Bab 91

1002 Kata

"Ardi! Ini permintaanku yang terakhir. Tolong jaga Alya!" pintanya. Air mata ini terus saja keluar. Sahabatku, Arawan Sinaga telah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan meninggalkan dunia ini. Aku benar-benar takut. Aku tak sanggup kehilangan dia. Dia yang menciptakan banyak warna di hidupku, kenapa harus menjadi seperti saat ini. Kini aku memperhatikan dia yang sudah bertambah memucat. Mulutnya sudah tak mengeluarkan sepatah katapun. Napasnya yang terdengar tersenggal-senggal membuat air mataku semakin deras untuk mengalir. Aku rasa, ini adalah akhir dari kisahnya. Manusia berotak konslet itu akan berakhir tepat di depan mataku sendiri. Aku menggertakkan gigi atas dengan gigi bawahku. Mataku sesekali aku pejamkan untuk sedikit meredam tangisan kesedihanku. Samar-samar kudengar papanya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN