Arsenio terus menyeret Aileen hingga langkah kaki mereka berdua berhenti di sebuah bangku kayu yang letaknya tepat dibawah pohon beringin yang tumbuh sangat rindang, hingga cahaya matahari di jam dua belas tepat ini tidak bisa menembus area bawah pohon. "Duduk!" perintah Arsenio sembari pemuda itu bergerak mendudukkan bokongnya di permukaan kursi kayu. Aileen yang masih marah ke Arsenio enggan untuk menuruti perintah laki-laki remaja itu. Bahkan sekarang dia memilih untuk tetap berdiri dengan kepala menoleh ke kiri pun kedua tangannya ia silangkan di atas dadaa. "Ayu ...." Arsenio mulai mengeluarkan nada peringatan untuk Aileen, tapi gadis remaja itu tetap saja tak bergeming. Malahan sekarang dia semakin enggan untuk melihat ke arah Arsenio yang tadi samar-samar dia dengar menghela

