Chapter 1
1 januari 1999 adalah hari dimana Rasya Humaira dilahirkan. Ia dilahirkan dari pasangan orang tua yang sangat menginginkan kehadirannya. Karena sejak dua tahun menikah pasangan ini barulah mempunyai Rasya.
“Yah, kayaknya ibu mau melahirkan” ucapnya dengan sang suami.
“Ya sudah kalau begitu kita berangkat ke rumah sakit sekarang” ucap suaminya sembari menelpon ibunya.
Tak butuh waktu lama mereka semua pun tiba di rumah sakit Datuberu (salah satu rumah sakit yang ada di kota itu).
Ibu Rasya langsung dibawa ke ruang operasi karena tidak bisa melahirkan secara normal.
Semua keluarga menunggu proses persalinan sambil berdoa kepada Allah supaya dimudahkan prosesnya.
“ Ya Allah lancarkan persalinan anakku, selamatkan cucu pertamaku ya Allah” Ucap nek Intan yang duduk di kursi sembari berdoa kepada Allah.
Setengah jam kemudian, bayi mungil itu pun telah lahir ke dunia. Bayi itu pun langsung diambil oleh ayahnya untuk di iqamah (iqamah itu untuk bayi perempuan yang baru).
“ Allahu akbar allahu akbar, asyhadualla ilaha illaulahu, asyahuanna muhammadar rasullulah, hayya ala shala, hayya ala fala, qadka matif shalahu qadka matif fala, allahu akbar allahu akbar, la ilahaillahu” pak Zeni yang meng iqamahkan di telinga putrinya “Alhamdulillah ya allah terimakasih atas hal ini”
“Alhamdulillah ya allah akhirnya proses persalinannya selesai” ucap Ulfa adik ibunya bayi.
Setelah di iqamah bayi perempuan itu pun di masukkan ke inkubator karena tubuhnya yang terlalu kecil.
Keesokan harinya beberapa saudara menjenguk bayi tersebut di inkubator.
Tiing... (suara kaca inkubator yang tidak sengaja di tabrak oleh wak maryam ketika menjeguk si bayi)
“Allahu akbar” ucap wak maryam.
Saudara yang lain pun melihatnya
“Kenapa wak?” Tanya Ulfa adik ibunya si bayi.
“ Itu gak sengaja ketabrak kaca ini (sambil menunjuk kaca inkubator)” jawab wak Maryam.
Dua puluh hari kemudian ibu Rani pun keluar dari rumah sakit karena luka bekas jahitan operasinya sudah agak mengering.
Bayi itu pun diberi nama oleh ibunya yaitu Rasya Humaira. Rasya biasa dipanggil rasya atau asya.
Bayi itu telah tumbuh dengan baik. Setiap harinya ibu dan ayah nya selalu merawatnya dengan baik.
Dua tahun kemudian Rasya sudah berumur dua tahun, bocah ini sudah memperlihatkan kenakalannya.
Hari itu Rasya dirawat oleh neneknya. Ketika neneknya sedang membuat kue Rasya membuatnya tertawa ngakak, gimana tidak Rasya dengan bangganya masuk ke dalam ember kue buatan neneknya.
“Ya Allah nak, kamu mau jadi kue ya? “ tertawa melihat tingkah Rasya
Rasya hanya cengengesan.
“Kenapa kok jadi putih-putih?” Tanya kakek yang baru pulang dari warung kopi
“Ini si Rasya habis masuk ke tepung”
“Oh kalau begitu dibuat ulang saja adonannya”
“Iya bang”
Rasya pun dibawa ke kamar mandi untuk membersihkan adonan tepung yang menempel di kakinya.
Hehehe (suara Rasya yang tertawa)
Sorenya ibu Rasya pun menjemput Rasya kembali
“Anak kamu tadi masuk ke adonan kue saya”
“Oh ya ma”
“Nakal kamu ya” seru ibunya sambil menggelitik Rasya.
Keesokan harinya Ayah Rasya pulang ke kampung halamannya dikarenakan ibunya sakit, tinggallah Rasya dan ibunya.
“Hati-hati ya ayah”
“Iya, kalian nanti ke rumah mama saja kalau tidak berani di sini”
Pak Zeni pun berangkat ke terminal. Sementara Rasya dan ibunya pulang ke rumah neneknya yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
“Yok nak kita ke rumah nenek” ujar bu Rani sambi menggendong Rasya”
Seminggu pak Zeni di kampung, pak Zeni memberi kabar bahwa ibunya sudah tiada.
Rasya dan ibunya pun pulang ke kampung.