Aku berusaha menenangkan diri ... menghindari gangguan serangan kecemasan mendadak. Berulangkali hidung ini melakukan tarik embus napas yang dalam. “Emak ...,” gumamku lirih. Kelopak mata ini terpejam sambil dalam benak sejenak berusaha meminggirkan kebingungan, menyisihkan semua pertanyaan yang gagal mendapat jawaban. Beberapa saat kemudian aku beranjak dengan gontai dan berjalan dengan tak semangat menuju tangga kayu. Dengan tanpa suara, kaki ini menapaki satu-satunya alat penghubung antar lantai di rumah papan yang nggak luas ini. “Mak,” panggilku lirih. Suara ini terhimpit dalam celah ketakutan dan keingintahuan yang yang saling mendesak. Emak tak menjawab, pura-pura enggak dengar mungkin, tangannya terus meletakkan kue-kue siap kirim itu dalam wadah plastik berwarna putih s

