11. ARUM SANG PELAKOR

1055 Kata
Aku berjalan menuju ke ruangan ibu. Aku berjalan dengan langkah cepat karena aku sangat kesal sekali dengan Mas Bara. Dia lebih mementingkan perasaan Arum di banding mamanya sendiri. Dasar Mas Bara bener-bener sudah gila. Tanganku membuka pintu dengan pelan. Ku lihat mama yang tersenyum menyambut kedatanganku. Mama pasti sangat tidak sabar untuk memakan nasi goreng. “Alhamdulillah akhirnya Mama bisa makan nasi goreng ini,” seru mama dengan wajah sumringah melihat aku membuka bungkus nasi goreng. Mama memakan nasi goreng dengan lahap. Lalu menanyakan kepadaku dimana Mas Bara. “Mungkin Mas Bara pulang ke rumah. Nggak tahu juga sih Ma. Soalnya Bella udah nelpon tapi mas Bara nggak ngangkat. Mungkin Mas Bara nggak nyaman ma,” ucapku dengan lembut sambil melihat mama yang lahap makan nasi goreng. “Hm, gimana sih Bara, masa kamu di tinggal disini sendirian,” gerutu mama. Setelah satu jam mama makan dan berbincang sedikit. Kini mama mengantuk dan akhirnya tidur. Aku yang sejak tadi memikirkan Mas Bara. Aku sama sekali belum bisa tertidur pulas. Pikiranku sungguh kacau. Bisa bisanya mas Bara selingkuh Sementara aku di sini harus menjaga mamanya sendiri. Paginya aku menemani mama untuk berjalan jalan di taman rumah sakit. Kata dokter sore nanti mama sudah boleh pulang. “Nanti kalau mama sudah pulang ke rumah. Mama jangan kecapean ya ma. Udah nggak usah masak lagi ma. Biar Marni sama aku yang masak,” ucapku dengan semangat. “Ya nggak bisa gitu dong sayang. Terus nanti kamu yang ngurusin Bella bakery siapa dong?” “Ada kok ma karyawan Bella,” jawabku dengan lembut. Aku mendorong kembali kursi roda mama. Pemandangan yang ada di depan kami berdua adalah rumput yang hijau dan pohon kelapa yang di kejar dengan rapi. Udara sejuk sangat terasa sekali. “Maaf, mbak ibunya mau di periksa oleh dokter terlebih dahulu,” ucap seorang suster yang tiba-tiba ada di pinggirku. “oh baiklah,” jawabku dengan singkat. Kini aku berjalan di belakang. Kulihat suster itu mendorong kursi roda ibuku. Setelah berjalan cukup banyak belokannya. Tapi akhirnya kursi roda sudah ada di depan ruangan. Mama masuk sementara aku tidak di perbolehkan Untuk masuk. “Halo?” aku menelpon Mas Bara. “Kamu dimana Mas?” tanyaku dengan cepat. Pasalnya Mas.Bara tidak pernah ada untuk mamsejak semalam pergi. “Kenapa emang. Aku lagi di luar rumah,” jawab Mas Bara. “Ya kesini dong mas. Mama ini lagi di periksa sama dokter dan nanti sore udah boleh pulang. Kamu sini dong jemput pake mobil,” kataku dengan tegas. “Aku nggak bisa kamu naik taksi online aja. Udah dulu ya,” kata Mas Bara lalu menutup telponnya. Aku menghembuskan nafas dengan kesal. Aku tidak mungkin membiarkan Mas Bara seperti itu. Aku yakin pasti dia sedang bersama Arum. Aku langsung saja berjalan menuju ke luar rumah sakit. Biarlah mama aku tingh sebentar. Karena masih ada suster disini. Sebelum keluar rumah sakit ini aku mengatakan kepada suster yang berjaga kalau aku nitip mama sebentar karen aku ada urusan. Setelahnya aku langsung berjalan keluar rumah sakit. Aku melewati beberapa pintu ruangan lalu ada beberapa orang yang duduk di luar ruangan. Ada seorang keluarga dan juga ada yang berpasangan ada juga yang berusia sangat tua. Kulihat mereka hanya diam dan tak ada raut wajah senang. Pantaslah mereka pasti memendam sedih di dalam hati dan hanya bisa bercakap dengan wajah datar. Aku harap mama akan baik baik saja setelah keluar dari rumah sakit ini nanti sore. Kini aku berjalan keluar rumah sakit. Aku berniat untuk pulang ke rumah. Aku yakin pasti di rumah ada yang bisa aku selidiki. Mungkin aku akan bertanya kepada Mirna. Aku menggunakan motor untuk pulang ke rumah. Karena mobil di gunakan Mas Bara. Padahal itu mobil uang patuangan aku sama Mas Bara. Setelah sampai di komplek rumahku tiba-tiba mobil Mas Bara kulihat sedang melaju. Aku langsung saja bersembunyi. Aku berniat untuk mengikuti mobil itu. Setelah mobil ini melaju melewati jalan yang tadinya aku jalan. Kini aku langsung saja mengendarai mobil dan mengikuti mobil Mas Bara. Sial, aku yakin pasti Mas Bara pergi ke rumah Arum. Aku melajukan motorku dengan cepat. Mob itu melaju dengan santai. Tapi aku berusaha untuk tetap jauh dari mobil itu aku juga tidak ingin ketahuan Mobil Mas Bara. Kini mobil Mas Bara berhenti di sebuah gerbang dan itu rumah cukup besar tetapi ketika aku lihat lebih detail rumah itu banyak pintunya. Ternyata itu adalah kos kosan. Jadi Arum selama ini tinggal di kos kosan. Dia tidak mempunyai rumah sendiri. Siapa sebenarnya Arum itu. Aku melihat mobil Mas Bara di parkir di dekat kos kosan itu dan kini Mas Bara keluar sambil membawa bunga. Ya Tuhan, apakah bunga itu untuk Arum. Ya Allah sakit sekali hati ini melihat semua yang ada di depanku saat ini. Mas Bara berjalan sambil membenarkan rambutnya yang tipis sekali. Dia juga mengusap dagunya dengan beberapa kali. Wajahnya sangat bahagia sekali. Senyum itu di berikan untuk Arum dan bukan untuk aku. Ya Tuhan bisa bisanya Mas Bara mengkhianati aku dengan sesakit ini. Kulihat Mas Bara yang membuka sebuah pintu dan kini dia menutupnya dengan rapat. Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lembut. Aku mencoba untuk menahan emosiku. Ya Tuhan, sabar-sabar. Aku menyentuh dadaku dengan lembut lalu mengelusnya. Aku berusaha sabar untuk rumah tanggaku ini. Aku mempertahankan ini semua karena aku sangat menyayangi mama yaitu ibu mertuaku sendiri. Aku hanya bisa berbalik arah dan mengendarai motorku kembali. Aku menuju ke rumah sakit. Kini aku tahu Mas Bara benar-benar sangat jahat kepadaku. Setidaknya aku sudah bisa mengantongi bukti jika Mas Bara selingkuh. Aku memfoto semua yang tadi aku lihat dan menyimpan di ponselku dengan baik. “Kamu kemana saja Bella?’ tanya mama denganw akan kesal. “Maaf ya ma, tadi Bella ke rumah sebentar untuk mengambil sesuatu dan Mas Bara juga tadi udah pergi kerja ma,” jawabku dengan berbohong. “Bara pasti sibuk sekali ya. Ya udah deh nanti sore kita naik taksi online aja untuk pulang ke rumah,” kata mama dengan bijak. “Iya ma, nanti Bella naik motor di belakang mobil mama,” kataku dengan tersenyum. Aku hanya bisa berbohong kepada mama. Sore hari mulai tiba dan kini aku dan mama sudah pulang ke rumah. Aku kaget sekali Mas Bara tiba-tiba sudah ada di rumah dengan wajah tersenyum. Aku benar-benar marah kepadanya namun aku hanya bisa memendam amarah ini. Dia tersenyum menyambut aku dan mama. Dia benar-benar licik sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN