APA ALASANNYA?

1303 Kata
Firda memukul d**a bidang suaminya dengan sekali gerakan. Kedua pipi wanita itu telah memerah akibat salah menangkap sorot mata Barra. Firda kira pria tampan itu akan berkata manis padanya. Namun, ternyata dia salah. Barra hanya meminta untuk membuatkan bubur saja. Hah! Barra Ivander Wiyatama memang sangat menyebalkan di mata Firda! "Kenapa kamu pukul saya?" tanya Barra heran. Firda tak menjawab. Wanita cantik itu segera turun dari ranjang sambil membawa nampannya keluar, meninggalkan Barra yang masih menatap dengan heran. "Dia kenapa?" gumam Barra. Namun sesaat kemudian dia teringat jika kedua pipi Firda sempat terlihat merona. "Apa dia salah tingkah?" gumamnya lagi. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya melengkung berbentuk senyuman yang sangat indah. Senyuman yang tak pernah terlihat oleh siapapun juga beberapa tahun lamanya. Senyuman yang sudah lama hilang dari diri seorang Barra. Sementara itu di bawah sana, Firda tengah menghentakkan kakinya dengan kesal. Dia bahkan meletakkan mangkuk bekas bubur Barra pada wastafel dengan kencang, membuat Wirda yang tengah membersihkan meja terperanjat heran. "Kamu kenapa, Firda?" tannya Wirda sambil menatap lekat pada putrinya. "Gak apa-apa," jawab Firda singkat sambil mencuci piring bekas makan suaminya. Kedua alis Wirda tampak tertarik ke atas. Bingung melihat sikap putrinya yang merajuk tiba-tiba. "Apa Barra buat kamu kesal?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja lolos dari mulut Wirda, membuat wanita paruh baya itu menutup mulutnya seketika. Firda mengelap dahulu tangannya yang basah, kemudian berjalan mendekat pada ibunya. "Pak Barra nyebelin, Bu! Dia selalu bikin Firda kesal tiap hari!" ucap Firda dengan menggebu. Kedua pipinya tampak mengembung dengan alis yang menyatu. "Bukannya Barra baik, ya? Ibu lihat dia gak nyebelin, tuh," bantah Wirda dengan jujur. Dia belum pernah melihat kesan menyebalkan dari wajah menantunya. Malah Barra selalu bersikap ramah. Firda berdecak kesal. Dia menjatuhkan bobot tubuhnya pada kursi yang ada di sana. "Iya, sama Ibu gak nyebelin, tapi sama Firda beda, Bu! Pak Barra itu nyebelin, ngeselin! Pokoknya Firda gak suka! Lama-lama bisa penyakitan kalau terus-terusan sama Pak Barra!" "Hus! Gak boleh ngomong kayak gitu!" tegur Wirda pada putrinya. Sejak kecil mulut Firda memang suka asal jika berbicara. "Ya, habis Pak Barra ngeselin banget tau! Firda capek," keluhnya sambil menjatuhkan kepala di atas meja dengan kedua tangan yang menjadi alasnya. Wirda hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Kalian nikah masih hitungan hari, masa segitu aja udah bilang capek? Gimana rumah tangganya mau awet coba?" "Inget ya, Firda! Yang namanya rumah tangga itu pasti banyak ujiannya. Lagipula menurut Ibu apa yang kamu rasakan itu hal yang wajar. Kalian kan memang gak saling cinta sebelumnya. Tapi Ibu yakin suatu saat nanti kalian bisa saling menerima." Firda hanya mendengarkan tanpa berniat menyahuti setiap ucapan ibunya. Wajahnya masih tenggelam di antara kedua tangan. Sedangkan tanpa mereka sadari, Barra mendengarkan pembicaraan mereka sejak tadi. Dia tak sengaja mendengar saat hendak memasuki dapur untuk menyusul sang istri. Hati Barra sedikit tercubit. Apa dia terlalu bersikap keterlaluan pada Firda? Tapi seingatnya, Barra tidak melakukan apa-apa. Bukannya itu normal-normal saja? Lagipula benar ucapan sang mertua, ini wajar karena mereka belum saling cinta. Lebih tepatnya, Barra tidak akan pernah mencintai Firda. "Barra, kamu di sini?" Pertanyaan yang keluar dari mulut sang mertua membuat Barra terperanjat. Begitupun dengan Firda, dia langsung duduk tegak saat menyadari keberadaan suaminya. 'Mati aku! Apa Pak Barra denger semua yang aku bilang tadi, ya?' "Barra tadi mau ambil minum, Bu. Di kamar airnya habis," kilah Barra sambil menutupi kegugupannya. Bagaimana tidak gugup coba? Dia sudah tertangkap basah sedang menguping di sana. "Oh, kenapa kamu harus turun? Kan bisa suruh Firda yang bawa ke atas." "Firda kan tadi lagi simpan bekas makan, Bu. Mana tahu kalau Pak Barra mau minum lagi!" sela Firda cepat. Dia bangkit dari duduknya untuk menuangkan air putih pada gelas, kemudian ia serahkan pada suaminya. Barra menerima. Ia lebih dulu duduk pada kursi di samping Firda, lalu meneguk habis air minumnya. Firda melirik sinis pada suaminya. "Itu kehausan apa gimana?" "Saya emang harus," sahut Barra sambil kembali meletakkan gelasnya. "Ya sudah. Kalau gitu, Ibu mau siram tanaman dulu, ya," pamit Wirda pada anak dan menantunya. Hening menyertai kebersamaan mereka. Tak ada sepatah kata yang terucap. Bibir Firda dan Barra seolah terkunci rapat. "Pak Barra masih gak enak badan, mending istirahat aja di kamar." Firda membuka suara lebih dulu pada akhirnya. Barra menolehkan kepala. Ditatapnya wajah Firda lamat-lamat. Ada rasa bersalah yang bersarang di hatinya. Namun perasaan itu seolah kalah oleh egonya yang setinggi puncak gunung Jaya Wijaya. "Kamu gak ke kantor?" Barra melontarkan pertanyaan yang membuat Firda mengalihkan pandang. Tatapan keduanya bertemu dan terkunci untuk beberapa saat. Hingga Firda tersadar lebih dulu dan segera menjawab, "Enggak, saya temenin Bapak di sini. Udah bilang sama Pak Tomy suruh atur semuanya." "Emang Tomy gak curiga kita libur barengan?" "Emangnya kenapa? Bapak malu punya istri kayak saya?" Pertanyaan itu mampu mencubit ulu hati seorang Barra Ivander Wiyatama. "Bukan begitu, saya cuman belum siap orang-orang tahu status kita. Gimanapun pernikahan kita terjadi karena sebuah insiden, Firda. Saya gak mau orang-orang salah paham." Ya, ya. Firda mengerti dan entah sampai kapan dia akan seperti ini. Rasanya tidak enak sekali. Tunggu, tunggu! Kenapa Firda jadi berpikir seperti ini? Bukannya dia pun tidak mau status pernikahan mereka diketahui orang lain? Huh! Sepertinya otak Firda sudah terkontaminasi! "Antar saya ke kamar!" Firda mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi mendengar ucapan sang suami. "Antar? Bukannya Bapak tadi ke sini turun sendiri?" "Iya, tapi sekarang saya mau kamu antar saya ke kamar." "Hedeuh ... manja banget," cibir Firda pelan. Namun meskipun begitu, dia tetap beranjak dari duduknya dan mengikuti Barra memasuki kamar. Lagi-lagi keheningan menyertai keduanya. Firda memilih untuk mendekat pada lemari. Malas menatap wajah dingin sang suami. "Tunggu, Firda!" Barra menarik lembut lengan sang istri agar tidak menjauh darinya. "Duduk dulu," titahnya kemudian. Meskipun bingung, Firda tetap menurut dan duduk di tepian ranjang sambil menatap suaminya heran. "Bapak mau apa? Mau saya bikinin sesuatu lagi?" Barra menggelengkan kepalanya. Pria tampan itu tampak menghela napas panjang sambil menunduk dalam. Setelah sedikit tenang, ia kembali menatap lurus pada Firda yang masih memberikan tatapan heran. "Saya mau minta maaf." Firda semakin menatap suaminya dengan tatapan kebingungan. "Maaf buat apa?" Barra menatap wajah Firda dengan dalam. Ada keraguan yang menyelimuti hatinya untuk bercerita pada Firda. Tapi dia rasa Firda pun berhak tahu semuanya. "Kehidupan kamu ke depannya mungkin akan sulit, Firda. Saya—" "Kenapa gitu? Bapak ngomong apa, sih?" "Dengerin saya dulu!" titah Barra dengan gemas. Dia belum selesai berbicara, tapi wanita di depannya sudah memotong kalimat saja. Oke, kali ini Firda diam dan akan setia mendengarkan. Lagi-lagi Barra menghela napas sebelum kembali melanjutkan ucapan. "Saya gak akan bisa jatuh cinta sama siapapun lagi, Firda. Jika pernikahan ini terus berlanjut, mungkin selamanya kamu gak akan pernah dapetin cinta dari saya." Firda menatap sang suami tak kalah seriusmya. "Pak, denger, ya! Dari kemarin saya udah bisa nangkep soal ini. Oke, saya maklumin kalau Bapak emang susah buat jatuh cinta. Tapi apa alasannya? Apa karena saya bukan kriteria perempuan pilihan Bapak? Saya juga belum cinta sama Bapak, tapi saya akan belajar menerima." "Bukan gitu, Firda," bantah Barra. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan seperti apa kriteria perempuan yang harus ia jadikan pendamping di masa depan. "Ini masalah hati. Luka hati saya sangat dalam, Firda. Dan saya gak bisa menyembuhkannya. Saya harap kamu bisa memaklumi itu. Kalau kamu emang gak sanggup bertahan di samping saya, kamu boleh pergi dan mencari pria lain sebagai pengganti." Firda terdiam mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut suaminya. Hingga sesaat kemudian kedua sudut bibirnya menampilkan senyuman pedih. "Jadi, Bapak cuma anggap pernikahan ini main-main, karena kita nikah cuma karena salah paham aja?" "Bukan gitu, Firda ...." Barra ingin sekali menjelaskan, tapi lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan. "Cukup, Pak! Sampai sini saya paham, gak usah jelasin apapun lagi sama saya!" Wanita cantik itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar meninggalkan Barra sendirian. Barra mengacak rambut frustasi. Sungguh dia tak ada maksud seperti ini. "Kenapa aku harus menikah, Tuhan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN