10. AKU YANG HARUS MERAWAT MAMA MERTUA

1089 Kata
Aku membuka mataku saat mendengar suara mama yang memanggilku. Ku lihat Mas Bara yang tertidur pulas. Aku langsung saja bangkit dari sofa dan mendekat sisi ranjang. “Iya, Ma ada apa?” tanyaku dengan lembut sambil mengucek mataku. “Mama pengin pipis,” jawab Mama dengan melihat ke arah toilet. “Kata suster, Mama pipisnya lewat selang dulu. Mama tinggal pipis aja ya langsung di ranjang ini nggak papa kok,” ucapku dengan lirih. “Nggak mau ah, Mama mau pipis di toilet aja. Mama nggak enak rasanya pipis di sini,” Mama melihat ke bawah dengan tidak nyaman. Aku pun terpaksa mencopot selangnya dengan hati-hati semampuku saja. Aku berusaha membuat mama berdiri dengan hati-hati. Ya Allah mama benar-benar membutuhkan aku sekali. Kalau sampai aku bercerai dengan Mas Bara. Pasti Mama sangat syok sekali. “Mama bisa pipis di sini beneran?” tanyaku dengan melihat Mama lalu ke melihat toilet. “Iya, mama mau pipis di dalem aja,” jawab mama sambil menunjuk dengan dagunya. Mama menyuruh aku agar menemaninya di depan pintu. Pintu di tutup oleh mama sendiri. Aku menunggunya dengan sabar. Setelah aku mendengar suara air yang mengalir kini mama mbuka pintu dengan pelan. Aku langsung saja menggandeng lengan mama. Namun hidungku bisa langsung merasakan bau yang begitu menyengat. Mama pasti menyiramnya hanya sedikit saja. Nanti aku akan ke toilet lagi untuk membersihkan toilet. “Mama istirahat dulu ya, Bella mau ke toilet sebentar,” ucapku kepada Mama. Mama langsung mengangguk di atas kasur rumah sakit. Mama berbaring dengan pelan. Aku membernarkan infusnya yang tadi di bawa ke toilet. Kini aku segera menuju ke toilet dan langsung menyiram lantai sampai beberapa kali. Baunya sudah tidak menyengat lagi. Kulihat Mas Bara yang terbangun dengan wajah kesal. Aku rasa dia tidak suka kalau ada suara dan dia jadi bangun di jam dua malam ini. “Heh, jadi bangun kan aku. Nggak enak banget harus tidur di sini. Nggak betah tau nggak,” ucap Mas Bara dengan kesal. Mama hanya terdiam melihat anaknya..mungkin dia merasa bersalah kepada anaknya. Aku langsung saja mendekat ke Mas Bara yang kini duduk. “Jangan bilang gitu dong Mas. Kasihan kan ibu jadi merasa bersalah..kamu yang ikhlas aja kalau berbuat sesuatu,” ucapku dengan lembut..meski sebenarnya aku ingin sekali memarahi Mas Bara. Tetapi itu tidak mungkin karena ada Mama di sini. “Mama mau makan dong, laper nih,” ucap Mama dengan memegang perutnya. Wajahnya begitu manja. “Yaudah mama mau makan apa? Bella suapin buah mau?” tanyaku lembut. “Mama nggak mau makan buah. Mama pengin makan nasi goreng,” jawab mama dengan tersenyum seperti anak kecil. “Mas, kamu beliin mama nasi goreng ya yang ada di depan rumah sakit ini,” seruku sambil melihat Mas Bara. “Lah kok aku sih. Males banget. Kamu aja lah,” Mas Bara melihatku dengan kucel. “Ya nggak bisa dong Bara. Bella itu perempuan dan jam segini bahaya dong. Kamu aja sana cepetan,” kata Mama melihat Mas Bara. Mas Bara terpaksa langsung keluar ruangan dengan wajah sungkan. Aku hanya bisa duduk di sofa. Sementara ibu membuka-buka majalah. Entah apa yang di baca. Aku menelpon Mas Bara agar dia tidak marah lagi. “Mas?” panggilku dengan lirih. “Udah nasi goreng aja nih?” tanya Mas Bara dengan jutek. “Iya Mas, beli dua deh. Sekalian buat aku ya, Mas,” Setelah itu Mas Bara menutup ponselnya. Aku kembali menemani ibu. Aku duduk di kursi yang aku letakkan di dekat ranjang mama. Aku bermain ponsel dan mama membaca majalah. Setelah beberapa menit Mas Bara di tunggu lama sekali. Hampir dua puluh menit. “Kamu susul aja ya, si Bara,” seru mama dengan wajah kesal. “Yaudah, Ma. Aku susul aja kalau gitu. Mama tapi nggak papa sendirian?” tanyaku dengan lembut. “Ya nggak papa kok, udah sana kamu cepet ya susul jangan lama nanti kalau di sana. Mama udah laper banget kaya gini,” kata Mama mengomel. “kalau lama mama boleh makan biskuit dulu atau buah juga nggak papa kok ma,” ucapku sambil melihat meja. “Nggak mau ah,” “Yaudah Bella keluar dulu ya, Ma.” Aku Salim kepada mama. Kucium tangan mama dan keluar dari ruangan mama. Kakiku berjalan di lorong yang sepi. Ada dua orang yang duduk di kursi berbahan keras dan mengkilap. Lorong rumah sakit tampak lama aku lewati. Aku mencoba untuk berjalan lebih cepat. Kini aku berada di luar rumah sakit. Aku mencoba melihat lihat sekitar barang kali Mas Bara sudah terlihat jadi aku tidak usah keluar rumah sakit. Tak ada Mas Bara sama sekali. Pohon yang cukup besar membuatku sedikit takut. Tapi lampu lampu masih bisa menyala. Pohon di ujung sana memang tampak besar Kini aku mencoba berjalan untuk keluar dari gerbang. Saat kulihat gerbang tertutup dan tidak ada satpam yang berjaga. Aku pun langsung saja membuka gerbang itu dengan kuat dan akhirnya terbuka. Kini aku bisa melihat jalan raya yang terdapat lampu lampu. Meski sudah larut malam jam dua namun tidak terlalu sepi juga jalan raya ini. Aku melihat pedagang nasi goreng tetapi ketika aku mendekatinya..tidak ada sosok mas Bara. “Bang, tadi ada yang beli nggak disini? Orangnya tuh cowo dan agak botak gitu trs jambangnya tipis,” seruku kepada pedagang yang sudah berambut putih dengan menggunakan topi. “Oh iya tadi barusan beli. Terus Mas Mas itu jalan ke sana,” jawab pedagang itu. “Hah? Kok malah jalan ke arah lain bukannya masuk ke rumah sakit,” ucapku di dalam hati dengan kesal. “Yaudah makasih ya pak,” kataku kepada pedagang itu. Aku lalu menjauh dari gerobak nasi goreng dan segera menelpon Mas Bara di dekat gerbang rumah sakit. Mas Bara tidak menjawab telfonku. Ya Ampun. Kemana sih, Mas Bara? Apa jangan -janhan Mas Bara menemui Arum. Ya Allah, aku bener-bener nggak tahan kalau kaya gini. Akupun memutuskan untuk memesan nasi goreng satu untuk mama. Aku tidak mungkin mencari Mas Bara nanti mama malah kelaparan lagi. “Bang persen satu ya,” kataku melihat Abang Abang itu yang duduk. Sepertinya dia sedang tidur tadinya. Aku jadi tidak enak harus membangunkannya. “Oh i-iya iya neng, satu ya,” jawabnya sambil bergegas berdiri dan memasak nasi goreng untukku. “Tadi kayaknya mas mas itu telpon sama orang deh. Terus manggil sayang gitu. Emang bukan telfon sama Mbaknya ya?” tanya pedagang itu melihat ku sambil menggoreng nasi. “Bukan bang, bukan telfon saya,” jawabku dengan datar. Ya Tuhan, tuh, Kan benar. Mas Bara pasti ketemuan sama Arum. Gila ya, Mas Bara bener. Bener membuat aku muak sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN