8. TERPAKSA AKU PULANG

1081 Kata
Sejak semalam Mas Bara terus mengirim pesan Wa. Aku membacanya tapi tidak ku balas. Biarkan sajalah aku hilang respect dengan Mas Bara. Sore ini aku berniat pulang ke rumah. Aku pulang ke rumah bukan karena aku ingin bertemu dengan Mas Bara tapi karena mama akan ke rumah. “Padahal aku masih kangen sama ibu. Tapi mau gimana lagi. Mama mau ke rumah jadi Bella harus pulang deh,” ucapku dengan memeluk ibu dari samping. “Udah nggak papa 'kok sayang. Kamu pulang itu taat dengan suami dan juga Mama. Mereka berdua yang saat ini memang penting. Mereka berdua harus kamu urus. Bukan begitu?” kata ibu dengan senyum damai. Aku mengangguk paham dengan apa yang di katakan ibu. Ya di sini aku bersama ibu juga karena aku ingin mendapatkan pahala. Namun aku juga harus mengurus mama mertuaku dan juga suamiku Mas Bara. Aku juga tidak tahu nanti di rumah akan seperti apa. Pasalnya aku sedang marah dengan Mas Bara. Tetapi kata Mas Bara aku harus bersikap pura-pura bahagia dan mesra di depan Mama. Ah rasanya sakit sekali jika keadaan harus seperti ini. Aku melambaikan tangan kepada ibu dan BI Sumi di depan halaman rumah. Semoga nanti aku bisa mengunjungi ibuku kembali di desa ini. Hm, rasanya sedih juga harus berpisah seperti ini. Meski aku bisa saja ke sini setiap hari. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Karena aku sudah bersuami. Kini aku memandang ke depan dengan fokus mengendarai motor. Sesekali aku juga melihat ke langit sore yang berwarna Oren dengan indah bersama awan awan yang berbeda bentuk. Setelah melewati sawah kini aku sudah ada di jalan utama. Desa kelahiranku memang tidak terlalu jauh. Mungkin kalau naik motor seperti ini akan butuh waktu dua puluh menit. Kini aku sudah sampai di depan rumahku. Ya rumahku. Rumah yang aku beli bersama Mas Bara. Aku parkir jauh di depan halaman rumah yang tidak terlalu luas. Kulihat rumah itu dengan perasaan sakit..pikiranku terus terngiang bagaimana Mas Bara yang kala.itu bersama Arum di tempat tidur. Ya mereka berdua bahkan ada di kamatku. Sangat miris hal terjadi bisa terjadi kepadaku. Aku menghembuskan nafas keras. Aku berusaha untuk menguatkan diri. Aku tidak akan Sudi jika pelakor yang bernama Arum itu merebut kebahagiaan aku. Semoga saja aku bisa mempertahankan rumah tangga aku bersama Mas Bara. “Bismillah ya Allah! Aku pasti bisa melewati ini semua,” ucapku tegas dalam hati. Aku melajukan motorku kembali. Kini motor sudah sampai di depan pintu rumah dan aku memarkirkannya di sebelah mobil Mas Bara. Aku berjalan pelan masuk ke dalam rumah sambil membawa koper warna pink milikku. “Bella?” panggil Mas Bara dengan kedua bola mata melotot. Suaranya lirih. “Kenapa sih, Mas?” tanyaku bingung. “Sttt... Sini aku bawa koper ini ke belakang. Kamu temuin mama sekarang juga. Mama udah ada di ruang tengah,” jelas Mas Bara dengan suara berbisik. Aku langsung saja berjalan menurut apa katanya. Hm, mau bagaimana lagi. Memang ini yang harus aku lakukan untuk menjaga hati mama mertuaku. “Mama?” panggilku melihat mama yang sedang menonton tv bersama Mirna asisten rumah tanggaku. Mama melihatku dengan wajah berseri. “Kamu kemana aja Bella? Mama udah tungguin kamu dari tadi,” Mama berusaha berdiri menggunakan tongkat kayu yang tingginya hanya sampai pinggang. Aku langsung saja mendekat ke arahnya. “Duduk aja, Ma,” ucapku dengan lembut sambil memegang kedua lengannya hati-hati. Aku segera mencium punggung tangannya dengan hangat. Mungkin sudah satu bulan mama nggak ke rumah. Aku juga belum sempat mengunjunginya. “Jadi kamu bener habis belanja make up?” tanya mama. Belanja make up? Pasti itu Mas Bara yang mengatakan kalau aku belanja make up. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk. “Mana barangnya? Kok nggak ada,” seru mama melihat kanan kiriku tidak ada tas belanjaan. “Oh iya tadi kan sama temen ma. Jadi ketinggalan di temen ma,” jawabku berpura-pura. “Oh gitu,” Mama mengangguk paham sambil tersenyum. “Oh ya, nanti malam kita masak bareng ya, Bella,” seru wanita dengan rambut yang hampir putih semua. Rambut pendek itu tampak halus. “Mama nggak capek, ya? ‘Kan baru dateng masa udah mau masak aja,” “Nggak 'kok sayang. Mama malah seneng banget pengin cepet-cepet masak sama kamu,” kata mama dengan wajah bersinar. Mas Bara muncul dengan wajah pura-pura bahagia. Ia tersenyum dan duduk di sebelah mama. Karena Mirna pergi ke dapur. “Resep baru ya, Ma?” tanyaku seolah ikut antusias. “Iya, tahu bacem. Kamu belum pernah 'kan dapat resep tahu bacem dari mama?” tanya mama melihat kedua mataku. Aku menggeleng. “ Belum, Ma. Tapi Bella pernah nyoba sih. Tapi kurang enak aja. Bella pernah nyobain di warteg, Mah,” “Kali ini pasti enak. Nanti kita bikin sama-sama,” “Wah! Jadi nggak sabar buat nyobain. Pasti enak banget,” seru Mas Bara sambil tersenyum. Cih, aku sudah muak dengan wajahnya. Sakit sekali hati ini. Harus pura-pura bahagia di depan mertua sendiri. Mama yang berada di tengah-tengah tiba-tiba memegang tanganku dan Mas Bara. Ia meletakkan tangan kami berdua di pahanya. Genggaman tangan itu sangat erat dan hangat. “Gimana kabar kalian? Baik-baik aja kan?” tanya mama dengan melihatku lalu Mas Bara. “Kita selalu baik-baik aja kok, Ma. Meski kadang ya ada pertengkaran kecil. Tapi itu udah biasa. Nanti juga baikkan lagi. Iya 'kan Bella?” Mas Bara melihatku dengan senyum terpaksa. “Oh iya, Ma. Benar sekali apa yang di katakan Mas Bara,” ucapku dengan terpaksa senyum. “Bagus, terus gimana Bella? Kamu belum telat juga?” tanya mama membuatku menunduk. “Kalau nanti Allah udah kasih kita anak. Pasti mama akan di kabarin sama aku dan Bella. Sekarang Bella belum hamil, Ma,” jawab Mas Bara. Seolah ingin melindungi aku dari pertanyaan mama. “Oh, nggak papa 'kok Bella. Mungkin belum waktunya. Mungkin kalian berdua sekarang lagi di beri waktu. Supaya bisa romantis romantisan terus iya'kan?” Mama membuat tanganku dan tangan Mas Bara menempel. Mama menggenggam dengan erat kepalan tangan aku dan Mas Bara. “Iya, Ma. Itu benar sekali. Bara juga seneng bisa romantis romantisan sama Bella selama lima tahun ini. Kalau sudah punya anak kan sudah sekali buat romantis romantisan yang lama,” kata Mas Bara dengan pandainya berbohong. Wajah itu benar-benar ingin aku tonjok. Tapi aku masih waras di depan mama. “Nanti deh, mama akan buatkan kalian minuman jos. Supaya bisa punya anak. Oke?” kata mama dengan semangat empat lima. Aku tersenyum pahit. Aduh! Minuman apalagi yang akan aku minum nanti. Pasti rasanya sangat tidak enak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN