Perempuan yang aku yakin di balik kerudungnya rambutnya telah memutih itu, terus menatapku dalam diam. Otak ini berusaha keras menerjemahkan arti sorot matanya. Kaki ini membeku dan tetap berdiri di depan suami dari wanita itu. “Annas, ini benar-benar anakmu?” ucapnya sambil terus menatap wajah ini dengan lekat. Sejenak jeda diam menyeruak, mungkin jeda ini juga mengiringi kekagetan semua orang dalam ruangan ini. Seperti aku yang merasa seolah-olah sedang memegang kabel yang terkelupas yang teraliri arus listrik. Telinga ini mendengar beberapa orang yang mengembuskan napas panjang yang dilakukan dalam waktu yang hampir sama. “Ya Bu, Annas yakin sekali,” jawab mantan suami emak dengan suara lirih. “Bu, Abbas sudah memastikannya, lagian wajah Rayya juga paduan dari Annas dan Fatima

