Chapter 2

842 Kata
Setelah beberapa hari Rasya dan keluarga di kampung akhirnya mereka kembali ke kota. “Huuft lelah” ibu Rani sambil meletakkan bawaannya dan juga menidurkan Rasya. Beberapa tahun kemudian Rasya pun masuk Paud. Hari ini hari pertama Rasya sekolah Paud. Betapa lucunya anak ini setelah diantar sama ayahnya dia pun ikut pulang lagi bersama ayahnya. “Kok kamu pulang ?” Ayah bertanya kepada putri kecilnya itu “Kan tapi ayah pulang” menjawab dengan jawaban polosnya “Kamu kan mau sekolah jadi pulangnya nanti” Menjelaskannya pelan “Haaah gak mau ayah aku ikut pulang sama ayah saja” menangis kejer “Yasudah lah kita pulang” menggendong anak nya dan membawanya pulang “udah ya jangan nangis lagi” Sesampainya mereka di rumah ibu Rasya melihatnya “kok kamu pulang sayang” mengambil Rasya dari gendongan ayahnya “Aku pulang dia ikut pulang” “Ganti baju yuk” membawa Rasya ke kamar dan mengantikan bajunya Malamnya ayah dan ibu sedang menonton televisi, ketika mereka lagi asik menonton Rasya turun ke lantai 1, dia turun perlahan melewati satu persatu anak tangga tanpa sedikit pun bersuara. Sampai di lantai 1 dengan keadaan gelap gulita karena semua lampu sudah dimatikan oleh ayahnya, dia naik ke atas meja dan duduk bersila di sana kemudin dia mengambil mie instan yang ada di atas meja. Mie instan itu merupakan barang dagangan ayahnya. Ibu dan ayah belum menyadari anaknya turun ke bawah. Rasya masih asik memakan mie instannya. Selang beberapa menit kemudian ayah rasya menyadari kalau rasya tidak ada di sampinhnya “Mah” memanggil istrinya Istrinya menoleh ke samping “kenapa yah” “Asya mana ma” “Loh bukannya di sini tadi” menunjuk kasur di sampingnya “Asya” panggil ayahnya. Tapi tidak ada jawaban “Kamu dimana sayang” Kemudian mereka berdua turun ke lantai satu dan benar saja Asya masih duduk bersila di ata meja yang sedang memakan mie instan. Ibunya menghidupkan lampu. Asya hanya nyengir menampakkan dua gigi bawahnya yang baru tumbuh. “Aduh sayang kamu ngapain sih, kok di sini sendirian” menggondengnya dan kembali ke atas. Ayahnya mematikan semua lampu lagi dan kembali ke atas. “Sekarang kamu tidur ya” menidurkan Asya disampingnya. Malam itu pun berakhir. Keesokan harinya ibu asya berangkat ke sekolah. Sedangkan Asya ditinggalkan bersama ayahnya. Siangnya ibu Asya telah pulang dari sekolah. “Sayang tidur siang yuk” membawa Asya ke lantai atas kemudian menidurkan Asya di ayunan. Ibunya mengayunkan asya sambil membaca shalawat-shalawat nabi supaya asya cepat tertidur. Ibunya sudah mulai terlelap tapi tidak dengan Asya yang masih melek dia turun perlahan dari ayunannya kemudian berjalan pelan-pelan mengambil boneka dan melemparkannya ke bawah Ayahnya yang lagi berjualan terkejut karena ada yang jatuh, ketika ia melihatnya terjatuh yang jatuh ada boneka yang jatuh ke dalam ember minyak goreng dan melihatnya ke bawah Asya tersenyum dengan nampak dua gigi bawahnya. Ayah merasa sangat kesal tapi harus bagaimana itu putri kesayangannya. Malam pun tiba asya seperti biasa ketika ayah dan ibunya asik menonton televisi ia kembali menjalankan aksinya untuk turun ke lantai bawah dan memakan mie instan, ia tidak peduli dengan suasana yang gelap gulita. Keesokan harinya asya diantarkan lagi ke sekolah paud nya, kali ini dia tidak ikut ayahnya lagi yang pulang, dia bermain dengan kawan-kawannya yaitu Sus dan Pida. Jam dua belas asya pulang dari sekolahnya dan ia menemani ayahnya yang berjualan. Karena bosan pergi ke karung beras dan mencampur-campurkannya antara beras yang satu dengan beras yang lainnya. Kemudian ada tetangga Asya yang datang ke sana ia melihat kelakuan Asya lalu ia menyuruh Asya untuk menelungkupkan telur dari papanya. Asya yang masih sangat polos menuruti perkataannya hingga membuat satu papan telur pecah. Kemudian ayah Asya melihatnya dan lagi-lagi Asya hanya tersenyum menampakkan dua giginya. Keesokan harinya ibu asya pergi ke tempat mencuci pakaian, Asya pun menemani ibunya. Setelah sampai di sana ibunya langsung mengambil pakaian dan mencucinya satu persatu sedangkan Asya berdiri di sampingnya. Namun, betapa terkejutnya tiba-tiba ada seekor ular besar berjalan di samping Asya. Ibunya langsung menarik Asya kepelukannya. Dan ular itu sedang dikejar-kejar warga sampai ular itu masuk ke salah satu lubang wc yang ada di depan Asya dan ibunya. Ibunya sangat ketakutan dan buru-buru pulang ke rumah dengan Asya yang digendongnya, ia todak melanjutkan lagi mencuci pakaian. Dua tahun kemudian di tempat tinggal terjadinya konflik dimana semua orang ada yang dibunuh ada yang disiksa, penembakan di mana-mana, sekolahan di bakar. Ayah Asya pun kini sedang dicari-cari oleh pihak mereka lantaran namanya sama dengan nama musuh yang sedang mereka cari, jadi siapapun yang namanya sama maka akan dibunuh. Mendengar hal itu Ayah Asya sangat ketakutan kemudian ia dan ibunya memutuskan untuk pulang kampung. Sebelum mereka pulang kampung mereka menjual semua aset mereka mulai dari ruko yang mereka tingga hingga tanah kebun. Mereka tidak ingin balik ke sana lagi apapun akhirnya. Ibu Asya juga terpaksa harus pindah tugas. Ayahnya melakukan semua cara untuk mengurus perpindahan tugas ibunya. Akhirnya mereka pulang kampung dan tinggal bersama keluarga ibunya. Mereka diberikan satu kamar yang sangat kecil. Kehidupan mereka di sana tidak terlalu nyaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN