Bu Nyai?

1068 Kata

“Ayo Rayya! Masuk!” ajak laki-laki yang harus dipanggil abi itu, kemudian ia merangkul bahu ini. “Beri Rayya waktu, Dek, mungkin dia masih terkejut dengan semua yang serba mendadak ini,” ucap ustaz pewawancara itu. “Ah ... ayo Nak! Apa perlu abi gendong? Ah ... abi sudah melewatkan masa itu ya ...,” ucapnya penuh sesal. Aku ingin sekali terkoneksi dengan langsung dengan kalimatnya itu, tapi emosi ini seolah terpisah dengan laki-laki yang terasa asing ini. Aku menatap kedua laki-laki yang dengan sabar menungguku itu. “Sementara ‘kan, Mak? Ini sementara ‘kan, Mak?” ucapku dalam hati dan melangkah dengan bismilah ke rumah megah ini sambil berharap waktu “sementara” itu segera terlalui. Kedua laki-laki yang memandangku itu tersenyum lebar melihatku akhirnya bergerak dari tempatku berd

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN