Laki-laki yang beberapa helai rambutnya mulai memutih itu terlihat terkejut. Tapi sesaat kemudian mantan suami emak itu tersenyum, nggak ada terpancar sediki pun kemarahan di wajahnya. Laki-laki yang duduk di dekatku ini kembali mengusap-usap ubun-ubun kepala ini. “Apapun yang terjadi, Rayya adalah anak perempuannya abi, mungkin pertemuan mendadak ini membuat mereka atau bahkan abi sendiri tentu begitu asing di mata Rayya. Tapi, mereka semua ada pertalian darah dengan Rayya. Bukankah menyambungkan tali silaturahmi lebih disukai Allah?” ujarnya lembut. Aku mengalihkan pandangan sambil mendengkus pelan. Bukan aku ingin menepikan Allah sebagi rabb ku yang paling kucintai, tapi aku harus bergulat dengan diriku untuk menepikan apa yang membuatku terpisah dari Emak ini agar nggak mengganggu

