Perasaan Yang Membuncah

2387 Kata

Terkadang untuk menjadi bahagia hanya perlu syukur dan ikhlas. Namun keduanya memiliki sisi sulit yang saling bertentangan. "Maxeeeeeeeeeeeeeel, aku mules!" pekik Devasya. Maxel yang masih di dalam kamar mandi cepat-cepat keluar hanya dengan memakai handuk dengan rambut penuh busa. "Ma, Devasya muleeeeeeees!" teriaknya tak kalah heboh. "Maxel!" hardik Devasya. "Selesaikan mandinya cepetan!" lanjutnya lagi. "Katanya kamu mules, ayok ke dokter." Wajah Maxel tampak tegang. "Aku mules mau ke kamar mandi, maksudku cepetan mandinya." Maxel menepuk keningnya. "Astaga, Baby! Aku sampe gemeteran." "Kamu mandi di kamar mandi lain, ya. Aku udah nggak betah." Devasya nyelonong masuk ke kamar mandi, meninggalkan Maxel yang masih dalam mode terkejut. "Devasya mules? Ayok berangkat sekarang!" Di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN