Nadia pun tertawa bersama dengan Raffi. Namun, disela-sela tawa mereka. Ponsel Nadia berdering. Ia pun melihat pada layar ponsel, tertera nama sang Papa, Herman. Nadia segera menerima panggilan tersebut. "Nadia, apa-apaan Marcel ini? Besok sudah hari ulang tahunku yang ke enam puluh tahun, dia masih belum mengurus pestanya. Adikmu telepon dia, juga gak diangkat. Benar-benar keterlaluan!" Sarkas Herman kepada Nadia. Nadia terkejut ketika Herman meneleponnya dengan nada marah-marah kepadanya. "Papa, Marcel ini memang gak tahu berbakti kepada orang tua. Tapi, soal Hotel itu gak masalah. Besok Papa langsung saja ke Hotel Cakra. Itu Hotel keluarga Marcel, langsung saja kesana dan ambil ruang VIP yang paling mahal. Standar makanan dan minuman pesan juga yang paling mahal. Nanti langsung sebut saja nama Marcelino Tanoto." Perintah Nadia kepada Herman. Nadia dengan mudahnya berkuasa secara sepihak tanpa meminta pendapat atau persetujuan kepada Marcel atas apa yang telah ia mandatkan kepada Herman. Seolah-olah, Nadialah pemilik dari Hotel tersebut. "Bukan anak kandung, memang gak bisa diandalkan ya. Menantu gak berguna!" Sahut Herman mencela Marcel. "Papa, tenang saja. Nanti dia bakalan datang ke Rumah Sakit untuk mengantarkan makan malam untukku. Nah, aku pastikan akan memberikan pelajaran untuknya." Nadia mencoba menenangkan Herman. Hermanpun percaya dengan apa yang dibicarakan oleh Nadia. "Ya, marahi saja dia. Oke, baiklah kalau begitu." Jawab Herman kemudian memutuskan panggilannya. Kedua panggilan pun terputus. "Nadia, Papa kamu akan ulang tahun ya? Aku harus mempersiapkan hadiah yang bagus untuknya. Cuma aku masih...." Ucap Raffi dengan sengaja tidak melanjutkan ucapannya karena sudah dipastikan ia akan membicarakan masalah tentang uang. "Tenang saja, Raffi. Tunggu Marcel datang, akan menyuruh dia untuk membelikan hadiah. Lalu, kamu tinggal memberikan hadiah itu kepada Papa dengan atas nama kamu. Kondisimu agak spesial, yang penting memiliki niat." Nadia lagi-lagi seolah menjadi pahlawan untuk Raffi. Namun, pahlawan yang selalu mengandalkan bantuan dan pertolongan Marcel. Tanpa Marcel, Nadia tidak bisa berbuat apa-apa. "Nadia, kamu baik sekali." Ucap Raffi dengan mengusap lembut wajah Nadia. Keduanya pun saling pandang dan mengedarkan senyumannya. *** Ting.. Sebuah pesan masuk pada ponsel Marcel. Marcel yang terlihat tidak nyaman atas perintah Nadia. Ia segera melihat pesan tersebut. (Nadia: Antar makan malam jam tujuh, jangan terlalu cepat, apalagi terlambat. Setelah mengantar langsung pergi saja, jangan mengganggu makan malam kami.) Marcel kembali emosi dengan apa yang dikatakan oleh Nadia melalui pesan singkatnya. "Nadia, kamu terlalu angkuh. Kamu gak pantas mendapatkan kebaikkan dariku. Mulai sekarang, kalian bersiap-siap saja untuk menerima semua akibatnya." Ucap lirih Marcel seraya menatap sebuah photo mendiang Tiara yang sengaja ia letakkan dimeja ruang kerja Marcel. Tok.. Tok.. Tok.. Anak buah Marcel datang dengan mengetuk pintu ruangan Marcel. "Kenapa?" Tanya Marcel. Anak buah yang bernama Ardi itu pun berjalan mendekati Marcel. "Pak Marcel, Dimas datang ke hotel. Rusuh meminta pesan ruang VIP paling mahal di hotel kita. Tapi, ruang makaw sudah dipesan orang sejak bulan lalu. Dan sudah dihias. Hadiah-hadiah juga sudah didalamnya. Sekarang, sama sekali sudah gak bisa menolak pelanggan kita. Aku bilang untuk mengganti ruangan lain, tapi Dimas gak mau. Sekarang dia masih rusuh di ruang makaw." Jelas Ardi kepada Marcel. Marcel mengangguk tanda mengerti. "Oke, ruang makaw tetap pelanggan sebelumnya saja. Sementara Dimas, biar aku saja yang menghadapinya." Jawab Marcel dengan sikap santai. Marcel kemudian bangkit dari tempat duduknya dan segera berjalan menuju ruang makaw diikuti oleh Ardi yang berjalan mengekorinya dari belakang. Di ruang makaw.. Terlihat Dimas dengan begitu norak, memotret satu persatu semua barang-barang yang telah terpajang di ruang makaw. Ruang makaw telah dihias dengan begitu mewah dan apik. Nuansa warna merah menyala serta ornamen warna gold membuat ruangan tersebut semakin terlihat lebih berkelas dan sangat mewah. Tidak lama kemudian, datangkah Marcel bersama dengan Ardi. Dimas menyadari kedatangan Marcel berikut anak buahnya. "Aku kira kamu jago, begitu kakakku memberikan perintah, kamu langsung hias ruang makaw ini jadi begitu mewah. Untuk ulang tahun Papaku, masih lumayanlah! Tapi, kali ini kamu membuat kami sekeluarga marah. Hadiah dan dekorasi ini belum cukup untuk menutup kesalahanmu. Oh ya, kebetulan aku tertarik dengan satu mobil Range Rover. Kamu harus belikan satu untukku!" Pinta Dimas terlalu berlebihan. Ia cukup membuat Marcel merasa tidak memiliki harga diri. Namun, Marcel dapat menghadapinya dengan sikap santai. "Dimas, sepertinya kamu salah paham. Dekorasi ruang makaw ini untuk tamu lain!" Sahut Ardi yang seperti tidak menyukai jika Marcel direndahkan oleh Dimas. "Diam! Ini gak ada urusan dengan kamu sebagai orang rendahan!" Sentak Dimas kepada Ardi. Dimas mengalihkan pandangannya kewajah Marcel. "Marcel, aku heran denganmu bagaimana cara kamu memimpin? Karyawan satu ini sama sekali gak ada sopan santun! Pantas saja kakakku gak suka denganmu, kamu ini memang gak layak. Gak layak jadi CEO, dibandingkan dengan Kak Raffi, masih jauh. Kalau bukan karena sudah disiapkan pesta ulang tahun ini dengan baik. Aku pasti sudah marahi kamu." Ucap Dimas yang tidak tahu malu. Marcel tersenyum simpul. "Dimas, kamu ingin mengajariku cara mengelola hotel?" Sahut Marcel. "Tentu saja, begini saja, Marcel. Setelah selesai pesta acara ulang tahun Papaku, kamu serahkan saja hotel ini kepadaku. Biarkan aku yang mengelolanya. Kalau hotel ini menguntungkan, aku berikan sepuluh persen keuntungannya setiap tahunnya. Dengar itu!" Dimas lagi-lagi membuat Marcel merasa terkekeh dalam hatinya. "Hotel sebesar ini mau dikelola oleh orang yang sama sekali gak pernah bekerja seperti kamu? Mana mungkin bisa mendapatkan keuntungan?" Jawab Marcel seraya melirik kearah Ardi. Ardipun menahan tawanya. Padahal, ia sudah sangat ingin tertawa kencang atas sikap Dimaa yang telah mempermalukan dirinya sendiri. "Maksud kamu apa? Kamu meremehkanku? Aku ini dilahirkan untuk menjadi bos. Jadi pemimpin orang-orang!" Hardik Dimas dengan begitu emosi. Marcel mengangguk perlahan. "Oke, untuk masalah hotel kita bahas lagi setelah ulang tahun Papamu. Ruang makaw ini kamu sudah lihat, kan? Sekarang lebih baik kamu segera pulang dan main game sana." Perintah Marcel kepada Dimas. Dimaspun terkekeh. "Tahu diri juga kamu. Aku ingatkan lagi, besok malam semua saudara keluarga Hermanto bakalan datang kesini. Pasti akan sangat ramai, kan? Itu semacam promosi gratis buat kamu, kamu bakalan untung besar." Jawab Dimas dengan wajah berseri-seri. Tidak henti-hentinya ia terkekeh karena ia merasa akan mendapatkan sebuah peluang besar dari Marcel. Ia yakin betul jika Marcel akan memberikan hotel itu untuk dikelola olehnya secara cuma-cuma. "Dari ucapanmu ini, aku sepertinya akan sangat berterima kasih kepada keluargamu." Jawab Marcel dengan wajah tersenyum puas. Dimaspun tertawa. "Hahaha, kamu sudah mengerti, ya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN