Barra mengerjapkan matanya pelan. Dia sedikit bergerak, namun tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang menindih lengannya. Sebelah tangan Barra juga meraba keningnya, terdapat sebuah handuk kecil di sana.
Pria tampan itu menurunkan pandangan, terlihat sosok Firda yang masih memejamkan mata sambil menjadikan lengannya sebagai bantalan. "Dia tidur di sini? Apa semalam saya demam?" gumamya pelan. Barra benar-benar tidak mengingat apa yang telah terjadi semalam.
"Firda ...." Barra mengguncang bahu istrinya perlahan, namun Firda seperti tak mendengarkan.
"Firda ...." Barra kembali mengguncang bahu istrinya. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Namun, tetap saja Firda masih belum membuka mata.
Bara akhirnya menyingkirkan kepala Firda perlahan, lalu ia standarkan pada sofa. Dengan sekali gerakan, dia sudah berhasil turun dari sofa dan berjongkok di depan Firda.
Kali ini tangannya menepuk kedua pipi Firda bergantian. Tapi masih saja, sama sekali tak ada pergerakan.
Barra menghela napas panjang. "Apa dia tidur kayak gini dari semalam? Apa gak pegal? Kenapa bisa senyenyak ini?" gumamnya heran. Padahal posisi seperti ini tidak ada enaknya sama sekali, tapi kenapa Firda malah seperti menikmati posisi yang seperti ini?
"Firda ...," panggil Barra sekali lagi tanpa melakukan aksi apa-apa.
Tetap tak ada pergerakan, bahkan tak ada tanda-tanda Firda mau membuka matanya. Oke, kali ini Barra akan melakukan cara yang lain saja.
"Firda!" teriak Barra menggema.
Berhasil!
Seketika kedua mata Firda terbuka lebar, jantungnya berdegup kencang mendengar teriakan Barra yang begitu menggema di seluruh ruangan.
"Pak Barra ngapain teriak-teriak sih?!" semprot Firda sambil memegangi dadanya. Pagi-pagi bukannya diberi sambutan yang manis, ini malah membuat istrinya hampir saja mati sadis.
"Saya udah bangunin kamu dari tadi, tapi kamu gak mau bangun. Jadi, jangan salahin saya kalau saya teriak," balas Barra dengan entengnya.
Firda tak membalas. Dia lebih dulu menormalkan degup jantungnya sambil mengatur napas. Sumpah demi apa pun, Firda benar-benar terkejut mendengar teriakan Barra. Apalagi selama ini dia belum pernah menerima bentakan dari siapa-siapa.
"Firda, are you okey?" tanya Barra saat melihat istrinya masih mengatur napas saja.
Firda tak menjawab. Dia masih melakukan hal yang sama.
Barra lebih mendekatkan diri. Dipegangnya kedua bahu sang istri. "Hei, kamu gak apa-apa? Maaf, saya gak ada niat buat teriakin kamu tadi."
Firda terkesiap. Baru kali ini dia mendengar nada lembut keluar dari mulut seorang Barra Ivander Wiyatama. Untuk beberapa saat dia terpaku memandangi wajah tampan sang suami yang masih terlihat alami.
"Hei ...." Barra menepuk sebelah pipi sang istri.
Firda tersadar. Segera dia memutus pandangan dan menurunkan tangan Barra dari kedua bahunya. "S-saya baik-baik aja," jawabnya tanpa mau menatap pada Barra.
Hening beberapa saat. Tak ada kata yang terucap dari mulut keduanya. Baik Barra maupun Firda sibuk dengan masing-masing isi kepala.
"Firda, semalam saya demam?"
Pertanyaan dari Barra membuat Firda menolehkan kepala. Dia seakan sadar bahwa suaminya sedang tidak enak badan sekarang. Dengan gerakan cepat, Firda menempelkan punggung tangannya pada kening Barra. "Syukurlah udah gak terlalu panas," gumamnya pelan.
"Apa semalam saya demam?" ulang Barra sebab belum mendapatkan jawaban.
Firda tersadar, segera dia menurunkan tangan dari kening suaminya. "I-iya, Pak Barra demam semalam," jawabnya. Sudahlah! Dia sungguh malu tertangkap basah sedang mengkhawatirkan suaminya. Padahal harusnya dia jual mahal saja. Barra pun selalu bersikap dingin padanya.
"Terima kasih." Satu kata itu tiba-tiba lolos dari mulut Barra diiringi dengan senyuman tipis yang menghiasi wajah tampannya.
Lagi-lagi Firda tercengang. Dia kembali melihat sisi lain dari seorang Barra Ivander Wiyatama yang terkenal dingin dan sangar.
"Kamu dari semalam tidur di sini? Apa gak pegal?"
Firda spontan memegangi lehernya, menggerakkan ke kiri dan ke kanan. Benar saja bukan hanya leher, badannya pun terasa sakit semua.
"Mau saya pijitin?" tawar Barra yang langsung membuat mata Firda melotot tajam.
"Gak usah!" tolaknya mentah-mentah. Enak saja! Berawal dari pijatan, nanti bisa berlanjut dan kebablasan. Tidak! Firda belum siap melakukannya.
"Ya udah, saya mau mandi dulu."
Barra hendak berdiri. Namun tiba-tiba saja dia merasakan pusing di kepalanya. "Aaws," ringis Barra pelan.
"Pak Barra kenapa?" tanya Firda dengan cemas. Dia raih kepala sang suami agar menghadapnya.
"Kepala saya sakit," ucap Barra masih menahan ringisan.
"Ayo, saya antar ke tempat tidur."
Firda lebih dulu berdiri, kemudian mengulurkan tangan pada sang suami. Barra menerima uluran tangan Firda. Sedang sebelah tangan yang lain berpegangan pada sofa.
Wanita itu pun membantu sang suami merembahkan diri di atas ranjang dengan perlahan.
"Pak Barra kayaknya gak enak badan, hari ini gak usah masuk kantor aja, deh. Nanti saya panggil dokter biar ke sini."
Barra menolehkan kepalanya ke samping. Untuk beberapa saat dia tatap wajah Firda lamat-lamat. Entah kenapa perasaannya sedikit menghangat melihat kecemasan di wajah Firda yang sangat kentara.
"Terima kasih."
***
"Dia tidak apa-apa, hanya demam biasa saja. Saya sudah tuliskan resep obat untuknya. Tolong, nanti ditebus di apotik, ya?"
Firda menerima kertas yang sudah tertulis resep obat dari tangan dokter pribadinya. Ya, dokter yang biasa menangani seluruh keluarga besarnya. "Terima kasih, Dok," ucap Firda sambil kembali melangkahkan kaki, mengantar sang dokter hingga ke ambang pintu depan.
Firda menarik napas sejenak. Dia kemudian meminta sopir untuk menebus resep obat sesuai arahan sang dokter. Sementara dirinya akan membuat sarapan untuk Barra yang sedang tak enak badan.
Meskipun pernikahan mereka masih terlihat abu-abu, tapi Firda tahu dia tetap memiliki kewajiban sebagai seorang istri. Yaitu mengurus sang suami.
"Kamu mau buat apa, Sayang?" tanya Wirda yang baru saja memasuki dapur dan melihat putrinya di sana.
"Firda mau bikin bubur buat Pak Barra, Bu."
"Oh, ya udah. Kalau lagi gak enak badan, emang paling pas makan bubur atau sup," komentar Wirda sambil berdiri di samping putrinya.
"Ngomong-ngomong, Firda. Apa kamu gak mau ganti panggilan? Masa panggil suaminya Bapak?" Dia kadang geli sendiri mendengar panggilan yang disematkan oleh sang putri.
Firda hanya mengangkat kedua bahu sambil meneruskan kegiatannya. "Bagi Firda panggilan itu gak penting. Lagian Firda udah biasa panggil Pak Barra. Pak Barra kan emang bos Firda di kantor."
"Iya, Ibu ngerti. Tapi kan sekarang kalian sudah nikah, harusnya panggilannya gak secanggung ini lagi."
Firda terdiam. Ya, memang begitu harusnya. Tapi mau bagaimana? Sampai sekarang pun mungkin Barra belum bisa menerimanya.
Sebenarnya sih Firda juga belum sepenuhnya bisa menerima, tapi sedikit demi sedikit dia mulai merasa nyaman dengan Barra. Dan mau tak mau, dia harus terbiasa dengan kehadiran pria itu.
***
Barra menolehkan kepala saat mendengar pintu kamar yang dibuka. Dia hanya diam bersandar pada headboard ranjang sambil memperlihatkan Firda yang memasuki kamar.
"Kamu bawa apa?" tanya Barra sambil melirik pada nampan yang ada di tangan Firda.
"Saya bawain bubur sama obat," jawab Firda sambil duduk di tepian ranjang, menghadap pada Barra. Sedang nampan tadi ia letakkan dipangkuannya.
"Pak Barra makan dulu, nanti baru minum obat."
Aroma wangi dari kaldu ayam begitu menyeruak ke indera penciuman Barra saat Firda mengaduk buburnya. Dari wanginya saja Barra sudah yakin jika bubur itu sangat lezat.
"Ayo, buka mulutnya, Pak."
Barra terkesiap kala Firda menyodorkan sesendok bubur ke depannya. Dengan tanpa diduga, mulut Barra malah terbuka sendirinya hingga menerima suapan Firda.
Firda tersenyum melihat sang suami mau memakan buburnya. "Oh ya, ini tuh buatan saya sendiri lho, Pak. Pasti enak, kan?"
Barra hanya mengangguk dengan tatapan polosnya. Tapi, dia tidak berbohong. Bubur ini benar-benar memanjakan lidah Barra.
Firda terus menyuapi sang suami hingga satu mangkuk bubur ayam buatannya sudah habis oleh Barra sendiri. Wanita cantik itu terkekeh pelan saat mendapati bibir suaminya yang belepotan. Dia meraih tisu dan mengusapkan perlahan pada sudut bibir Barra.
Tubuh Barra membeku. Ditangkapnya tangan Firda yang masih mengusap bibirnya.
Entah mengapa, melihat tingkah dan tatapan Barra yang seperti ini malah membuat jantung Firda tak aman.
"Firda?"
"Hem?"
"Bisa buatin bubur ayam untuk saya tiap hari?"