PKN

1434 Kata
“Aduh bagaimana ya. Aku cuman gamau menimbulkan masalah dan menyelesaikan PKN dengan cepat” balas Hanum “Udah ayo cepat. Kelamaan” ucap Aditya dengan menarik tangan Hanum dengan pelan Hanum sebenarnya bimbang karena sebenarnya dia harus bersikap profesional. Dia juga tidak bisa menolak ajakan Aditya sebagai atasannya. Setiap pegawai yang berpapasan selalu menundukkan kepala ketika berpapasan dengan Aditya. Namun dia juga merasa aneh berada di samping nya. *** “Mau pesan apa?” tanya Aditya “Aku terserah pak Aditya saja mau makan apa saya ngikut” jawab Hanum pelan sambil memperhatikan sekitar “Kamu cari apa?” tanya Aditya menyelidik “Ngga. Cuman takut kalau ada orang kantor yang memperhatikan” jawab Hanum sambil tetap melihat kanan kiri Aditya hanya tersenyum melihat kelakuan lucu Hanum. Ia juga tidak sadar bahwa sudah tersenyum. “Gadis ini juga memiliki kepribadian yang lucu ketika diperhatikan” batin Aditya Makanan didepan mereka sudah tersedia dan begitu banyak. Hanum tidak menyangka kalau Aditya memesan begitu banyak. “Kenapa pesan begitu banyak kalau hanya untuk berdua?” tanya Hanum “Kamu bilang terserah. Aku ga tau selera kamu jadi pesen banyak sekalian, kamu bisa pilih” jawab Aditya “Yaudah kalau begitu suruh pengawal kamu makan bersama saja. Kita ga mungkin bisa menghabiskan makanan sebanyak ini.” Pinta Hanum “Udah makan saja, lagian kalau aku kembali ke kantor. Mereka juga pasti akan makan di kantin kantor kok” jawab Aditya “Ngapain. Udah cepet suruh mereka kesini. Kalau ngga aku sendiri yang panggil” ucap Hanum Tidak ada respon dari Aditya, Hanum mengira Aditya sudah setuju. Hanum pun menghampiri pengawal Aditya. “Pak silahkan kemari kita makan bersama” pinta Hanum ke dua pengawal tersebut “Ngga usah Nona kami menunggu disini saja. Kami nanti makan di kantin saja” jawab kedua pengawal berbadan tegap tersebut “Ih ngapain. Udah ayok. Lagian kita juga ga habis makan sebanyak itu daripada mubadzir. Ayok cepet, saya lapar nih. Bos kalian juga sudah mengiyakan. Tenang saja” ucap Hanum “Baik Nona terimakasih” sambil mengikuti Hanum dari belakang Aditya mencermati Hanum yang makan. Ia tak mengira Hanum tidak sungkan makan bersama pengawal dan takut akan membuang makanan. Biasanya gadis diluar sana yang pernah ditemui Aditya hanya suka makan berdua saja dengannya. Setelah makan siang bersama Hanum langsung mengucapkan terimakasih ke Aditya. Ia juga pamit untuk kembali ke ruangannya. Aditya mangangguk menandakan menyetujui permintaan Hanum. *** Hanum pulang kerumah. Ia berpikir baru dua hari PKN saja, dia sudah merasakan pusing karena kejadian yang tak disangka. “Assalamuailakum” ucap Hanum memasuki rumahnya “Walaikumsalam. Sudah pulang nak?” sapa Ibu kepada Hanum “Sudah Bu. Hanum capek keatas dulu ya.” ucap Hanum “Iya bersih-bersih dulu. Nanti jangan lupa turun makan malam” balas bu Rita “Iya Bu” ucap Hanum Setelah bersih-bersih. Ia langsung sholat Mahgrib. Kemudian melihat layar hp nya. Disana ia melihat notifikasi di HP nya. “Num, weekend kemana?” pesan singkat dari Lukas “Ngga kemana-mana. Gue mau cari referensi skripsi mumpung libur” jawab Hanum “Drrttt...drrrttt...drrrtt” suara HP Hanum bergetar Terlihat nama Lukas. Hanum langsung mengangkatnya. “Iya Kas” ucap Hanum dengan suara lembut “Num, jalan jalan yuk weekend kemana gitu” rengek Lukas kepada Hanum “Mau kemana?” tanya Hanum “Kita ke pantai yuk. Lama kita ga kesana. Ntar kita nongkrong di kafe pinggir pantai favorit kita. Ya... yaa” ucap Lukas merengek “Yaudah deh” jawab Hanum malas “Oke Sabtu gue jemput ya” “Hemm” sambil menutup telepon Hanum tidak berani untuk langsung menolak, mengingat Lukas sering membantu nya dalam pekerjaan kampus apapun. Bukan hanya itu, Lukas juga selalu ada di setiap Hanum minta tolong. *** Weekend pun datang. Sabtu pagi pukul 10.00, Lukas menjemput Hanum di rumahnya. Ia langsung disambut oleh Bu Rita “Assalamualaikum Tante Rita...” ucap Lukas sambil mencium punggung telapak tangan Bu Rita “Walaikumsalam. Masuk dulu Kas sini.” Pinta Bu Rita mempersilahkan “Iya Tante. Hanumnya ada?” tanya Lukas “Ada. Sebentar tante panggilin ya? Oh iya mau minum apa Kas?” tanya bu Rita “Gausah repot-repot Tante. Ini mau berangkat juga soalnya” jawab Lukas “Mau kemana Kas?” selidik Bu Rita “Mau ke pantai Tan, mau healing dulu. Soalnya akhir akhir ini sibuk PKN sama skripsi” jelas Lukas “Oh gitu. Iya nanti kalau bisa sore udah pulang ya. Soalnya mau ada tamu kesini jadi kita mau pertemuan keluarga” pinta bu Rita “Siap tante.” jawab Lukas Sebenarnya Lukas penasaran siapa yang mau datang. Namun ia tak berani bertanya. Tak berapa lama kemudian Hanum turun dari tangga. “Eh kas. Udah dari tadi?” tanya Hanum “Ngga kok barusan” jawab Lukas sambil melihat cantiknya Hanum menggunakan dress berwarna peach yang sempurna dengan kulit putihnya. “Yuk. Bu, Hanum sama Lukas berangkat dulu ya.” pamit Hanum “Iya. Hati-hati ya. Pulang sore ya. Ingat kan pesan Ayah nanti ada acara” sambil menghampiri Lukas dan Hanum “Oke Bu. “ balas Hanum *** Sesampainya di pantai, Hanum langsung terpesona dengan pemandangan yang disuguhkan. Ia sudah lama tidak mengunjungi pantai. Ia seperti anak kecil yang polos bermain pasir dan ombak. Lukas memperhatikan Hanum. Dia bahagia melihat Hanum yang bahagia. “Kas, ngapain bengong?” Ayo sini. Seru tau” ucap Hanum sambil melambai-lambaikan tangan ke Lukas “Iya” balas Lukas sambil menghampiri Hanum “Ih ngapain kesini kalau lu takut air” ucap Hanum sambil memercikan air ke arah Lukas “Iya bawel. Ah awas ya” jawab Lukas sambil mengejar Hanum Setelah capek bermain, mereka berdua memutuskan untuk pergi ke kafe favorit mereka yang berada di pinggiran pantai. Pemilik kafe sudah mengenal mereka dengan baik. Bahkan pemilik kafe juga menjodohkan mereka berdua. “Bu, es kelapa 2 yaa sama snacknya kentang goreng. Jangan lupa kepiting saus tiram dan udang krispi nya” pinta Hanum “Siap Num” jawab pemilik kafe tersebut santai seperti dengan teman sendiri Hanum dan Lukas duduk di tempat yang lansung melihat ke arah pantai. Disana mereka menikmati pemandangan pantai. Udara juga sangat sejuk. Hari itu cuaca juga teduh tidak terik. “Num, kamu bahagia?” tanya Lukas “Iya. Kenapa lu tanya hal aneh sih, Kas?” Jawab Hanum, karena sebelumnya Lukas tidak pernah bertanya hal seintim ini Lukas langsung menoleh ke arah Hanum dengan tatapan serius. Seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan. “Num. Aku mau nanya deh” ucap Lukas “Apa?” jawab Hanum “Kamu selama ini ke aku bagaimana?” tanya Lukas “Apaan sih Kas” jawab Hanum bingung “Aku serius num. Selama ini aku yakin kamu pasti tau kalau aku ada perasaan ke kamu. Semua yang aku lakuin dan perhatian yang kuberi juga bisa dibilang lebih dari seorang sahabat kan, Num” tatap Lukas ke Hanum “Kas, kamu tau ngga hal yang selama ini aku takutkan adalah seperti ini. Aku takut kamu menuntut lebih. Apa kamu tau? aku suka kamu sebagai sahabat agar kita selama ini bisa bersama terus. Kelak jika status mu menjadi pacar, jika kita putus, aku yakin kita tidak akan pernah kembali ke persahabatan kita yang dulu” ucap Hanum lembut sambil menatap Lukas dalam. “Iya aku tau tapi aku tidak bisa selalu memendam perasaan ini. Kamu terlalu berpikir jauh Num jika memikirkan perpisahan kita kelak sebelum memulai. “ jawab Lukas meyakinkan “Terus kamu mau apa. Apa kamu tidak merasa canggung? Sahabat lebih nyaman bukan daripada suasana seperti ini. Rasanya aneh.” ucap Hanum “Aku tidak akan mundur Num. Aku baru memulai. Lebih baik aku mengungkapkan ini daripada terus memendam. Setidaknya aku tidak akan menyesal di kemudian hari.” jelas Lukas Hanum terdiam. Ia bingung akan menjawab apa. Karena jujur ia kaget dengan kata-kata Lukas. Sejenak mereka terdiam. Lukas akhirnya membuka pembicaraan. “Num, aku tidak meminta jawaban mu sekarang. Aku lega karena bisa mengungkapkan perasaan ku padamu. Kamu boleh menjawab kapan saja saat kamu sudah siap. Tapi aku tidak bisa menunggu lama Num. Kamu pasti tahu maksud aku.” Pinta Lukas kepada Hanum Setelah itu mereka memutuskan pulang, karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Tadi Bu Rita juga pesan agar pulang sore. Sepanjang perjalanan, Hanum dan Lukas terdiam. Mereka dalam keadaan sangat canggung. Ini adalah pertama kalinya mereka merasakan atmosfer yang berbeda. Hanya lagu yang sengaja diputar untuk setidaknya meredakan situasi sunyi didalam mobil saat ini. Sesampainya di rumah. Didepan sudah terpakir dua mobil mewah. Hanum berterimakasih kepada Lukas karena sudah mengajaknya jalan-jalan hari ini. Namun Lukas memilih mengantarkan Hanum sampai dalam rumah serta pamit ke Om dan Tante.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN