SUAMI MENYEBALKAN!

1294 Kata
Barra dan Firda sudah sampai di sebuah restoran bintang lima. Mereka segera menuju ruang VVIP yang ada di lantai 3. Seorang klien sudah menunggu di sana. Tidak memerlukan waktu lama untuk Firda dan Barra sampai di lantai 3. Kini mereka sudah berdiri di depan pintu sebuah ruangan yang sengaja disediakan untuk tamu VVIP. "Silakan masuk, Tuan." Seorang pelayan membukakan pintu tersebut sambil menunduk hormat. Gegas Barra masuk ke dalam diikuti Firda di belakang. "Selamat datang, Tuan Barra." Merry menyambut Barra dengan senyuman yang mengembang. Namun senyuman itu luntur seketika saat melihat keberadaan Firda di sana. "Ternyata Anda tidak datang sendiri," celetuk Merry sambil melirik tak suka pada Firda yang berdiri di belakang Barra. "Tentu saja, ke manapun saya akan pergi dengan sekretaris saya," jawab Barra dengan yakin. "Baiklah, silakan duduk." Merry tidak bisa gegabah dalam menghadapi Barra. Sedikit saja membuat pria itu tak suka, maka selamanya dia mungkin tidak akan bisa melihat Barra. Pria itu terlalu tegas dan berprinsip, juga sulit disentuh oleh wanita. Tapi entah kenapa itu membuat Merry suka. Sudah sejak lama dia mengincar Barra dan bermimpi menjadi Nyonya Wiyatama. Tapi nyatanya, hingga sekarang Barra masih sangat sulit untuk ditaklukkan. "Keluarkan filenya, Firda," titah Barra pada sekretarisnya. Firda mengangguk pelan, lantas segera mengeluarkan file itu dari dalam tas, kemudian diletakkan di atas meja. "Ini file tentang proyek terbaru yang akan kami kerjakan," ucap Barra sambil menyodorkan file tersebut ke depan kliennya. Merry menerima sambil sesekali membuka lembaran demi lembaran kertas yang berada dalam sebuah map berwarna biru itu. "Baiklah, saya akan jelaskan proyek tersebut secara rinci." Barra mengawali pembicaraan. Namun, saat hendak menjelaskan, Merry lebih dulu menahan. "Tunggu, Tuan." Dia pun melirik sedikit pada Firda yang duduk di samping Barra. "Saya sebenarnya tidak nyaman dengan keberadaan sekretaris Anda. Boleh kita membahas ini berdua saja?" Barra terdiam sambil menarik kedua alisnya tinggi-tinggi. Semua klien pun sudah biasa berbicara dengan Firda yang selalu ada di sampingnya. Bahkan beberapa waktu lalu Firda berhasil memikat klien untuk bekerja sama dengan perusahaannya. "Semua klien saya sudah terbiasa dengan keberadaan Firda. Jadi, saya rasa tidak masalah jika Firda tetap bersama kita." Seutas senyuman terbit di wajah cantik Firda yang malam ini tampil dengan gaya kasual yang cukup menawan. Perasaannya menghangat mendengar Barra memberikan pembelaan. Jujur saja, Firda merasa tidak nyaman melihat tatapan Merry yang diberikan pada sang suami. Sebagai seorang wanita, dia yakin jika Merry memiliki maksud lain terhadap Barra, bukan hanya sebagai klien saja. "Saya bukan orang yang sama dengan mereka. Jadi saya kira, Tuan bisa menghormati ketidaknyamanan saya." Barra menghembuskan napas panjang. Merry cukup keras kepala juga. Dia sudah tahu ini sejak lama. Tak ingin membuat pertemuan ini semakin lama, Barra mengalah dan meminta Firda untuk menunggu di luar saja. Perasaan Firda kacau seketika. Dia kira Barra akan tetap mempertahankannya. Tapi, lagi-lagi dugaan Firda salah. Barra tak sebaik itu padanya. "Kalau begitu, saya tunggu di luar. Permisi, Tuan." Firda segera keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju tempat duduk yang ada di ujung sana dengan perasaan yang sesak. "Nyebelin banget punya suami! Kirain bakal belain, tahunya tetep diusir juga!" gerutu Firda sambil menatap ke bawah sana, di mana kendaraan terus berlalu-lalang di jalan raya ibukota. Sementara di dalam ruangan sana, Barra tengah berdebat panjang dengan kliennya. Bagaimana tidak? Setelah Firda keluar, Merry langsung menyetujui untuk bekerjasama, padahal Barra belum menjelaskan keseluruhan proyeknya. Jelas Barra kebingungan. Dia hendak menjelaskan kembali detail proyek yang akan ia kerjakan, namun Merry lagi-lagi menahan dengan dalih bahwa dia sudah paham. "Baiklah, kalau begitu semuanya sudah jelas. Saya akan meminta asisten saya untuk mengirimkan kontrak pada Anda," ucap Barra sambil menutup map yang ada di depannya. Dia tidak mau berlama-lama di dalam ruangan bersama wanita yang penampilannya tidak sopan. Bayangkan saja! Merry menggunakan dress merah yang sangat mencolok. Hanya sebatas paha dengan belahan d**a yang terlihat dengan nyata. Bukannya tergoda, Barra malah jijik melihatnya. Dia bukan tipe lelaki yang suka dengan penampilan seperti ini. "Baiklah, saya akan tunggu. Tapi Anda tidak perlu buru-buru, Tuan. Kita bisa berbincang sebentar, kan? Tidak usah terlalu formal karena ini sudah di luar dari pekerjaan." Barra menatap sekilas pada Merry dengan raut dinginnya. Sudah dia duga ini akan terjadi. Karena itulah sejak dulu dia selalu berusaha untuk menghindari bekerjasama dengan wanita ini. "Maaf, saya tidak bisa. Firda sudah menunggu di luar." Raut wajah Merry berubah masam seketika. Dia tidak suka saat Barra menyebutkan nama Firda. "Dia hanya seorang sekretaris saja, kan? Sudah biasa seorang sekretaris menunggu atasannya hingga selesai. Tidak usah terlalu dipikirkan." "Menunggu atasannya untuk hal di luar pekerjaan? Maaf, itu bukan sifat saya," tolak Barra penuh penekanan. Dia segera beranjak dari duduknya tanpa mau menatap pada sang klien lagi. "Permisi." "Tunggu, Tuan!" Merry dengan lancang menahan tangan Barra agar tidak keluar dari sana. Barra menatap tajam pada tangan Merry yang begitu lancang. Dengan sekali hentakkan dia melepas cekalan itu dengan kencang. "Jangan kurang ajar!" ucapnya penuh penekanan. "Tolong jangan terlalu formal. Kita sedang di luar pekerjaan sekarang." Merry tak gentar sama sekali. Dia malah melangkah maju mendekati Barra dengan berani. "Jangan terlalu jual mahal, Tuan. Saya sudah dari dulu menginginkan Anda, tapi Anda sangat keras kepala dan tidak mau membuka mata. Apa saya kurang menarik? Banyak pria di luar sana yang menginginkan saya asal Anda tahu!" Barra berdecih sinis sambil membuang muka ke samping. "Jangan samakan saya dengan pria di luaran sana! Jika mereka tertarik pada Anda, kenapa Anda harus tertarik pada saya?" "Karena Anda berbeda dari yang lain, Tuan. Setidaknya biarkan kita dekat layaknya seorang teman." Tangan Merry yang lancang mulai naik hendak menyentuh d**a Barra, namun pria tampan itu segera menepisnya. "Saya bilang jangan kurang ajar!" sentak Barra sambil menatap Merry tajam. Tapi wanita itu seolah sudah gila dan malah terkekeh pelan. "Semakin Anda menghindar, semakin saya merasa tertantang." "Dasar wanita gila!" sentak Barra. "Saya tidak sudi melakukan kerjasama dengan wanita gila seperti Anda!" Dia sudah tidak bisa lagi menahan emosi yang mencapai kepala. Merry terdiam dengan lipatan di keningnya. "Anda tadi sudah menyetujui kerjasama ini, Tuan. Jadi Anda tidak bisa membatalkannya." "Tentu saja bisa, karena belum ada kontrak di antara kita!" sela Barra penuh penekanan. Dia segera menarik handle pintu dan keluar dari sana. Tidak peduli citranya menjadi buruk sekalipun di mata kliennya. Firda yang melihat sang suami tengah berjalan sambil melirik kanan kiri pun mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Pak Barra!" panggilnya sedikit kencang. Pria tampan itu menolehkan kepala, lantas segera menghampiri Firda. Firda menyambut Barra dengan senyuman lebar. "Saya udah pesen camilan sama minuman buat Bapak. Ayok, dimakan dulu," ajak Firda sambil menunjuk pada beberapa makanan yang terhidang di atas meja. Barra hanya menatap sajian itu dengan malas. "Kita pulang sekarang!" titahnya dengan raut wajah tak bersahabat. "Saya kan udah pesen ini, mubazir dong kalau gak dimakan." Firda keheranan. Bukannya senang, wajah sang suami malah terlihat suram. "Biar saja. Ayok, kita pulang!" Barra segera menarik kasar tangan Firda agar pergi dari sana. Membuat wanita itu memekik tertahan sambil berusaha melepaskan cekalan. "Lepasin, Pak! Gak usah ditarik kayak gini, sakit tahu!" protesnya sambil mengikuti langkah lebar Barra yang tergesa. Seolah tuli, Barra tak mendengarkan rintihan Firda yang merasakan perih pada pergelangan tangannya. Bagaimana tidak? Barra mencekal pergelangan tangannya dengan kuat. Bahkan Firda merasa pria itu dengan sengaja meremasnya, menyisakan sakit dan perih di sana. "Lepas, Pak!" Firda terus memberontak agar cekalanya terlepas. Hingga mereka sampai di parkiran, Firda berhasil menarik paksa tangannya dari cekalan Barra. "Bapak bisa gak usah kasar gak, sih?!" tanyanya menatap sang suami tak suka. "Saya gak tahu ya masalah Bapak apa di dalam sana, tapi gak usah lampiasin sama saya! Saya gak tahu apa-apa!" Firda meluapkan emosi sambil memegang pergelangan tangannya yang terasa perih sekali. "Masuk!" Barra tetap menatap dingin pada sang istri. "Biar saya pulang sendiri!" Firda kira, Barra akan membiarkannya. Namun siapa sangka pria itu malah meninggikan suara hingga beberapa orang menatap pada mereka. "Masuk, Firdania Maheswara!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN