Kening mereka menempel beberapa saat. Helia sibuk meredam kepanikannya, sementara Bintang hanya sekadar menikmati waktu tenang itu. “Feeling better?” tanya Bintang kemudian tanpa menarik jarak. “Hmm,” gumam Helia. Bintang mengecup singkat kening Helia sekali lagi, lalu memundurkan wajah. Mereka bersitatap sejenak, senyum simpul terukir di wajah masing-masing. “Paling dua hari,” lirih Helia kemudian. Ia menoleh ke rak white tea base yang hampir kosong, lalu menyapukan titik pandangnya sekali lagi. Siapa tau ada sisa stok yang salah tempat. “Tapi mereka bilang ngga mungkin restock dalam waktu dekat.” Helia mendengus frustrasi. Ada perasaan yang mengganjal di dadanya. Bukan cuma panik perkara stok. Ada rasa malu yang membuatnya tak nyaman, malu karena tak becus menjaga tempat yang ia ba

