GARA-GARA FIRDA!

1307 Kata
Firda termenung di tepi kolam seorang diri. Membiarkan bagian bawah kakinya terendam oleh air kolam yang jernih. Rasa dingin yang menjalar membuat Firda menutup kedua mata. Pikirannya kembali melayang pada ucapan Barra. Jatuh cinta? Hal itu seakan hal tersulit bagi Barra. Hanya karena sebuah luka, yang Firda tak tahu entah luka seperti apa. Seandainya Barra tahu bahwa dia pun memiliki luka yang ia simpan dalam-dalam. Firda bahkan tak menyangka dia bisa hidup normal sekarang. Bertemu dengan orang dan melihat dunia luar, dulu adalah hal yang begitu mustahil bagi Firda. Firda kecil hingga remaja memang adalah seorang yang cerewet dan ceria. Namun, keadaan berubah saat seseorang datang dan mengacaukan hidupnya. Firda yang masih duduk di bangku SMA kala itu selalu mengurung diri, tak mau bertemu siapapun lagi. Kesehatan mentalnya bahkan harus dipantau oleh psikiater. Firda hanya bisa menjalani sekolah dari rumah. Bukan karena dikeluarkan, namun karena dia sendiri yang tak mau bertemu dengan orang-orang. Tanpa terasa perlahan cairan bening mengalir membasahi kedua pipinya. Semakin lama hati Firda semakin perih saja. Kedua bahunya mulai bergetar sambil mengeluarkan isakan. Firda mengangkat kedua kakinya dari dalam kolam. Memeluk kedua lutut sambil menyembunyikan wajah di sana. Ia lebih suka menangis sendirian daripada harus diketahui oleh orang. Firda tidak mau lagi menjadi beban. Cukup dulu saja dia menyusahkan kedua orang tuanya. "Firda?" Panggilan dan sentuhan lembut di punggungnya membuat mulut Firda terkatup rapat. "Kamu kenapa?" tanya Barra saat melihat istrinya tengah menyembunyikan wajah. Firda mengatur napasnya sejenak, baru mendongak tanpa menatap ke arah Barra. Diusapnya dengan kasar jejak air mata yang membasahi wajahnya. "Kamu nangis?" tanya Barra lagi. Dia bisa melihat dengan jelas jika wajah istrinya basah, mata dan hidungnya pun memerah. Lagipula tadi Barra sempat melihat bahu Firda bergetar sambil terisak pelan. Barra menghela napas kala tak mendapatkan jawaban apa-apa. "Maaf, Firda. Saya gak ada maksud buat sakitin kamu." Barra sadar mungkin Firda menangis akibat perkataannya. Firda masih bungkam tanpa mau melihat pada lelaki yang kini duduk di sampingnya. "Coba lihat saya dulu." Barra meraih dagu Firda, namun wanita itu dengan cepat menepisnya. "Saya minta maaf." Seolah menulikan pendengaran, Firda segera bangkit dari duduknya tanpa memberikan jawaban. Dia hendak melangkah pergi, namun tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh sang suami. Dengan satu gerakan, Firda sudah ada dalam dekapan Barra. Dia bisa merasakan kehangatan saat Barra mendekapmya erat. Dan hal itu malah membuat cairan bening luruh kembali di wajah cantiknya. Pertahanan Firda kembali runtuh. Dia kembali terisak perih dalam dekapan suaminya. Memikirkan luka besar yang dulu ia terima sungguh membuat Firda hampir gila. Perlahan Barra memberikan usapan lembut punggung Firda. Dia tahu saat ini bukanlah hal yang tepat untuk berbicara dengan istrinya. "Maaf." Hanya satu kata itu yang kembali lolos dari mulut Barra. Hati Firda semakin teriris. Dadanya kian sesak seperti dihimpit bebatuan besar. Kedua kakinya kian melemas hingga tak kuat lagi menopang bobot tubuhnya. Tubuh Firda luruh hingga bersimpuh di lantai, namun Barra tak sedikitpun melepaskan. Pria tampan itu masih mendekap tubuh Firda dengan erat. "Nangis sampai kamu puas. Saya ada di sini." 30 menit mendekap tubuh Firda, Barra bisa mendegar isakan yang diganti oleh deru napas yang beraturan. Dia menurunkan pandang, terlihat Firda sudah terlelap dalam dekapan. Jemari besarnya terulur menghapus jejak air mata di wajah cantik itu. "Maafkan saya, Firda." *** Firda mengerjapkan matanya pelan. Ia sedikit meringis saat merasakan pusing di kepala, mungkin karena ia terlalu lama menangis. Matanya yang sembab menatap pada sekeliling kamar. "Kapan aku pindah ke kamar? Bukannya tadi di kolam?" gumamnya pelan. Menghela napas panjang. Firda kembali teringat pada kejadian sebelum ia ketiduran. Dia dan Barra tengah berpelukan. Dan Firda yakin, yang membawa ia ke sini pun pasti pria itu. Lagi-lagi Firda harus bergantung pada Barra. Wanita cantik itu duduk bersandar pada headboard ranjang. Merasa gerah, Firda melepas hijab yang membungkus kepala. Mumpung di kamar ini tak ada suaminya. Bayangkan saja. Selama ada Barra, ia harus tetap memakai jilbabnya. Bukannya apa, Firda hanya belum terbiasa. Kaki Firda turun dari ranjang untuk menapaki lantai. Berjalan perlahan menuju balkon kamar. Ia berdiri pada pagar pembatas sambil menghirup udara dalam. Angin yang berhembus lembut, membuat rambut panjangnya beterbangan. Sementara itu di ambang pintu balkon, seorang pria tampan dengan pakaian santai tampak terpaku menatap punggung wanita di depannya. Rambut panjang berwarna hitam yang tengah melambai itu benar-benar menyita perhatian. "F-firda?" panggil Barra susah payah. Tubuh Firda tertegun beberapa saat. Spontan dia berbalik badan sambil memegangi kepalanya. "M-maaf, saya kira Pak Barra gak ada." Dia hendak melangkah masuk untuk mencari jilbab, namun tangan Barra segera menahannya. "Gak apa-apa. Saya suami kamu, kan?" Jantung Firda berpacu lebih cepat. Ditatapnya wajah sang suami lamat-lamat. Entah kenapa ada rasa sakit di hati Firda saat melihat Barra. Teringat akan kata-kata yang diucapkan pria itu padanya. "Saya bikin teh hangat buat kamu." Barra menyodorkan secangkir teh yang masih mengepul pada Firda. Sengaja ia buat untuk istrinya. Melihat Firda yang masih belum merespon, Barra meletakan secangkir teh tersebut pada meja yang ada di sana. "Duduk dulu, ya?" Tanpa menunggu jawaban dari Firda, Barra memegang kedua bahu wanita itu dan mendudukannya pada kursi yang ada di sana. Firda masih terdiam dengan tatapan kosongnya. Dia bahkan enggan melihat pada Barra yang kini sudah duduk di sampingnya. "Minum dulu tehnya." Barra menyodorkan kembali teh tersebut pada Firda. Kali ini Firda menoleh. Dia menerima teh itu dari tangan Barra, lalu menyesapnya perlahan. Firda memejamkan mata sambil menghirup aroma teh yang dicampur dengan bunga melati kesukaannya. "Kalau lagi suntuk atau pikiran lagi kacau, saya suka buat teh melati. Itu cukup buat pikiran saya rileks lagi," ujar Barra sambil menatap wajah Firda dari samping. Terdengar helaan napas berat yang keluar dari mulut Barra. Melihat Firda sama sekali tak merespon apa-apa, Barra menarik kesimpulan jika wanita ini masih marah padanya. "Firda, saya minta ma—" "Gak usah dibahas lagi," potong Firda cepat. Semakin diingatkan, semakin sakit yang Firda rasakan. Barra mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Selama mengenal Firda sebagai sekretarisnya, baru kali ini Barra melihat wanita itu diam. Dan rasanya sungguh berbeda. Seperti ada yang kurang. Dering ponsel yang berasal dari saku celana Barra memecah keheningan di antara mereka. Pria tampan itu mengeluarkan benda pipih tersebut, hingga terlihat nama Tomy yang memenuhi layar. "Hallo," ucap Barra setelah menerima panggilan dari asistennya. "Hallo, Tuan. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda." "Ya, ada apa?" tanya Barra langsung pada intinya. Dia tidak suka banyak bicara. "Begini, Tuan. Nyonya Merry meminta bertemu dengan Anda malam ini. Beliau ingin membahas perihal proyek baru kita. Sepertinya beliau tertarik untuk bergabung juga." Alis tebal Barra tampak tertarik ke atas. "Kenapa dia tidak membuat jadwal lebih dulu dengan sekretaris saya?" tanya Barra sambil melirik pada Firda. "Jika tidak ada jadwal sebelumnya, berarti itu di luar pekerjaan. Minta dia membuat jadwal dan menunda pertemuan." Barra paling tidak suka pada orang yang tak mau mentaati aturan. Setiap yang ingin membahas pekerjaan dengannya harus membuat jadwal dulu dengan Firda. Tidak bisa seenaknya. "Emh, tapi, Tuan. Masalahnya ...." Suara Tomy tampak ragu di sebrang sana. "Kenapa?" tanya Barra dengan nada dinginnya. "Emh, Nyonya Merry bilang, beliau ingin bertemu malam ini, Tuan. Beliau akan pergi ke Singapura dan akan lama di sana." "Siapa yang peduli dengan itu!" Firda menatap suaminya heran. Seakan mengerti, Barra menjauhkan ponselnya sedikit lalu berbisik pada sang istri. Mengucapkan ulang apa yang disampaikan oleh Tomy. "Turutin aja," ucap Firda pelan. "Kamu yakin? Dia gak disiplin karena gak buat jadwal sebelumnya." "Gak masalah. Mungkin dia emang gak punya waktu lagi." Semua pemimpin perusahaan memang selalu sibuk, bukan? Barra menghela napas sebentar. Dia sudah menolak meskipun tidak secara gamblang. Lalu, jika ia merubah keputusan, Tomy pasti akan keheranan. Tidak ada dalam sejarah seorang Barra Ivander Wiyatama mengubah keputusannya secara tiba-tiba. "Ayok, Pak," bisik Firda saat melihat suaminya malah diam saja. Sekali lagi Barra menghela napas sambil memejamkan mata. Sudahlah, prinsip yang ia bangun setinggi gunung harus runtuh malam ini juga. Dan itu semua karena permintaan Firda. Anggap saja itu adalah bentuk permintaan maaf Barra. "Oke, saya setuju!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN