Maxel memeluk erat tubuh Devasya, menumpahkan air matanya disana, sampai pada tangan Devasya yang memegang pipinya mulai terkulai lemas, dan beberapa saat kemudian tak ada pergerakan apa pun lagi darinya. "Sya! Devasya! Baby! No! Jangan! Sayaaaaang! Devasya! Jangan pergi!" Hening, gelap, sesak, tidak ada cahaya, suara maupun ruang yang luas. "Aaarrrgghh!" Maxel terbangun dengan keringat mengucur deras dari keningnya, sekujur tubuh pun basah, nafasnya menderu cepat, jantungnya pun tak mau kalah dalam memompa. Kemudian matanya memindai sekitar, tarikan dalam disertai embusan nafas lega tercetak keluar dari bibirnya. "Mimpi macam apa itu tadi? Kenapa seram sekali?" Maxel mengusap kasar wajah dan rambutnya yang berpeluh. Mimpi? Apa benar itu tadi hanya mimpi? Tapi kenapa terasa begitu n

