17 : miss you a lot

1851 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Halo, Jane?” Sapaan itu terdengar di telinga Jane kala panggilan videonya akhirnya terjawab. Perempuan itu mengulas senyum menyadari kalau kantuk dari ekspresi wajah dan suara cowok itu terlihat sangat jelas. “Wake up, sleepyhead.” “Ini udah bangun,” Ryan mengucek matanya. Sementara posisinya dia mencoba beranjak dari posisi tidurnya dan kini terduduk di atas ranjang. “Kenapa?” Cowok itu melirik ke arah jam dinding. Pukul delapan pagi. “Tumben sih belum bangun jam segini?” “Iya, tadi subuh baru tidur.” “Balik dari Bandung tengah malem?” Ryan mengangguk jujur. Belakangan ini, Ryan memang harus bolak-balik dari Jakarta ke luar kota. Entah Bandung, entah Surabaya, Semarang, dan yang lainnya. Jane sendiri sebenernya udah diceritain sama Ryan urusan apa yang lagi dia kerjakan. Tapi Jane tetep gak paham. Intinya, Ryan lagi dikasih tanggung jawab sama pembukaan gym di beberapa kota yang didatangi cowok itu. Iya, gampangnya cowok itu lagi buka bisnis dengan memperluas gym yang dimiliki papanya di Jakarta dan di Singapur dengan menyebarluaskan gym di kota besar yang lainnya. Jane berdecak, merasa terganggu dengan fakta itu. “Kenapa gak nginep di hotel aja, sih?” “Laptop gue ketinggala di apartemen. Ada yang harus diberesin,” Ryan meneguk air putihnya hingga tandas satu gelas dalam waktu singkat. “So what’s up, Love? Pagi-pagi ngevidcall, gak biasanya banget?” “Ah, iya. Nanti sore sibuk, gak?” Ryan mengingat jadwalnya hari ini. “Enggak. Baru sibuk besok subuh.” “Why?” “Gue ke bandara besok. Gorontalo, remember?” “Ah, right,” Jane menghela nafas. “Lo besok subuh flight ke Gorontalo, ya?” “Iya.” “Ya udah, gak jadi.” “Loh, kenapa sih? Ngomong juga belum udah gak jadi gak jadi aja.” Jane menggeleng. “Lo harus istirahat total hari ini. Seminggu udah bolak-balik kemana-mana, kecapekan. Paham?” “Mau ngapain, Jane? Jawab pertanyaan gue dulu.” “Enggak jadi, oke? Gue bisa kesana sendiri.” “Kesana kemana?” “Ada, lah. Udah, lo di apartemen aja, nanti gue samperin kesana abis urusan gue kelar.” Ryan berdecak gak terima. “Kemana, sih? Jangan suka ngegantung, deh. Udah terlanjur video call masa gak jadi ngomong apa-apa?” “Gue cuman ada janji buat jenguk tante gue lahiran. Agak jauh rumah sakitnya, males kalau nyetir sendirian gak ada temen ngobrol,” Jane meringis—sejujurnya dia hanya sedang ingin mengemudi bersama Ryan saja mengingat belakangan ini cowok itu sibuk dan Jane sedikit... rindu. “Tapi gak papa, gue bisa ngajak Hanna.” “Hanna selalu dua puluh empat sama cowoknya,” jawab Ryan. “Sama gue aja.” “Gak usah, Ryan.” “Dan biarin lo nyetir jauh sendirian? No.” “Jangan lebay, gue udah biasa ya sebelum ada lo kemana-mana sendirian.” “Dan karena sekarang udah punya gue, lo kemana-mana bisa ngandelin gue.” Jane berdecak. “Tuh, kan. Malesnya tuh kayak gini, deh, kalau udah ngasih tahu lo.” “Problem solved, ya?” Ryan mengambil keputusan seenak jidat, gak menghiraukan keluhan cewek di seberang sana. “Nanti jam setengah tiga gue ke kos lo. Alright?” Jane menyerah. Toh gak ada gunanya dia mendebat Ryan yang kalau urusan kayak gini gak bakal mau ngalah itu. Lagi pula sejujurnya dia senang karena akhirnya dia betulan gak sendirian ke rumah sakit. Entahlah, harus Jane akui sejak dia memiliki Ryan di hidupnya—oke, apa dia bilang barusan?—Jane memang berubah sedikit manja. Kalau dulu dia terlalu independent apa-apa sendirian pasti bisa, apa-apa mandiri dan gak ngegantungin harapan ke orang, sekarang Jane malah selalu ngandelin Ryan. Jane tahu Ryan malah seneng dia repotin. Cowok itu memang punya hati dan niat yang tulus. Tapi tetep aja kalau inget kadang Jane malu sendiri. Apa-apaan coba sok manja begitu? Mana aja Jennie Laura dulu kayak gitu? Gak ada! “Gak usah ke kos. Gue aja yang kesana. Biar gak perlu balik arah jalannya, jadi sekalian.” “Gak papa?” “Gak papa, Ryan.” Cowok itu mengukir senyum, kemudian sekali lagi dia melihat jam dinding. “Mau kesini sekarang aja?” tawarnya akhirnya. “Dan ngapain gue pagi-pagi ke apartemen lo?” Ryan mengedikkan bahu, tapi dia menahan senyum agar tak makin sumringah. “Don’t you miss me?” Ya iyalah! Jane pengen banget teriak begitu di depan muka Ryan. Siapa yang gak kangen kalau mereka yang biasanya tiap hari ketemu—ya gak setiap hari juga sih sebenarnya, tapi emang sesering itu—tapi sekarang karena Ryan ngurusin perintah bokapnya, mereka jadi jarang banget ketemu? Jane jelas kangen. “Gak, tuh.” Tapi yang namanya cewek emang suka banget gedein gengsi.  “Ya udah, gue aja yang kangen.” Jane terkekeh kecil setelah itu. “Iya, gue habis ini kesana. Agak siangan tapi. Jam sepuluh, ya?” “Kangen, kan, lo?” “Lo nanya kayak maksa, deh.” Ryan tertawa. “Iya, kangen.” Tawa Ryan seketika berhenti. “Apa, Jane?” “You heard it.” “No i didn’t.” “Ya udah.” “Apa, gak?” “Apa, sih?” Jane tergelak. “Gue cuman bilang kangen. Jangan heboh.” Ryan merasa dia balik jadi bocah SMP yang kesemsem bucin sendiri cuman karena denger gebetannya bilang kangen. Sumpah, dia seseneng itu! “Jesus...” “Udah? Puas?” Lengkung senyum di bibir Ryan sama sekali belum luntur. “Miss you too, Baby. A lot.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Jane betulan datang jam sepuluh. Gak, ding, telat setengah jam. Dia datang jam sebelas pas Ryan sibuk main PS. Kedatangan cewek itu di apartemen mengundang suasana hati yang bagus bagi Ryan. Oh, tentu saja Ryan senang. Sembari menaruh tas selempangnya di atas sofa kamar cowok itu, Jane melepas jaket dan sandal rumahnya yang dia pakai sejak memasuki ruang tamu tadi. Dia menghampiri Ryan yang entah kenapa rambutnya masih basah, padahal cowok itu bilang tadi mau langsung mandi, kan? Kenapa pula sampai jam segini belum kering juga. “Baru selesai mandi?” ujar Jane sambil mengusap sekilas rambut cowok itu sebelum ia duduk bersila di karpet seperti apa yang dilakukan Ryan, kemudian menatap layar yang menyajikan permainan tembak-tembakan yang tak Jane mengerti. “Gak dihair dryer, ya?” “Iya, belum. Pakai baju juga belum.” Iya, sih. Jane harusnya gak perlu tanya begitu karena kenyataannya, Ryan memang belum pakai baju, hanya pakai bawahan selutut, menunjukkan banyak tato seksi di lengan-lengannya yang tak tertutupi apapun—mendadak Jane jadi panas dingin sendiri—apa lagi cowok itu rambutnya masih basah. Jane berdiri lagi, tapi Ryan gak menoleh karena dia lagi fokus main. Cewek itu kembali setelah suara berisik dari laci nakas yang dibuka dan ditutup beberapa kali, setelahnya Jane duduk di atas ranjang, di tepi ranjang tepatnya, sementara Ryan ia suruh untuk tetap duduk di karpet, hanya saja kini jadi di antara kaki-kaki Ryan. Jane ingin mengeringkan rambut cowok itu. “Colokin bentar ke stop kontak.” pinta Jane sambil mengulurkan kabel hair dryer ke tangan Ryan. “Oke,” Ryan langsung mempause game-nya, kemudian lanjut main dan membiarkan Jane mulai sibuk mengeringkan rambutnya. “Makasih, ya.” “Mm-hm.” “Tadi ngapain aja sebelum kesini?” “Gak ngapa-ngapain. Cuman mandi, terus goleran, terus baru berangkat.” “Kirain ngapain dulu, soalnya gue minta lo kesini dari jam delapan.” Jane nyengir, walaupun Ryan gak bisa lihat ekspresi cewek itu. “Tadi pas lo nyuruh kan gue belum apa-apa. Baru bangun juga.” “Gak kelihatan kayak baru bangun.” “Kenapa?” “Udah seger tadi pas video call.” “Soalnya gue abis jogging sama Hanna.” Ryan ber-oh ria. “Jangan deket-deket. Panas di kulit kepala.” “Ini jauh, Ryan.” Cowok itu diem. “Udah sarapan?” Ryan mengangguk. “Sama roti.” “Kenyang emang?” ledek Jane karena dia tahu porsi makan Ryan tuh banyak. “Ya enggak.” “Harusnya tadi bilang, biar gue bisa sekalian mampir beli makan.” “s**t,” Ryan mengumpat tiba-tiba, membuat Jane jadi langsung ikut noleh ke layar. Entah sejak kapan cowok itu malah main Mario, dan kini Marionya udah game over. Ryan menaruh stik pada tempatnya, memilih gak lanjut ngegame. Toh udah ada Jane disini. Jadi setelah membereskan gelas dan bungkus camilan yang tadi dia taruh di karpet semua, cowok yang bertelanjang d**a itu langsung menghampiri Jane yang kini lagi ngegulung kaber hair dryer. Dia meninggalkan kecupan singkat di sudut bibir Jane sebelum mendorong bahunya pelan, membuat cewek itu terpekik kaget karena tiba-tiba diserang—well, walaupun belum benar-benar diserang. Ryan dengan cekatan memindahkan hair dryer di tangan Jane untuk ia taruh di atas nakas, kemudian kembali membungkam bibir perempuan itu. “Miss you,” gumamnya di antara ciuman. Jane terkekeh dan mendorong pundak Ryan agar menjauh dan memberinya ruang untuk bernafas. “Kita cuman gak ketemu berapa hari, sih?” Bohong. Jane juga kangen sebenarnya. “Tetep.” Kini yang diserang laki-laki itu adalah leher Jane, membuat jemari cewek itu jadi bergerak mengusap punggung kokoh Jane, sesekali mengusap belakang kepala Ryan dengan lembut. “Don’t leave any marks, Ryan.” “Hm...” Ryan menggumam gak jelas, tapi dia mematuhinya. Ryan hanya melabuhkan ciuman ringan di lehernya, di beberapa spot disana, tidak berniat meninggalkan bekas kemerahan karena ia tahu besok bukan hari libur kuliah, dan nanti cewek itu akan bertemu dengan keluarganya. Bisa gawat. Ryan menjauh setelah puas, mengusap leher putih Jane yang basah karena salivanya, lalu menarik kedua tangan Jane untuk bangkit dari posisi tertindihnya tadi. Jane pasrah aja, toh dia suka. Lagi pula ngelihat Ryan sangat seksi dan panas siang ini, Jane siap-siap aja mau diapa-apain. Bener-bener kayak gak ada harga dirinya lagi kalau di depan Ryan. Padahal biasanya jual mahal mulu. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN