Chapter 3

760 Kata
Mereka tinggal di sana penuh dengan tekanan batin, ibunya Asya seperti dijadikan pembantu oleh keluarganya. Suatu hari ayahnya pergi ke luar kota karena masih mengurus proses perpindahan ibunya, sedangkan ibunya pergi ke kota tempat mereka tinggal dulu juga untuk mengambil semua berkas perpindahannya. Asya dititipkan bersama neneknya dan tantenya. Nenek Asya dan tantenya berjualan mie goreng di kios di depan rumah mereka dan Asya bersama sepupunya bermain masak-masakan lalu Asya duduk di atas bangku yang terbuat dari bambu entah bagaimana cara ia duduk sampai ia terjatuh terjungkil balik, nenek asya dan tantenya tidak berinisiatif untuk mengambilnya Asya yang terjatuh mereka hanya melihatnya saja. Namun tiba-tiba saja Ayah Asya sampai di depan pagar. Asya yang terjatuh langsung bangun mengejar ayahnya dan menangis dipelukan ayahnya. “Kenapa nak” tanya ayahnya yang panik melihat Asya nangis kejer di hadapannya “Asya jatuh ayah dari bangku itu” menunjuk ke arah bangkunya “Mana yang sakit nak, apa ada yang terluka” “Gak ayah” masih sambil menangis “Yaudah kita pulang ya kita mandi nanti ayah bawa jalan-jalan ya jangan nangis lagi” “Iya ayah” Ayahnya mengusap air mata Asya. Ia merasa sedih anak semata wayangnya terjatuh tapi tidak ada yang mengambilnya bahkan mertuanya hanya membiarkan tanpa menghiraukannya. Sampainya di rumah ayah memandikan Asya menggantikannya pakaian menyisirkan rambutnya “Ayah ada oleh - oleh ni buat kamu” memberikan sebuah kotak Asya mengambil kotaknya “makasih ayah” dan membukannya, ternyata isi kotaknya adalah sepasang sepatu heels anak-anak yang bergambar teletubis dan berwarna merah muda. ternyata dari balik jendela ada sepupu Asya yang melihatnya, ia bernama Dewi, Dewi hanya tinggal bersama mamanya yaitu tantenya Asya karena ayahnya sudah lama bercerai dengan mamanya. Dewi pun merasa sedih melihat hadiah yang diberikan untuk Asya. Lalu ia berlari ke tempat ibunya di kios depan rumah sambil menangis. “Kenapa nak” tanya kakek yang melihat cucu kesayangannya berlarian sambil menangis “Itu kek kak Asya dibelikan sepatu cantik oleh ayahnya” sambil menangis “Apa” marah mendengarnya “jadi si Zeni hanya beli buat anaknya” “Ulfa” berteriak memanggil anaknya “gendong ni si Dewi biar gak nangis lagi” “Sini sayang sama bunda” mengendong anaknya “jangan nangis lagi ya” Kakek Abdul pun berjalan ke rumah dan menghampiri Rasya dan ayahnya, kemarahannya belum reda. “Sini kamu Zeni, kenapa kamu pulang-pulang bawa oleh-oleh buat anak kamu aja, apa kamu gak mikir si dewi, kenapa gak kamu bawa-bawa model ke sini ha, kamu beli ini kamu beli itu, si dewi gak ada yang belikan dia gak ada bapak lagi, kamu ya bawa-bawa model ke sini, sekarang juga kamu cari sepatu yang kaya kamu beli buat anak kamu kamu beli buat dewi jangan bisanya bawa model aja kesini” Tanpa membantahnya Ayah Asya dan Asya keluar dari rumah pergi ke kota untuk mencari sepatu yang mirip dengan yang ia beli ke Asya. Betapa sedih hatinya ia hanya berniat memberikan hadiah kepada anaknya tapi malah caci maki yang didapatkan dari ayah mertuanya. Setelah berjalan menelusuri semua toko sepatu akhirnya ayah Asya menemukan sepatu yang mirip dengan punya Asya lalu ia segara pulang dan memberikan sepatu tersebut kepada Dewi. Keesokan harinya ibu Asya telah kembali dari kota tempat mereka tinggal dulu. Karena proses perpindahannya telah benar-benar selesai setiap pagi hari ibu Asya pergi ke sekolah untuk mengajar. Sedangkan Asya ikut kemana pun ayahnya pergi. Pulang sekolah ibu Asya beristirahat di kamar, kemudian adiknya menyuruhnya untuk memasak. Ibu Asya bangun dan memasaknya sedangkan adiknya pergi entah kemana tanpa sedikit pun membantunya. Ketika masakannya telah matang semua ia menaruhnya di meja makan dan setengah ia taruh ke meja makan dia dan suaminya. Meja makannya sengaja dipisahkan oleh ibunya mereka semua tidak makan bersama dalam satu meja walaupun mereka serumah. Setelah selesai makan ibunya Asya membereskan piring kotor sedangkan yang lain langsung ke kamarnya tanpa ada yang membantunya kemudian ia mencuci semua piring kotor, dan menyapu rumah. Setahun telah berakhir kini Ayah dan ibunya Asya berniat pindah ke kota lain. Ternyata sebelum itu ibunya telah mengusir mereka supaya tidak lagi tinggal di rumah itu karena takut rumah itu nantinya akan diambil oleh ibunya Asya, neneknya di provokasi oleh tantenya Asya supaya cepat-cepat mengusir ibunya Asya untuk segera pindah dan mencari tempat tinggal lain. Malam itu dengan hujan deras ayah dan ibu asya pindah ke kota lain dengan mobil pickup sewaan. Setelah sampai di tempat tinggal barunya sebagian barang bawaannya basah karena hujan selama perjalanan. Mereka menurunkan barangnya satu persatu yang basah dipisahkan dan dijemur. *Maksih ya guys sudah hampir Yuk bantu ramaikan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN