POV Syila Pagi itu aku merasa menjadi gadis yang paling bahagia. Bersama Ardi membuatku lebih mengerti tentang arti cinta. Dia tak memerlukan sebuah puisi untuk membuatku terpana. Dia juga tak perlu jadi pelawak untuk membuatku tertawa. Semua yang ada di dirinya selalu ingin membuatku berada di sampingnya. Motor itu terus melaju. Bersama kepingan rindu yang nantinya akan merasuk di dalam dadaku. Aku tahu ini bukan akhir dari kisah cintaku. Namun setelah ini aku dan dia pasti akan jarang bertemu. "Boleh nggak jika aku meluk kamu?" tanyaku. Entah kenapa pertanyaan konyol itu begitu saja terlontar dari mulutku. "Jangan, La!" jawabnya halus. "Kenapa?" tanyaku lagi. "Ketika orang tuamu sudah mengizinkan kamu untuk pergi sama aku, berarti mereka telah mempercayaiku. Mereka percaya bahwa ak

