Nyatanya yang sulit itu bukan memilih, tapi bertahan dalam pilihan. "Pak Sandy?" Nendra melihat Sandy berdiri di depan kursi tunggu di depan ruang ICU. Nendra kemudian melirik jam tangannya yang jarumnya masih menunjukkan pukul tujuh pagi. "Nendra?" Sandy pun tak kalah terkejut. Baru saja kemarin mereka bertemu di rumah Devasya, sekarang sudah bertemu lagi di rumah sakit. Mau bilang jodoh, tapi kok nggak mungkin. Oke, skip! Nendra mendekat. "Anda, ada perlu apa di sini?" "Ah, saya datang untuk mengunjungi seseorang," jawab Sandy santai. "Tapi, aku lihat dia nggak ada, aku telpon juga nggak aktif." Nendra memicing. "Sama, saya juga." Kemudian mereka terkekeh bersama. "Hei, kalian?" Terdengar suara seseorang dari arah belakang Nendra dan Sandy. "Niken!" panggil keduanya. "Apa kalia

