Jika mencintaimu adalah kebahagiaan, maka memilikimu adalah sebuah keharusan. Maxel mendengar ponselnya berdering, lalu menuju meja untuk mengambilnya. "Sintya?" Maxel memutar bola mata. Mau apa lagi dia? Ternyata, setelah kejadian di lobby kemarin, Sintya masih saja nekat menghubunginya sepagi ini. Maxel tidak ingin merasa terlalu percaya diri meyakini jika Sintya begitu menginginkannya, meski tahu dirinya telah menikah, hanya saja Sintya yang selalu dan selalu berada di sekelilingnya membuatnya tidak nyaman. Tidak ada alasan khusus untuk itu. “Ada apa lagi, Sin?” jawab Maxel bahkan tanpa basa-basi. “Maxel, hari ini kamu nggak ke kantor?” Maxel memejam geram. “Enggak.” Sintya menghela nafas dengan sengaja. “Maxel, walaupun kamu udah menikah bukan berarti urusan kita selesai. Aku

