Kepercayaan itu seperti jiwa yang bisa pergi tanpa bisa kembali. Flashback On Sintya menyapa dengan ramah, dengan senyum yang mengembang sempurna, seperti biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. "Kamu bawa kabar apalagi, Nendra? Aku udah nggak sabar dengernya." Nendra mendecih kesal. "Kabar apa lagi yang Anda inginkan, Bu Sintya?" "Tentu saja aku menunggu kabar, Maxel," ucap Sintya lalu duduk di hadapan Nendra. Nendra menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu bersedekap daada. "Anda pasti akan sangat kecewa jika Anda tahu kalau, Bos Maxel, amat sangat bahagia saat ini." Nendra mendekat, tubuhnya agak condong ke arah Sintya. "Bahkan sangat antusias menyambut kelahiran kedua bayi kembar mereka," tambah Nendra dengan wajah berbinar. Sedang Sintya hanya menatap datar. "Sebenarnya ap

