"Tahu diri juga kamu. Aku ingatkan lagi, besok malam semua saudara keluarga Hermanto bakalan datang kesini. Pasti akan sangat ramai, kan? Itu semacam promosi gratis buat kamu, kamu bakalan untung besar." Jawab Dimas dengan wajah berseri-seri. Tidak henti-hentinya ia terkekeh karena ia merasa akan mendapatkan sebuah peluang besar dari Marcel.
Ia yakin betul jika Marcel akan memberikan hotel itu untuk dikelola olehnya secara cuma-cuma.
"Dari ucapanmu ini, aku sepertinya akan sangat berterima kasih kepada keluargamu." Jawab Marcel dengan wajah tersenyum puas.
Dimaspun tertawa.
"Hahaha, kamu sudah mengerti, ya?"
Dimas tertawa kembali dan pergi meninggalkan Marcel serta Ardi.
Ardi mengerutkan dahinya.
"Pak Marcel, aku benar-benar tidak mengerti. Ipar anda sudah berani menindas and, Pak Marcel. Anda.. Anda mengapa masih menuruti dia? Ruang makaw ini sudah dipesan untuk tamu lain. Kalau anda benar-benar memberikan ini kepada Dimas, bisnis hotel kita akan hancur." Sungut Ardi begitu kesal dengan sikap yang ditunjukkan Dimas kepada Marcel.
"Eh, siapa bilang aku akan menurutinya, dan memberikan ruang makaw ini untuknya? Setahuku, tamu hari ini agak rewel. Kalau keluarga Hermanto membuat masalah, biarkan mereka sendiri yang menanggung akibatnya." Jelas Marcel kepada Ardi.
"Pak Marcel, maksud anda...?" Sahut Ardi dengan penuh tanda tanya besar didalam pikirannya.
"Aku dan keluarga Hermanto sudah gak ada hubungan apa-apa lagi. Karena, mereka sudah gak mempunyai malu sama sekali. Gak perlu kita menghargai dia." Tegas Marcel kepada Ardi.
"Baik, Pak!" Jawab Ardi.
Marcel dan Ardi meninggalkan ruangan makaw.
***
Di rumah sakit, Nadia, Raffi dan Angga terlihat sedang berada disebuah meja khusus untuk menikmati hidangan.
Namun, sejak tadi mereka hanya meminum air mineral saja tanpa ada hidangan yang tersaji sedikitpun.
Angga kesal karena dirinya sudah merasa lapar, ia tidak henti-hentinya menyentuh perutnya dengan tatapan yang tidak mengenakan kearah Nadia.
"Angga, bagaimana kalau tante tuangkan segelas air lagi?" Ucap Nadia yang memperhatikan Angga sudah sangat lapar dan tidak ada satupun makanan yang dapat ia makan.
Perutnya begitu sakit dan perih, akibat menahan lapar sejak tadi.
"Aku sudah minum delapan gelas, kapan sih makanannya datang? Aku sudah lapar sekali!" Sentak Angga sangat kesal dan marah.
Nadia menoleh kearah Raffi, Raffi hanya bisa diam dan turut menunggu makanan yang dikirim oleh Marcel.
Sebagai laki-laki hanya bisa berpangku tangan saja, tidak ada gunanya sama sekali si Raffi ini. Sangat tidak bisa diandalkan, hanya bisanya memanfaatkan keadaan dan terus bersikap kesusahan agar terus mendapatkan simpati dari Nadia.
"Angga, sabar ya. Biar tante bantu mengecek terlebih dulu." Ucap Nadia menenangkan Angga.
"Marcel ini benar-benar b*rengsek! Antar makanan saja lama sekali." Imbuhnya menggerutu.
Raffi kemudian melihat jam pada pergelangan tangannya.
"Marcel ini memang gak becus! Beraninya telat selama ini. Sampai membuat Angga kelaparan begitu! Begitu dia datang, aku akan maki dia habis-habisan." Sentak Raffi kemudian.
Ia merasa ditipu oleh Marcel yang hingga kini belum juga menampakkan batang hidungnya untuk mengantarkan makanan untuknya dan untuk anaknya.
"Aku akan langsung menghubungi si b*rengsek itu. Aku penasaran apa yang sebenarnya ia lakukan!" Ucap Nadia yang langsung meraih ponselnya dan segera memencet nomor Marcel.
Nadia segera menghubungi Marcel.
Tut..
Tut..
Tut..
Namun panggilannya terabaikan.
"Kok gak diangkat?" Sungut Nadia ketika panggilannya tidak direspon oleh Marcel.
Tidak lama kemudian, ada seorang perawat melintas dengan membawa jinjingan berisi makanan yang masih hangat. Aromanya dapat tercium ke ruangan Nadia.
Dengan segera Angga bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri perawat tersebut.
Ia merebut makanan yang dibawa oleh perawat.
Karena, ia sangat tidak tahan sekali, perutnya sudah lapar dan tidak dapat ditolerir lagi.
"Hei, bocah! Mengapa kamu merebut makananku? Anak siapa ini kenapa gak diawasi?" Teriak sang perawat ketika makanannya susah berhasil direbut oleh Angga.
Angga tidak memperdulikan itu makanan siapa, yang terpenting ia segera mendapatkan makanan untuk mengisi perutnya yang sangat sudah lapar sekali.
Nadia yang terus mencoba menghubungi Marcel dan Raffi yang sedari tadi hanya berdiam saja seperti orang lumpuh tidak bisa berbuat apa-apa, seketika terkejut mendengar teriakan perawat dari luar ruangan.
Dengan cepat, Nadia dan Raffi berlari keluar dan melihat keadaan.
Ketika Nadia dan Raffi telah berada diluar, ia melihat Angga telah melahap sebuah burger yang sudah ada digenggamannya.
"Hei, apa-apaan kamu? Mengapa teriak-teriak begitu? Untuk kamu ribut dengan anak kecil? Anak kecil mana mengerti! Dia hanya lapar!" Hardik Nadia kepada perawat yang ada dihadapannya.
Perawat mengerutkan dahinya.
"Oh, ternyata dokter Nadia ya? Kalau kamu membela dia, belikan dia makanan dong, masa lapar merebut makanan orang lain? Kalau begini, ketika besar nanti bisa jadi pencuri dong?" Jawab perawat yang nampaknya sudah begitu kesal karena mengetahui Nadia membelanya, dan dia baru teringat jika anak kecil yang merebut makanannya itu adalah Angga, pasien donor ginjal.
"Siapa pencuri? Siapa yang kamu bilang pencuri? Kamu ini hanya perawat, beraninya bicara pada dokter hebat sepertiku." Sentak Nadia kepada perawat itu.
Perawat tersebut langsung berjalan mendekat.
"Mau apa? Mau meremehkan perawat, ya?" Balas perawat tidak ingin kalah.
"Hei, aku akan meminta kepala rumah sakit untuk memecat kamu!" Ancam Nadia kepada sang perawat.
"Pecat aku? Nadia, kamu gila, ya? Sekarang, tanpa perlindungan suamimu, kamu ini siapa?Kamu saja kesulitan untuk bertahan, masih mau ancam untuk pecat aku?" Jawab Perawat yang sama sekali tidak merasa takut dengan Nadia.
Karena, ia merasa Nadia selama bekerja di rumah sakit hanya mengandalkan bantuan dari Marcel. Bukan atas kemampuannya sendiri.
"Cari mati, omong kosong apaan? Aku ini hidup dari kemampuanku sendiri sebagai dokter, sejak kapan aku bergantung perlindungan sama si b*rengsek Marcel?" Ucap Nadia seraya mendorong tubuh perawat tersebut.
Perawat hingga terhuyung dan hampir saja jatuh
"Apa? Hidup dari keahlianmu? Apa dengan keahlianmu, kamu dan keluargamu bisa hidup nyaman seperti sekarang ini? Percaya diri sekali? Uang untuk mengurus anak haram itu nampaknya sudah diputus sama suamimu, kan? Asal kamu tahu, kamu sudah jadi bahan tertawaan di rumah sakit ini." Ungkap perawat dengan uneg-unegnya.
Perawat sengaja meluapkan semuanya agar Nadia dapat membuka matanya.
Nadia terlihat emosi dan ingin sekali menghabisi perawat yang ada didepannya.
Raffi sejak tadi hanya menyimak dan bingung harus berbuat apa.
Ya, jelas ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena kualitas kemampuan dirinya pun juga tidak ada.
Hanya bisa memanipulasi keadaan dan memanfaatkan orang saja.
"Nadia, perawat di rumah sakitmu ini ternyata begini kualitasnya? Berani sekali menyebut anak haram pada pasien. Suruh dia minta maaf ke Angga, Angga itu anak angkatmu!" Ucap Raffi dengan membujuk supaya Nadia menyuruh perawat untuk meminta maaf kepada Angga.
Nadia terbakar emosi.
Plaaakk...!!!
Sebuah tamparan dari Nadia melayang mengenai wajah Perawat.
"Beraninya bicara seperti itu padaku! Minta maaf!" Teriak Nadia kepada perawat.
Perawat tersenyum kecut kepada Nadia.
"Beraninya kamu pukul aku? Kamu yang rendahan, mengabaikan keselamatan anak kandungmu sendiri dan lebih memilih selamatkan anak orang yang gak jelas ini. Orang kayak kamu selalu andalkan dukungan suamimu untuk semena-mena disini. Makanya, semua orang memberikan toleransi kepadamu, tapi kamu malah mengira semua ini karena kemampuanmu? Apa yang sedang kamu pamerkan?"