“Ughhh...” Auriga melenguh, pria itu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Rasa pusing dan sakit di bagian tubuhnya menghantam setelahnya, membuat pria itu meringgis. Remaja laki-laki itu kembali memejamkan kelopak matanya, menunggu beberapa saat untuk mengurangi rasa sakit. Auriga kembali membuka kelopak matanya ketika rasa sakit iru mengurang, menatap ken arah seluruh dinding bewarna putih. Ah, Auriga baru ingat jika ia pingsan setelah keluar dari warung. Hanya pekikan dari Gala yang terakhir kali ia dengar sebelum kesadarannya terenggut. “Ini kamar mandinya enggak ada air hangat apa?” dumel seseorang membuat Auriga mendongakan kepalanya, menatap ke arah remaja yang baru keluar dari kamar mandi mengenakan kaos oversize dan celana joger. Tampak pria itu tengah menggosok-gosok rambu

