9. MAMA SAKIT

1121 Kata
Aku duduk di kursi sambil bermain ponsel. Menunggu beberapa menit. Nanti aku akan keluar dan tidur di ruang tengah saja. Melihat wajah Mas Bara rasanya aku ingin muntah. “Kalau kamu nggak mau tidur di sini ya udah. Aku mau tidur dulu. Kalau kamu berubah pikiran nggak papa. Kamu boleh tidur di sini,” kata Mas Bara berkata lembut. Aku hanya diam dengan hati yang membatu. Dasar laki-laki sialan. Aku nggak terima kalau dia selingkuh dariku. *** “Mbak, bangun Mbak?” Suara Mirna membuat mataku terbuka sedikit. Aku melirik jam dinding yang ada di ruang tengah ini. Jam lima pagi. “Mbak, ibu Linda nggak sadar, Mbak. Kayaknya pingsan deh, soalnya Mirna bangunin dari tadi nggak mau buka mata, Mbak,” seru Mirna dengan raut gelisah. Aku sungguh kaget. Aku berusaha berdiri dan berjalan menuju ke kamar mama. Aku sangat berharap mama akan baik-baik aja. Kubuka pintu kamar mama dan wajah mama terlihat pucat sekali. Ini pasti karena mama terlalu kecapean. “Semalam mama tidur jam berpa, Mir?” tanyaku dengan panik. “kayaknya tidur malem deh, Mbak. Soalnya Ibu Linda ngotot buat beresin dapur,” jawab Mirna mengerutkan dahi. Ia seakan merasa bersalah juga. “Ya udah aku telfon dokter dulu,” ucapku lalu aku mengambil ponselku dan menelpon dokter. Sembari menunggu dokter datang. Aku dan Mirna terus membangunkan mama dan syukurlah mama membuka mata. Namun masih terlihat lemas. Aku segera memberinya air putih hangat. Mama juga aku suapin bubur ayam. “Mama nggak suka kacang. Kamu singkirkan ya Bella,” kata mama dengan lirih. Aku tersenyum dan menyingkirkan kacang paling pinggir. Lalu aku suapin lagi Mama. “Bara belum bangun?” tanya mama. Aku malas banget bangunin Mas Bara. Karena aku masih emosi sama dia. “Kayaknya sih, belum ma,” jawabku datar. “Kamu udah coba bangunin dia belum?” tanya mama. Aku pura-pura menjawab kalau aku sudah membangunkan Mas Bara beberapa kali. Kini Mirna muncul membawa s**u untuk mama. “Mirna, kamu tolong bangunin Mas Bara ya,” seruku kepada Mirna. Mirna mengangguk dan langsung melakukan tugasnya. Aku membantu mama untuk minum s**u. Mama meminumnya sedikit. Aku menaruh gelas itu. “Harusnya kamu bangunin dia sampai bangun. Udah siang begini pasti dia telat solat subuhnya. Kamu sebagai istri wajib loh, bangunin suamimu untuk solat subuh,” “Iya, Ma. Bella ngerti. Tadi Bella panik aja. Jadi Bella khawatir sama mama. Jadi Bella prioritaskan mama dulu deh,” jawabku seadanya. Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku malas untuk membangunkan dia solat subuh. Aku malas karena aku sakit hati udah di selingkuhin sama Mas Bara. Kini dokter datang bersama Mas Bara dengan wajah belum mandi. “Mama kenapa?” tanya Mas Bara dengan panik sambil memegang lengan mama. “Biar saya periksa dulu, ya,” ucap sang dokter. Mama terpaksa harus di bawa ke rumah sakit karena ternyata mama mengeluhkan tidak bisa buang angin selama seminggu. Aku kaget kenapa mama baru cerita soal itu. Rupanya mama sebenarnya tidak ingin di bawa ke rumah sakit. Jadi mama terpaksa baru mengeluhkan sakit hari ini. Karena hari ini paling terasa sakit untuknya. Kini mama udah ada di ruangan mawar. Aku benar-benar sedih melihat mama yang terbaring lemas sambil tertidur. “Kamu pulang aja ya, Mir jagain rumah nanti biar mama aku yang urus,” kataku kepada pembantu rumah tanggaku. “Iya, mBak lagian Ibu Linda nggak mau di urus sama saya. Saya suapin buah buahan aja bu Linda nggak mau,” Mirna mengadu dengan mulut mengerucut. Aku menepuk lengannya dengan lembut. “Sabar ya, Mirna. Ya begitulah kalau sudah menjadi orang tua pasti penginnya di manja sama anak. Kamu sabar ya, kalau selama ini mama suka ngomel,” ucapku kepada Mirna. Mirna hanya menjawab bahwa dia tidak keberatan harus menerima perlakuan yang kadang membuatnya ingin sekali mengomel. Kini Mirna sudah pamit untuk pulang ke rumahku. Mas Bara masuk ke ruangan mama sambil membawa kantong kresek berwarna putih. “Kamu bawa apa, Mas?” tanyaku sambil membuka kresek itu. “Gorengan?” seruku dengan heran. Tetapi aku sangat suka Mas Bara membelikan ini. “Buat aku 'kan Mas? Masa buat mama. Mama kan lagi sakit,” ucapku dengan manja. “Iya dong Bella. Pastilah itu buat kamu,” jawab Mas Bara tersenyum padaku yang sedang mengunyah tempe goreng. Aku kan lagi kesel sama Mas Bara. Heh, kenapa juga aku harus kesenangan begini hanya karena dia memberikan aku gorengan. Hm. “Bella, Mas pulang dulu ya?” wajah Mas Bara melihatku. Kulihat wajahnya begitu kecapean. Mungkin karena dia habis kerja. “Tapi kan Mas. Aku sendirian disini. Nggak ada yang buat gantian jagain mama. Kamu nginep disini lah Mas. Nanti kalau besok mau berangkat kerja silahkan aja. Tapi nanti pulangnya ke sini lagi,” ucapku dengan memohon. Aku mendekat kepadanya di sisi ranjang ibu. Mas Bara terlihat bingung. Ia melihat ke mama sebentar lalu ke aku. “Kamu nggak bisa apa jagain mama? Bisa kan? Kalau aku sendirian di sini. Susah mas. Kalau misalnya aku mau mandi. Terus tiba Tiba mama minta di beliin sesuatu atau butuh sesuatu gimana? Harus ada yang jagain mama dua orang, Mas” seruku dengan tegas. “Tapi Bella. Aku nggak bisa lama-lama di sini,” jawab Mas Bara seolah tidak punya rasa kasihan dengan mamanya sendiri. “nggak bisa gimana soh, Mas? Kalau Marni jagain disini sama aku. Mama tuh nggak mau di ladenin sama Marni, Mas. Kamu kenapa sih sudah banget? Pasti mau ketemu sama Arum 'kan?” Sorot mataku mulai terbuka lebar di hadapannya. “Jangan bahas soal Arum di sini ya!” seru Mas Bara seperti memberi peringatan keras kepadaku. Oke aku nggak akan bertengkar di depan mama lagi. Aku diam dan menurut apa katanya. Jadi maksud dia membelika gorengan untuk aku itu. Supaya aku mau jagaian mama disini sendirian. Enak saja kamu Mas. Malam ini hari sudah mulai gelap dan Mas Bara masih duduk di sofa sambil bermain ponsel. Ingin sekali rasanya aku meraih ponsel itu dan melemparnya. Aku yakin dia sedang chattingan dengan Arum. Lihat saja wajahnya seperti bunga matahari. Selalu mekar sepeti itu. Aku hanya bisa memandang mama dan berbicara dalam hati. Bagaimana mungkin aku membiarkan suamiku berselingkuh di depan mataku sendiri. Ya Allah, ini adalah ujian yang sangat berat untukku. Semoga saja aku mendapatkan yang terbaik karena niat aku adalah untuk menenangkan hati mama. Jangan sampai mama tahu kalau Mas Bara selingkuh. Maafkan aku, Ma. Aku harus berbohong dan berpura-pura seperti ini. Ini aku lakukan karena aku tidak ingin menyakiti perasaan mama. Aku juga tidak mau mama syok dan akhirnya sakit keras. Semoga saja aku bisa mempertahankan hubungan aku dengan Mas Bara. Ya, aku harus mempertahankannya karena aku tidak mau kalau sampai Arum bisa mendapatkan pelukan Mas Bara. Aku yang berhak karena aku adalah istri sahnya sementara Arum adalah pelakor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN