Wajah pria berambut pirang itu seketika pucat. "Eh, Tuan ...." Ia memiringkan kepalanya.
"Ayo, cepat katakan, siapa yang telah menyogokmu!"
Terdengar bunyi letusan pistol dan sedetik kemudian, pria berambut pirang itu daddanya mengeluarkan darrah hingga kemudian roboh. Orang-orang di belakang Adrian Fiore tampak panik dan segera melindungi pria paruh baya itu dengan mengeluarkan pistol sambil melihat sekeliling.
"Cari, dari mana asalnya!" teriak Adrian.
"Dari atas, Tuan!" Salah seorang anak buah Andrian melihat ada cahaya yang memantul dari atap sebuah gedung tingkat lima.
"Kejar dia!"
Sebagian anak buah Adrian mengejar ke arah gedung itu, tapi tak lama ia mendapat kabar bahwa orang itu berhasil kabur. Pria yang tertembak itu juga tampaknya sudah mati.
"Brenggsek!" Adrian menghempaskan tangannya karena kesal. "Siapa yang ingin mengacaukan hidupku!? Hh!" Ia geram sambil mengangkat kepalan tangannya. "Berarti semua kembali ke nol lagi. Hh!" Ia meletakkan kedua kepalan tangannya di dahi. "Di mana kamu Alessandro!? Aku belum lama menamainya dan dia menghilang bersama Sophia. Hanya Sophia, istriku yang aku temukan sudah tak bernyawa, tapi aku yakin Alessandro masih hidup. Ya Tuhan ... semoga dia masih hidup agar saat pengangkatan penerusku yang masih beberapa bulan lagi, aku bisa menyerahkan kepadanya. Hanya dia keturunan Fiore yang aku harapkan." Ia menyatukan kedua tangan dengan menengadah ke langit.
Tak jauh dari sana, seorang wanita muda mengintip di kejauhan. Ia hanya melihat saja dengan wajah tanpa ekspresi, lalu kemudian pergi dari situ.
***
"Kakak beneran gak tau lagi harus bagaimana. Kontrakan ini hanya boleh dihuni satu orang lho, Tala." Lana berbaring sambil memandang langit-langit.
"Maaf, Kak," sahut Tala dari bawah. Ia tidur di lantai beralaskan selimut tebal dan guling di kepala. "Tapi kalau cari kerja dengan mengandalkan ijazah SMA, nanti hanya dapat kerja kasar. Mana gajinya minim lagi. Seandainya kuliahku selesai, pasti aku bisa kerja kantoran, Kak, bantu-bantu Kakak."
"Kamu harus realistis, Tala." Lana berbalik menyamping menghadap adiknya di bawah. "Orang tua kita korban kecelakaan, kita bisa apa? 'Kan gak bisa nyalahin takdir."
Tala melirik kakaknya di atas. "Iya, Kakak. Aku ngerti. Tapi ngak juga yang pergi jadi TKI di Thailand itu, kan, Kak karena lagi viral. Penipuan. Gak mungkin, aku iyain juga. Nanti pulangnya bisa-bisa tinggal nama lagi, repot. Tapi aku janji kok. Nanti aku cari kerja, Kak. Asal di Jakarta. Aku gak betah tinggal di kampung, soalnya Tante Yun kolot, susah diajak bicara."
"Ya, udah." Lana membalik tubuhnya ke posisi semula sambil menghela napas. Selama belum ketahuan pemilik kost-kostan, terpaksa ia membiarkan Tala tinggal di sana.
Pikirannya kembali menerawang ke kejadian tadi pagi. Pasti rasanya menyenangkan, menikah dengan orang kaya dan tampan seperti Fian. Namun, ia kembali mengingatkan diri sendiri bahwa tak baik mengganggu rumah tangga orang lain. "Kamu kalo kakak menikah dengan orang kaya demi uang, kamu rela gak?"
"Apa?" Ada jeda beberapa saat sampai terdengar suara tawa Tala. "Kak, jangan terlalu banyak baca novel online, jadi mengkhayalnya gak ketinggian."
Tiba-tiba wajah Lana yang sudah melepas kerudungnya, turun ke bawah membuat Tala terkejut. Rambut ikal panjang itu terurai ke bawah hampir menutupi wajahnya. "Kalo ada yang mau bagaimana?" Lana terlihat cemberut.
Tala kembali tertawa.
Lana menarik kepalanya dan kembali berbaring sambil melipat tangan di dadda. Mulutnya masih cemberut. "Kok gak percaya sih?"
Dan Tala masih tertawa.
***
Fian memfokuskan matanya ketika melihat pantulan cahaya dari jendela yang tertutup gorden tebal. Itu berarti istrinya sudah pulang. Sejak kecelakaan, Lynda tak lama minta pindah kamar ke lantai atas. Wanita itu bilang, tak tega melihat suaminya lumpuh dan ia kesulitan beristirahat. Setiap saat harus membantu Fian melakukan banyak hal. Bertepatan dengan itu pekerjaan istrinya juga makin banyak dilihat dari frekuensinya yang sering pulang malam. Fian pun tak tega mengganggu istirahat sang istri hingga menyewa perawat.
Fian berusaha menggerakkan roda kursinya sendiri karena perawatnya sudah tidur di jam segitu. Padahal sang perawat tidur di sofa tapi Fian tak ingin membangunkannya. Kursi roda bergerak hingga ke pintu dan ia ingin menyambut istrinya. Ia meraih ganggang pintu hingga pintu terbuka.
Terdengar suara Lynda yang sepertinya tengah menelepon. "Dia? Untuk apa dipikirin. Dia mana tau apa yang aku kerjakan di luar sana. Lagipula dia lumpuh, dia takkan tahu kalau istrinya mengkhianatinya."
Fian syok! Bola matanya melebar sempurna. Niat hati ingin membuka lebar-lebar pintu, tangan pria itu terhenti dan pelan-pelan mendorongnya kembali. Lynda tak boleh melihat kalau ia tengah mendengarkan sendiri pengakuan pengkhianatannya. Tak boleh sampai ketahuan!
Terdengar suara langkah sepatu menaiki tangga. "Iya. Nanti kalau aku sudah di Paris, kita bisa lebih bebas lagi. Kamu bisa bolak-balik ke apartemenku, kalau kamu mau."
Fian mengepalkan kedua tangan. Geram, marah, sedih, hancur, semua jadi satu. Tak terasa air matanya meleleh. Terdengar tawa istrinya yang membuat hatinya semakin sakit. Ia kecewa. Wanita itu dibela mati-matian sejak pacaran hingga menikah dari orang tuanya yang tidak menyetujui pernikahan mereka, kenapa wanita itu dengan mudahnya mengkhianati kepercayaannya? Apa karena dirinya lumpuh?
Fian mengamuk dalam diam sambil memukkul-mukkul kakinya. Bahkan isak tangisnya pun ia tahan agar tak bersuara. Betapa penyesalan ini benar-benar menyakitkan. Ia begitu percaya pada Lynda. Mencintainya. Kenapa istrinya tega melakukan itu di belakangnya?
Kedua tangannya menahan kepala. Urat-urat dileher menonjol karena menahan amarah. Ia hampir gilla. Lalu siapa lagi yang bisa ia percaya?
***
"Bu, sudah." Hawari menepuk-nepuk bahu istrinya.
Sarah tampak masih kecewa. "Harusnya kita menentang pernikahan mereka sampai mereka tak menikah. Kenapa kita mengalah waktu itu?"
"Kita 'kan bukan orang tua yang otoriter. Berdoa saja agar Fian dibukakan matanya dari perempuan seperti itu."
"Ibu sampai sekarang masih bingung, kenapa orang sereligius Fian bisa jatuh cinta pada wanita yang suka mengumbar tubuhnya begitu."
"Tentu saja untuk mengubahnya, dong!"
Sarah menatap suaminya yang selalu saja optimis. Ia kadang bingung kapan pria ini pernah bersedih. "Fian sudah dewasa, tapi dia juga lumpuh. Kalau dia tidak sembuh, kita tidak perlu menyuruhnya mencari orang tua aslinya, 'kan?"
Hawari meraih tangan istrinya. "Kita tidak bisa menahan yang bukan hak kita. Biarkan dia bertemu orang tua kandungnya. Setelah itu, terserah Fian saja."
Tiba-tiba terdengar dering telepon. Hawari terkejut melihat nama Fian di ponselnya. "Halo."
"Halo, Ayah. Aku memikirkan tawaran Ayah. Kalau aku ingin menikah dengan Lana, bisakah itu dilaksanakan besok?"
"Apa?"
***
Sejak tadi Tala terus menatap wajah kakaknya, tak percaya. Lana duduk di sebelah pria berkursi roda sambil kepalanya tertunduk mendengarkan orang bicara. Ia memakai gaun hijab pengantin sewaan berwarna kuning gading sedang yang pria hanya memakai jas berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu di lehernya. Meski begitu, keduanya memakai pakaian yang tidak murah.
Apa yang dikatakan Lana menjadi kenyataan. Bisakah Tala kembali tertawa?
"Sah, ya!"
Fian mengangguk pada penghulu. "Terima kasih."
Tiba-tiba dari arah pintu depan, masuk Lynda dan melihat ke arah keramaian. Ia juga melihat suaminya di sana bersama wanita dengan wajah berjerawat itu. Ia kaget. Lynda datang dalam keadaan terperangah. Ia mendekati Fian. "Ada apa ini?"
"Masa kamu tidak tahu?" Fian tersenyum dengan wajah tenang. Ia menoleh pada Lana. "Kenalkan. Dia istriku yang baru, Lana." Pria itu menarik dagu istri barunya dan menempelkan kedua bibir mereka!
Bersambung ....