Evan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut berkali-kali lipat. Ia tidak bisa fokus pada meeting hari ini di Amsterdam. Pikirannya terlalu larut dengan si kembar Sena dan Sean yang ia tinggalkan untuk pekerjaannya di Amsterdam begitu saja dan hanya Evan titipkan dengan asisten rumah tangganya. Sedangkan sekarang, bik Sri –asisten rumah tangga- ingin izin pulang kampung karena anaknya akan menikah di kampung. Lalu Evan tidak bisa langsung pulang ke Indonesia dengan pekerjaan yang belum selesai di Belanda. Evan berkali-kali menatap layar ponselnya. Bingung ingin meminta bantuan dengan Raysa atau tidak. Meminta bantuan Raysa untuk menjaga Sena dan Sean. Ini mungkin terdengar egois, tidak berperasaan dan bodoh. Tetapi Evan tidak punya pilihan lain. Tidak ada yang akan menjaga Sena dan Sean

