Bab 2. Bertemu Lagi

1125 Kata
Lana menunduk dan berpikir. "Apa aku boleh menolaknya? Tapi sepertinya sulit dan aku sangat butuh pekerjaan ini. Kalau saja Atala tidak kabur dari rumah Tante, aku tidak akan pusing begini. Aku bisa cari pekerjaan lagi, dan ...." "Bagaimana? Aku hanya ingin Fian ada yang mengurus. Syukur-syukur kalau ternyata kalian saling suka dan perkawinan ini berumur panjang." Lana mengangkat kepalanya. "Berarti aku akan jadi duri dalam pernikahan mereka. Aku tidak ingin merebut suami orang. Begitu pun aku, tak ingin berbagi suami. Ini pilihan sulit. Lalu, aku harus bagaimana?" Tiba-tiba ia tersadarkan akan sesuatu. "Apa Pak Fian setuju?" Pasti nggak, kan? "Kalau kamu setuju, ayo kita sama-sama ke rumah Fian," ucap Hawari dengan senyum lebar. "Eh?" Lana kebingungan. Ia belum bilang iya, tapi sudah diajak pergi. Mau tak mau ia terpaksa mengikuti presdir dan istrinya hingga ke mobil. Ia duduk di depan dengan perasaan resah sambil terus meremmas tangannya dengan gelisah. Fian pasti menolaknya, 'kan? Mobil akhirnya sampai pada sebuah rumah mewah berlantai dua dengan interior minimalis. Sambil mengagumi rumah besar itu, ia masuk mengikuti pasangan suami istri itu. Seorang pembantu membawa mereka ke ruang tengah dan mereka duduk di sana. "Oh, Ayah ... Ibu ...." Seorang wanita cantik mengenakan celana jeans ketat dengan kemeja putih tanpa lengan keluar dari kamar di lantai dua. Kakinya yang jenjang melangkah dengan lincah menuruni tangga. Bukan pertama kalinya Lana melihat istri Fian yang tinggi dan cantik itu, tapi tetap saja ia kagum pada tubuh ramping wanita itu yang sangat terkenal sebagai model papan atas di Indonesia. Wanita indo ini memang sedang menapaki kariernya sebagai model internasional, jadi tidak aneh bila wanita itu mulai sibuk dengan wawancara TV dan kegiatan modelling lainnya. "Kamu sekarang pindah ke atas?" tanya Sarah, istri Hawari dengan dahi berkerut. "Oh, aku punya banyak barang, jadi harus punya kamar satu lagi. Lagipula, ini agar Mas Fian bisa istirahat." Dari sebuah kamar di lantai satu, muncul Fian yang duduk di kursi roda didorong oleh seorang pria yang berpakaian perawat. Lana kaget melihat Fian tampak kurus dengan wajah muram. Walaupun begitu, pria itu berusaha menyambut kedua orang tuanya walau dengan wajah datar. "Fian." Sarah tampak khawatir. Di lain pihak, Lynda istri Fian, dengan santainya memilih tempat duduk. "Ibu, ada apa ke sini? Aku sebentar lagi mau pergi, Bu. Kalau ada yang mau dibicarakan, cepat saja karena aku tidak mau terlambat ke studio." "Ibu tidak ada pembicaraan penting, 'kan? Biarkan saja Lynda pergi, Bu. Dia belakangan ini lagi banyak kerjaan." Fian membela istrinya. Sarah bingung harus bilang apa pada Fian. Ia kemudian melirik suaminya agar bisa membicarakan hal ini selagi ada istri Fian di sana. "Yah!" Fian juga sempat bingung dengan kehadiran Lana di sana. Bukankah Lana pegawai mereka? Kenapa wanita itu ikut dibawa ke rumah ini? "Fian," sahut Ayah. "Karena istrimu jarang ada di rumah, maka ayah bawa Lana untuk membantumu di rumah." "Apa?" Fian terkejut dan hampir tertawa. "Ayah ini bagaimana? Aku 'kan sudah bilang itu tak mungkin. Aku bukan muhrimnya." "Tapi kamu butuh perempuan untuk membantumu? Bukankah kemarin-kemarin kamu juga mengeluh tidak nyaman hanya punya perawat laki-laki?" "Ya, tapi ...." "Kalau tidak nyaman, menikah saja dengan Lana." "Apa?" Fian melirik Lana yang tampak berusaha melihat ke arah lain karena takut. Ide ini hampir membuatnya gillla. "Ayah ...." Terdengar tawa Lynda. Semua orang menatap ke arahnya. "Oh, maaf. Teruskan saja, Honey." Ia mulai menutup mulutnya. "Aku sudah menikah, Ayah. Tak mungkin aku mengkhianati Lynda!" Entah kenapa hati Lana terluka. Hari ini sudah dua pria yang menolaknya demi pasangan mereka. Apalagi kalau bukan wajahnya yang jelek dan jerawatan ini penyebabnya. Memang tidak ada seorang pria pun yang menginginkan wanita seperti dirinya. Miskin, boddoh, jelek dan yatim piatu. "Ah, ini hanya nikah kontrak saja selama satu tahun sampai kamu benar-benar pulih kembali. Ayah pun akan membayar Lana untuk mengurusmu. Murni mengurusmu, itu saja. Setelah kau sehat, kalian 'kan bisa bercerai," bujuk Hawari. "Ayah, pernikahan itu bukan tempat main-main, Ayah!" sahut Fian kesal. "Ayah, tahu. Karena itu ayah akan bayar Lana satu milyar sebagai kompensasi sekaligus bayarannya karena mengurusmu. Bagaimana?" Hawari mengucapkannya dengan suara rendah karena tahu, Fian sangat keras kepala. Sangat sulit untuk membujuknya saat ia sudah memutuskan sesuatu. Fian menatap sang ayah. Ia menentangnya tapi ia juga menghormati kedua orang tuanya. "Ayah lebih baik pulang saja. Tak ada gunanya Ayah bujuk aku. Aku tidak akan menerimanya." Hawari melirik istrinya yang tampak kecewa. Ia kembali menatap Fian, pria tampan berkulit putih, yang wajah putihnya kini malah membuat Fian tampak pucat. Tiga bulan ini, Fian tidak pernah keluar rumah hingga warna kulitnya jadi seperti itu. "Ya, sudah. Ayah, pulang dulu, tapi tolong pikirkan perkataan ayah." Fian hanya diam karena ia masih kesal. Hanya Lynda yang mengantar kedua orang tua Fian sampai ke mobil. Saat Lynda kembali, Fian menatapnya dengan kecewa. "Kenapa kamu tidak marah?" "Marah? Marah kenapa? Toh, kamu sudah menolaknya. Ah, sudahlah. Aku bisa telat kalau tak buru-buru," ucap wanita berambut panjang sampai sikut itu. Ia mengibas rambutnya dengan tengadah dan menggoyang-goyangkan kepala. Rambutnya bergerak bergelombang dan tampak indah terurai. "Bagus 'kan rambutku. Aku dapat iklan shampo lagi seperti tahun lalu, jadi aku harus berangkat sekarang." Lynda bergerak ke tangga tapi kemudian berhenti dan memutar kepalanya ke belakang. "Oya, jangan tunggu aku karena aku pulang malam. Aku mau ketemu manajerku karena mau diskusi soal kontrak." Fian hanya melihat saja istrinya naik tangga. Ada rasa gagal sebagai suami karena tak bisa menemani istrinya, juga tak bisa mencari nafkah. Namun, yang lebih menyedihkan, dirinya kesepian karena Lynda tak bisa menemaninya sekalipun saat ia tengah sakit begini, walaupun berulang kali ia katakan pada diri sendiri, ia tidak boleh menghalangi karir sang istri yang sedang cemerlang sekarang ini. Di mobil, Lana menengadah melihat ke arah cermin kecil di atasnya. Ia bisa melihat sang presdir bersama istrinya duduk di belakang. "Pak." "Iya?" Hawari menyahut. "Eh, Saya boleh pulang sebentar gak, Pak? Saya ada urusan." "Oh." Hawari yang sempat melamun kini fokus. "Eh, tentang Fian. Dia belum memutuskan. Kita lihat lagi beberapa hari ini." Pria itu tampak kecewa. Namun, kemudian ingat pertanyaan Lana. "Oya. Biar kamu diantar saja ke rumahmu. Kamu tinggal di mana? Hari ini kamu libur juga tidak apa-apa." Suasana terlihat kaku. Lana saja sampai bisa merasakan kekhawatiran Hawari pada anaknya. "Eh, iya, Pak. Terima kasih." *** Seorang pria bule berambut pirang berjalan sendirian ke arah mobilnya. Tiba-tiba ia didatangi seorang pria bule paruh baya bertubuh sedikit gemuk dengan beberapa pria di belakangnya. "Hei, berhenti!" Pria bertubuh gemuk itu bicara dalam bahasa Itali. Pria berambut pirang itu kaget. "Tuan Fiore?" Pria paruh baya itu mengeluarkan pistol dari balik jasnya. "Beraninya kamu menipuku, hah!? Kau memalsukan DNA orang itu, 'kan?" Pria berambut pirang itu kaget dan ketakutan. Ia sampai mengangkat kedua tangannya. "Tuan Fiore, Anda salah paham." "Salah paham gimana? Aku punya bukti, kamu memalsukan DNA orang itu. Orang itu bukan anakku!" Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN