Aku keluar setelah pamit dan berpura-pura seolah semua baik-baik saja. Dengan berat, kaki ini mengayuh pedal sepeda ke arah rumah Arofah, ya ... dari ketiga penjaga pos satu, dua, tiga, dan empat itu, Arofah memang paling dewasa. Tapi, apa iya aku akan menceritakan ini padanya? Mendadak, kayuhan kaki ini kembali berhenti di dua rumah sebelum rumah Arofah tercapai. Dengan cepat aku turun dari sepeda, membalikkan arahnya dan bergegas kembali mengayuh alat transportasi genjot dengan keranjang dan kursi boncengan ini. Kali ini aku menuju masjid Imaddudin. “Ee ...,” gumam mulut ini ragu ketika sedang berdiri di ruang yang biasanya digunakan oleh asatidz. “Rayya mencari Ustaz Hamzah?” ucap seorang ustaz yang mendadak keluar dari ruangan itu. Maunya sih kepala ini mengangguk, tapi ‘kan ngga

