* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Setelah melakukan sesi percintaan singkat, hanya sekedar demi memuaskan rindu Ryan pada Jane dan sebaliknya, mereka berdua berakhir ketiduran. Padahal sebenernya gak capek-capek banget, sih. Tapi mungkin karena keduanya udah merasa nyaman dengan posisi saling memeluk tubuh telanjang satu sama lain di bawah selimut, ditambah gak ada jadwal apapun selama beberapa jam ke depan selain nemenin Jane ke rumah sakit, jadi pilihan terbaiknya adalah tidur siang.
Kemudian Ryan bangun lebih dulu—selalu seperti itu. Dia terbangun di pukul setengah tiga sore namun tidak beranjak kemana-mana. Dia hanya meraih ponsel dan mengeceknya, kemudian membalas pesan papanya yang meminta dia untuk mengirim dokumen sesuatu, yang dijawab Ryan dengan dua kata saja.
“Nanti, Pa.”
Kemudian karena tidak ada hal penting lain, Ryan menaruh lagi ponselnya, kini memilih untuk membenarkan letak selimut Jane agar mampu menutupi hingga pundak perempuan itu. Gak aman baginya melihat pemandangan belahan montok perempuan tersebut sementara milik Ryan bisa bangun kapan saja.
Melihat Jane tidur dengan tenang seperti ini, ditambah wajah natural favoritnya mengingat gadis itu sempat mandi setelah bercinta tadi, membuat Ryan tidak tahan untuk tak membubuhkan kecupan di pipinya satu kali, tak ingin membangunkan Jane.
Dia merapikan rambut perempuan itu yang sedikit berantakan, beberapa helainya berjatuhan di wajah perempuan itu, menghalangi pandangannya. Ryan terkekeh kecil kala menemukan jejak kemerahan di leher Jane.
Kapan dia membuatnya? Perasaan tadi Ryan sangat dapat mengontrol diri untuk gak meninggalkan jejak di tempat terbuka. Beda lagi kalau di tempat tertutup, tadi saja Jane sempat mengomel karena banyaknya kiss marks yang dia tinggalkan di sekujur d**a Jane, hingga perut, bahkan punggung Jane kala perempuan itu menungging.
Entahlah. Ryan kalau udah ketemu Jane emang suka gak waras sendiri. Beruntung dia tadi hanya meminta satu ronde saja, walaupun tidak cukup dan masih ingin menambah, tapi dia tidak ingin Jane mengira Ryan hanya merinduhkan tubuhnya. Ryan ingin Jane tahu bahwa yang dia rindukan adalah Jennie Laura, seluruhnya dari seolah Jane, dia merindukan kebersamaan mereka.
Ketika Jane hendak meringsut dengan mendekatkan kepala ke d**a Ryan, pertanda bahwa Jane masih ingin lanjut tidur dan kini menyamankan posisi, Ryan segera menahan pundak Jane. Dia melabuhkan kecupan-kecupan di seluruh wajah Jane secara acak-acakan. Membuat perempuan itu mendesis dalam tidurnya, tidak terima kalau diganggu.
“Wake up, sleepyhead,” Ryan belum berhenti menciumi gadis itu, kini bahkan dia sudah menangkup pipi Jane dengan kedua tangannya dan menggigiti pipi cewek itu. “Bangun. Gak jadi ke RS kita?”
“Stop it.” Jane mendorong wajah Ryan, “Jam berapa emang?”
“Setengah tiga.”
“Give me 10 minutes. Ngantuk berat.”
Ryan berdecak. “Makanya jangan begadang.”
“Gue begadang, kan, bukan buat mabok-mabokan.”
“Tetep. Siangnya lo jadi gampang ngantuk dan kecapekan.”
Jane gak menghiraukan. Dia tetap memejamkan mata sementara kedua tangannya ia tindih dengan pipi, mengingat posisi tidurnya masih miring menghadap Ryan. Tapi karena terlanjur udah dibangunin, Jane gak bisa tidur lagi.
Ryan tersenyum puas pas cewek itu akhirnya melek lagi. Dia tahu Jane pasti udah gak jadi ngantuk.
“Ck, lo sih,” omel Jane tapi akhirnya tetap bangun dari posisi berbaringnya. Dia menarik selimut, membuat tubuh telanjang Ryan terekspos tapi Jane gak peduli. Dia harus menyelamatkan tubuhnya sendiri.
Ryan cuman bisa geleng-geleng kepala sambil beranak dari ranjang. Dia mengambil baju dan celana baru di lemari kemudian memakainya, sementara Jane udah melesat duluan ke kamar mandi untuk cuci muka masih dengan bawa-bawa handuk.
Karena mereka berdua udah sempet mandi tadi pas habis bercinta, mereka sama-sama gak mau buat mandi lagi. Toh cuman beda berapa jam. Lagi pula mereka udah bersih dan masih seger.
“Bawa baju ganti?” tanya Ryan ketika melihat cewek itu sudah berpakaian rapi dan siap berangkat.
Karena seingatnya, tadi Jane ke apartemennya cuman pakai legging dan sweater, gak niat nge-ootd bagus sama sekali.
Jane mengangguk sebagai jawaban. “Ya kali gue ke rumah sakit cuman pakai legging. Lo udah? Berangkat sekarang aja kalau udah.”
“Oke. Mampir makan dulu, ya?”
“Iya.”
Jane sampai menepuk dahinya karena dia baru ingat sesuatu.
“Lo belum makan dari pagi, ya?!”
Ryan meringis.
Gara-gara cowok itu minta bercinta lebih dahulu, Jane sampai lupa kalau seharusnya cowok itu sarapan biar lambungnya gak kumat. Cowok itu punya maag, juga punya penyakit lambung yang suka dikit-dikit ngancem kalau pemiliknya telat-telat makan. Dan lihat sekarang apa yang terjadi, cowok itu malah belum makan apapun dari pagi—bahkan dari kemarin malam—sampai sekarang jam udah menunjukkan pukul tiga lebih lima belas sore.
“Lo tuh—“ Jane mendesis kesal. “Tau, ah.”
“Udah, gak usah ngomel. Ini kan mau cari makan.”
Jane mendecih tapi akhirnya segera menggapai tas dan jalan duluan. Dia sempat-sempatnya menepuk perut Ryan, membuat cowok itu merintih kesakitan karena perutnya emang lagi sakit—iya, efek dia belum makan dari pagi udah terasa dari tadi pas dia beranjak dari kasur.
“Sukurin.”
Ryan cuman bisa geleng-geleng kepala.
Jane tuh kalau ngasih perhatian ke orang selalu lewat cara yang gak diduga-duga. Mana ada khawatir sama Ryan tapi perutnya malah ditepuk keras kayak tadi. Kalau Ryan ini masih SMP, pasti dia udah nangis. Masalahnya perutnya bener-bener perih!
Benar-benar gak berperi kemanusiaan. Untung Ryan sayang.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Ryan menghabiskan dua mangkuk rawon seorang diri, Jane sampai melongo doang. Pasalnya, rawon di tempat langganan mamanya Jane ini punya porsi banyak di setiap piringnya. Dia aja tadi pesen setengah porsi karena takut gak habis. Eh Ryan malah pesen dua porsi.
Perut cowok tuh kenapa bisa nampung makanan banyak banget gitu, ya? Jane bertanya-tanya dalam hati. Dia juga ingat kalau mantan-mantannya juga makan banyak banget.
“Masih mau nambah lagi, gak?”
Ryan ketawa denger itu. “Gak, lah. Udah kenyang,” tuturnya sambil menaruh plastik donat yang baru dia buka untuk ia taruh di atas mangkuk kotor bekasnya. “Yuk.”
Jane mengangguk. Dia menghabiskan es jeruknya yang tinggal sedikit kemudian berdiri mengikuti Ryan yang ke kasir lebih dulu.
“Habis ini jangan lupa mampir ke toko peralatan bayi, ya. Gak tahu, deh, dimana. Abis ini gue gmaps-in.”
Ryan mengangguk aja. “Mau beli apa emang?”
“Gak tahu, lihat disana aja nanti.”
Ryan mengangguk lagi.
Butuh waktu hampir lebih dari lima belas menit sampai akhirnya mereka menemukan toko peralatan bayi yang dimaksud. Jane dan Ryan masuk bersamaan. Mengingat tokonya gede banget, dari luar mereka udah disapa sama dua pegawai perempuan yang mempersilahkan masuk dan menanyakan.
“Ada yang bisa dibantu?”
Tapi Jane menggeleng saja. Dia ingin cari sendiri.
“Lucu banget wanginya.” ujar Ryan mengomentari bau toko ini yang mirip bedak bayi. “Bau bayi.”
“Sengaja, lah. Kan namanya toko peralatan bayi.”
Ryan mengikuti Jane yang pergi ke arah boneka, tapi Ryan segera berujar. “Jangan boneka, yang pasti kepake aja. Bayi, mah, gak mainan boneka.”
“Apa dong terusan?”
Ryan mengedarkan pandangan, kemudian menunjuk salah satu rak. “Tuh, cari baby bouncer aja.”
“Tante gue udah punya stroller begituan, tau. Udah beli tiga macem bahkan pas tahu dia baru hamil sebulan.”
“Hm,” Ryan cari-cari lagi. “Selimut? Tapi masa selimut doang? Sekalian tempat tidur tenda buat bayi aja.”
“Udah punya tante gue.”
Ryan berdecak. “Ya gak papa, Jane. Kalau soal persiapan, kan, pasti sebenernya tante lo juga udah punya semuanya.”
Jane bergeming. “Iya juga, ya?”
Ryan cuman terkekeh sambil menepuk kepala Jane seperti anak anjing, kemudian menyuruh Jane untuk pergi ke salah satu rak yang lain saja.
Cowok itu menarik stroller belanjaan, membuat Jane mengernyit bingung.
“Gue cuman mau beli satu, ngapain bawa beginian?”
“Gak papa, dibeliin lengkap aja sekalian.”
“Hah?”
Ryan gak menjawab. Kini dia malah sudah berhenti di depan kotak besar berisi paket baju dan kaos kaki bayi, membuat Jane yang masih bingung tapi akhirnya ikut milih disitu juga.
“Cowok apa cewek, sih?”
“Cewek.”
Ryan akhirnya mengambil kotak paling besar berwarna pink, memasukkannya ke dalam stroller. Terus lanjut jalan, meninggalkan Jane.
“Ryan, ih! Lo emang mau ngasih hadiah juga?”
“Iya. Kan gue ikut ke rumah sakit, gimana, sih?”
“Gak usah bawa banyak-banyak! Di rumah sakit kan tante gue juga belum bisa balik hari ini.”
“Oh ya juga, ya? Ya udah, dikirim ke alamat rumahnya aja.”
Jane memutar bola matanya. Bener-bener gak paham kenapa Ryan malah semangat belanja toko peralatan bayi padahal yang lahiran kan tantenya Jane, bukan tantenya Ryan. Cowok itu kembali memasukkan paket popok, minyak kayu putih, bedak, dan lain sebagainya. Jane udah gak punya keinginan buat melarang.
Percuma ngelarang sultan, mah. Yang lahiran siapa, seolah Ryan sendiri yang mau punya anak. Belanjanya bener-bener lengkap.
“Udah ini aja, lah,” Jane merebut stroller di tangan Ryan dan memasukkan kardus berisi selimut tebal dan cantik yang ia ambil tadi ke dalam sana. “Patungan aja.”
“Gak usah, gue aja.”
“Ssst!” Jane mendelik mengancam Ryan, cowok itu diem. Yah, akhirnya cuman bisa ngalah.
Setelah total belanjaan yang disebutkan di kasir keluar, Ryan menegluarkan kartu debitnya lebih cepat. Dan sebelum Jane protes lagi, dia segera menjelaskan.
“Nanti TF aja kalau mau gantiin duitnya. Jangan melotot mulu.”
Jane menghela nafas. “Lain kali gak usah ikutan repot begini. Gue kan ngasih hadiah buat ponakan gue.”
“Ponakan lo juga ponakan gue.”
Jane menahan senyumnya yang tiba-tiba hendak terulas manis.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *