12. Suit Room

1060 Kata
N melakukan pengintaian selama seminggu penuh pada keseharian July baik di kantor, atau pun aktivitas luar rumah lainnya. Dengan siapa bertemu, kedekatan hubungan, kebiasaan dan pola hidup menjalankan rutinitas harian July. Juga sudah bagian dalam pekerjaan N untuk menghafal keterkaitan hubungan July dengan orang-orang di lingkup sekitarnya. Hasil pengamatan N pada keseharian hidup July Foster.  Kedua orang tua sudah meninggal dunia dan kini tinggal seorang diri di unit apartemen berjarak dua kilometer dari kantor. Bekerja di perusahaan ternama multinasional dengan posisi eksekutif. Tengah menjalin hubungan rahasia dengan Argus, rekan kerja sekaligus senior di almamaternya. Memiliki sejarah hubungan panjang dan rumit bersama Argus. Hingga saat ini rasanya hubungan mereka juga tidak akan berjalan lancar karena terhalang restu keluarga. Meski entah apa yang terjadi pada masa lalu mereka, N tidak bisa menggali informasi sedalam itu untuk saat ini. July memiliki kepribadian yang tertutup, tidak ada hobi atau minat secara khusus pada suatu hal. Yang dapat dilihat dengan jelas adalah giat bekerja dan hanya perduli pada urusan karir-pekerjaan.  Rutinitas hariannya berputar selalu sama, dari rumah ke kantor lalu kembali ke rumah lagi. Tidak pernah bergaul dengan rekan kerja atau pun teman-teman di luar pekerjaan. Bahkan meski tengah menjalin hubungan bersama Argus, keduanya jarang terlihat menghabiskan waktu bersama. Satu lagi fakta menarik, July sudah langganan menjalani kencan buta yang diatur oleh tantenya selama ini. Padahal July sudah punya pasangan tapi entah kenapa ia merahasiakan itu dari keluarganya. Ya pada poin itu lagi N tidak memperoleh jawaban. Jadi bisa dikatakan N sudah mengenal July selama seminggu ini. “Sungguh hanya itu? Apa yang kau ceritakan itu sudah semuanya?” “Benar.” N hanya menceritakan bagian Argus datang ke perusahaannya, bukan tentang pengintaian yang dilakukannya pada kehidupan July selama satu minggu penuh. Mana ada stalker yang mengakui perbuatannya sendiri, bagaimana pun mengintai itu perbuatan buruk bisa dituntut secara hukum. “L-Lalu kenapa kau lakukan itu? Kenapa kau menciumku! Itu tidak ada dalam perjanjian, jelaskan!” N tersenyum tipis, kelepasan saat mendengar July membahas kejadian kecil tadi setelah mereka mengucap sumpah janji setia. “Apa Nona sungguh mempermasalahkan hal kecil seperti itu sekarang?” “Maksudmu apa dengan hal kecil?” Protes keras July. “Yaa hal kecil, maksudku Nona bukan anak kecil lagi untuk mempermasalahkan hal sepele seperti kecupan―” “H-Hal sepele! Apa kau sudah selesai bicara?” July berpikir apa sesusah itu N meminta maaf atas perbuatannya pada July yang mana tanpa persetujuan lebih dulu. Apa hanya itu yang bisa N jelaskan. “Nona, saat itu saya mengambil tindakan yang sangat diperlukan untuk menjalankan peran saya. Dan saya sudah bertoleransi memikirkan posisi Nona dengan mencium nona bukan pada bibir―” “Cukup!” Mungkin yang tidak diketahui atau kekurangan dari informasi N kumpulkan selama seminggu adalah July memiliki trauma dengan laki-laki. Bahkan dengan Argus sekalipun hubungan July bisa dikatakan menjalani cinta platonik orang menyebutnya, tentu hal ini daro sudut pandang July seorang. Mungkin memang sejak peristiwa ditinggalkan oleh Argus, July mulai memiliki gejala tidak bisa bermesraan intens secara fisik dengan lawan jenis. Argus tahu July selalu menghindari atau menolak tegas kontak fisik yang mengarah kepada gairah panas. Tapi Argus tidak tahu July mulai seperti itu sejak berpisah dengannya. “Maaf, Nona baik-baik saja?” N sungguh tidak mengerti kenapa July bisa sampai semarah dan terbawa emosional begitu hanya karena sebuah ciuman ringan. July terdiam, mencoba menenangkan diri dan mengontrol emosinya. “Kalau begitu sekarang, apa pekerjaanmu sudah selesai?” “Benar.” “Kalau begitu kau bisa pergi.” N merasa bingung karena tiba-tiba July mengakhiri pembicaraan mereka. “Nona sungguh tidak apa-apa?” Tanya N cemas. “Tinggalkan aku sendiri, pergi!” Bahkan July tidak menatap N saat memintanya pergi. Sementara N masih memperhatikan July dengan seksama karena merasa cemas. Banyak kasus terjadi pada seseorang yang mengalami situasi seperti July memilih jalan nekad untuk mengakhiri hidup. Itu yang N pikirkan, berputar dalam benaknya. Ragu untuk meninggalkan July seorang diri, tapi ia memang tidak bisa lebih lama berada di sana. Perjanjian kontrak hanya berlaku satu hari dan tidak ada yang dapat N lakukan lagi untuk July meski tetap berada di sana. N bangkit berdiri, melangkah pergi. “Aku hanya minta satu hal saja... Kita jangan pernah bertemu lagi.” Tutur July dengan suara lemah namun tetap bisa N dengar dengan jelas. Pintu kamar hotel terbuka lalu tertutup kembali, kini hanya ada July seorang diri dalam keheningan di kamar hotel. Dengan segala macam pemikiran bersarang di benaknya, terasa penat namun hatinya hampa. July sama sekali tidak menyadari bahwa ponselnya sejak tadi sibuk dengan panggilan atau pun pesan dari orang-orang yang coba berkomunikasi dengannya. Salah satunya dari sepupu July termuda―Pansy. Dalam pesan singkat Pansy memberi kabar pada July. “Jangan kaget jika kau telah kembali dari liburan bulan madu nanti! Saat ini seluruh keluarga tengah mengadakan rapat genting, Mom memutuskan hal besar tentang... Ah sudahlah! Begitu kembali kau juga akan segera tahu.” Akhir isi pesan dari Pansy. Entah apa yang coba disampaikannya dari muatan pesan yang memiliki banyak kekurangan informasi itu. Tapi pesan itu tenggelam oleh pesan-pesan lain yang berdatangan ke ponsel July, mulai dari teman, rekan kerja yang mengucapkan selamat atas pernikahannya dan permohonan maaf karena tidak bisa menghadiri undangan July. Dan satu nama lagi dari seorang yang sejak siang tadi July cari keberadaannya―Argus. *** Di waktu bersamaan pada sisi lain. Argus berada di lobi hotel tempat di mana seharusnya ia dan July menghabiskan bulan madu mereka bila sesuai rencana awal. Argus tampak gelisah mencoba dengan putus asa untuk menghubungi July pada ponselnya, namun masih belum berhasil. Hanya nada sambung yang terdengar berulang tanpa jawaban. Lewat pesan atau pun panggilan langsung segala cara sudah Argus coba lakukan. Yang ia takutkan adalah July sengaja mengabaikannya atas segala perbuatan dan kesalahan yang dilakukan Argus hari ini. Bagaimana Argus bisa menjelaskan alasan, pembelaan diri atas posisinya pada July bila July tidak memberinya kesempatan untuk bertemu. Argus tahu ini tidak akan mudah, bahkan lebih buruk dari perbuatannya di masa lalu. “July... Kumohon angkatlah...” Gumam Argus pada dirinya dalam ketidakpastian. Argus sama sekali tidak akan melepas July pergi untuk kedua kali. Argus tidak akan meninggalkan July meski July memintanya untuk enyah dari kehidupannya. Bila perlu Argus akan menjadi parasit bagi July, memohon padanya, membuntutinya sampai July mau menerimanya kembali. Seperti saat mereka memulai kembali hubungan yang pernah kandas. Argus akan menggunakan segala cara untuk bisa kembali bersama July. ***upcoming
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN