Jantung ini berdetak tak normal, baru kali ini aku mengayuh sepeda untuk mengantar pesanan dengan merasa sangat berat. Emak berubah drastis tanpa kutahu sebabnya. Aku menginat-ingat kesalahan yang mungkin membuat Emak mendadak berubah seperti orang lain, tapi ingatan ini tak menemukannya. Kemudian memori ingatan ini memutar detail kejadian demi kejadian dari sesaat sebelum Emak pergi memenuhi undangan wawancara itu sampai detik sebelum aku meninggalkan rumah. “Eits!” seruku tiba-tiba, kaki ini berhenti mengayuh. Aku baru ingat, tadi lupa mengucapkan salam ketika pulang dari batal mengunjungi rumah Arofah. Biasanya jika itu terjadi, Emak akan menyuruhku berdiri di depan pintu dan mengucap salam yang terlupa. Tapi, tadi enggak, kenapa Emak mendadak jadi nggak peduli gitu? Aku kembali

