Dan untuk beberapa detik, Aluna hanya berdiri diam di tempatnya, ponsel masih di tangan, menatap layar yang sudah gelap. Lalu ia menghembuskan napas panjang. Bahunya yang tadi terasa berat… sedikit mengendur. Ia berjalan kembali ke tengah ruangan, menatap apartemen itu sekali lagi. Namun kali ini, pandangannya berbeda. Bukan lagi penuh penyesalan. Melainkan… keputusan. “Udah ya,” gumamnya pelan, seolah berbicara pada ruang itu. “Makasih.” Senyum tipis kembali muncul di wajahnya. Kali ini lebih tulus. Lebih hidup. Karena akhirnya— ia punya alasan untuk tersenyum lagi. Dan yang lebih penting— ia mulai mengambil kembali kendali atas hidupnya. *** Lampu restoran itu redup, hangat, dan sengaja dibuat intim—jenis tempat yang cocok untuk pasangan yang ingin terlihat dekat, meski kede

