19 : side effect of meet an ex

3442 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Setelah memberi barang-barang dan membawa belanjaan ke dalam mobil, yang mana masih aja gak bisa Jane pahami bagaimana bisa cowok itu menghabiskan uang hampir dua puluh juta padahal tantenya Jane bukan siapa-siapanya Ryan, keduanya memutuskan untuk langsung ke rumah sakit. Sebenarnya jarak antara toko peralatan bayi dan rumah sakit itu gak juag, makanya gak lama setelah itu mereka udah nyampe di rumah sakit. Pas keduanya udah bersiap turun, Jane menerima telepon dari mamanya. “Iya, Ma?” “Kamu dimana?” “Di rumah sakit.” “Hah? Ngapain?” “Kok ngapain? Kemarin yang nyuruh aku ke rumah sakit siapa?” “Jangan bilang kamu mau nemuin tantemu disana?” Jane mengernyit bingung dan belum membuka suara. “Jane, mama kemarin kan bilang, kemaren malem tantemu udah dipulangin! Jadi kalau kamu niat jengukin, ya jengukin ke rumahnya!” “Loh? Hah?” Jane mengerjap bingung, kemudian langsung menegakkan punggung emosi sama mamanya. “Mama kemarin gak bilang gitu!” “Apaan, orang mama kemarin kan nanya, kamu mau jenguk kapan? Kamu jawabnya besok. Terus mama bilang, kalau besok udah gak di rumah sakit—“ “Mama bilangnya kalau besok masih di rumah sakit!” “Ngaco kamu. Makanya kalau mama telepon tuh yang fokus, jangan disambil ngerjain yang lain.” Jane berdecak. Dia bigung ini sebenarnya siapa yang salah. Seingatnya, sang mama emang bilang bahwa hari ini tantenya masih di rumah sakit, sementara mamanya pun percaya dengan keyakinannya bahwa yang salah itu Jane. “Terus gimana, dong? Aku baru juga nyampe rumah sakit tahu, Ma!” “Ya udah, kamu ke rumahnya. Gitu aja kok repot. Kamu sama siapa? Sendirian emang?” “Sama Ryan.” “Ryan?” “Christian, Mama.” “Oooh.” Papa dan Mama Jane emang lebih suka memanggil nama Christian secara lengkap, jadi meteka suka lupa-lupa inget kalau panggilan cowok itu Ryan. “Ya udah, kamu minta tolong Ryan buat nganter ke rumah aja. Kan gak jauh banget itu.” Jane berdecak lagi. “Udah kamu jangan ck ck mulu dari tadi. Dosa!” ‘Iya, iya,” Jane berdecak lagi sebelum kemudian meringis karena keceplosan. “Ya udah, aku tutup.” “Oke, hati-hati di jalan.” Setelah panggilan terputus, Jane noleh ke Ryan yang kelihatan banget udah penasaran kenapa Jane misuh-misuh mulu di telepon. “Tante gue udah di rumah.” “Loh?” “Iya, kayaknya gue yang salah informasi,” Jane meringis. “Sori, ya.” “Gue santai. Lagian gak ada kerjaan juga. Jadi kita ke rumah tante lo, nih?” Jane mengangguk. “Mau gantian nyetir aja, gak?” Ngelihat ekspresi gak enak yang ditunjukan oleh cewek di sebelahnya, Ryan jadi maju dan mencondongkan tubuh demi memberi kecupan singkat di bibirnya. “Gak usah. Lo duduk manis aja.” “Bener?” “Iya, tapi gue ke kamar mandi dulu, ya? Udah di ujung.” “Oh, ya udah. Eh gue ikut, deh.” “Hah? Ikut gue?” “Gak,” Jane ketawa sambil melepas sabuk pengamannya. “Maksudnya gue ikut turun, gue juga mau ke kamar mandi.” “Ooh, ya udah hayuk.” Setelahnya mereka berdua turun dari mobil yang udah diparkir rapi di tempat parkir rumah sakit. Gak papa, deh, bayar lima ribu cuman buat numpang parkir karena mereka mau ke toilet. Udah terlanjur juga. Mereka berdua berpisah di dinding pembatas antara toilet perempuan dan toilet laki-laki. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Jane keluar lebih dulu. Karena tadi sebelum masuk toilet mereka—dia dan Ryan, udah janjian buat tunggu-tungguan macem anak SMP yang ke toilet bareng-bareng, jadilah sekarang Jane ambil duduk di salah satu kursi tunggu rumah sakit. Dia baru banget duduk, sampai kemudian suara seseorang menyapa. “Jennie?” Lebih tepatnya memastikan, apakah yang ia lihat betulan Jennie Laura atau bukan. Kemudian perempuan yang dipanggil menoleh, tenu saja setelah mengantungi firasat bahwa yang menyuarakan namanya tadi adalah sang mantan. Kaisar. “Jennie beneran ternyata,” ekspresi Kaiar lebih sumringah dari yang seharusnya, padahal cuman ketemu mantan. “Lagi ngapain di rumah sakit?” Diam-diam Jane meneguk ludah, perutnya tiba-tiba mulas mendapati dia bertemu lagi dengan wajah sang mantan. Belakangan ini, dia sama sekali enggak pernah kepikiran Kaisar. Kehadiran Ryan benar-benar merubah keseharian Jane, cowok itu banyak membantu Jane untuk melupakan Kaisar. Tapi kemudian sekarang dia kembali dipertemukan, lalu nama Ryan tiba-tiba hilang begitu saja di benaknya, yang ada memorinya dengan Kaisar kembali semua. “...ada urusan,” Jane berdeham, berusaha mengendalikan perasaaannya agar gak terlalu baper dengan pertemuannya ini. “Sama siapa?” Kaisar kini malah mengambil duduk di samping cewek itu tanpa izin atau basa-basi lebih dahulu. Tubuhnya menyerong menghadap Jane. Cewek itu mengumpat dalam hati. “Sama Ryan.” “Ryan?” Kaisar terlihat bingung, hanya sesaat sebelum kemudian wajahnya berubah kaku. “Cowok yang waktu itu ketemu di Gowlie?” Jane mengangguk. “Iya.” “Oh, masih sama dia?” “Hm.” Jane sedikit banyak jadi mengutuk Ryan yang kelamaan di kamar mandi. “Lo sendiri ngapain? Tumben gak sama Crystal?” “Gue mau cari kopi, dan disini karena nemenin Crystal. Dia opname?” “Sakit apa?” “Tipes, kecapekan.” “Oh, hope she getting better.” Kaisar melengkungkan senyum dan berterimakasih. Tepat ketika Kaisar terlihat membuka mulut untuk kembali bersuaa, barulah Ryan terlihat keluar dari kamar mandi, membuat Jane besyukur sekali dan langsung berdiri. “Yan!” Cowok yang dipanggil menoleh dan mendekat, langkahnya sempat memelan sesaat kala dia sadar ada Kaisar yang menemani Jane berbincang entah sedari kapan. “Udah?” tanya Jane sambil menyampirkan tas selempangnya. Ryan mengangguk lagi. Dia menyapa Kaisar sebagai formalitas setelahnya. “Lagi disini juga?” Kaisar mengangguk dan ikut berdiri. Kini Jane jadi berada di tengah-tengah dua orang tesebut. “Crystal—pacar gue--lagi dirawat di rumah sakit sini.” Ryan ber-oh ria. “Titip salam get well soon dari gue.” “Thanks, Bro.” “Balik sekarang?” Ryan noleh ke Jane. “Udah jam segini.” Jane segera mengangguk. Hatinya butuh diselamatkan dari badai sesaat yang menghancurkan proses move on-nya dari Kaisar. “Ayo.” Setelahnya, Ryan langsung berpamitan pada Jane, sementara Jane gak mau repot-repot iku pamitan. Dia malah melingkarkan tangan di lengan Ryan, bukan untuk manas-manasin—well, itu sih tujua ke duanya. Kalau tujuan pertamanya karena dia butuh pegangan. Bertemu Kaisar bener-bener masih berpengaruh itu untuknya. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Semenjak Ryan membawa Jane kembali ke mobil dan kini mereka berdua udah berada di perjalanan lagi untuk menuju rumah tante cewek itu, Jennie Laura berubah jadi pendiam. Dan pemikir. Tentu aja Ryan gak perlu menanyakan ada apa dan mengapa. Dia jelas tahu jawabannya. Ryan tak berniat untuk buka suara, membiarkan Jane tenggelam dalam lamunannya. Sementara Ryan lagi-lagi hanya bisa menerka-nerka. Apakah dirinya belum cukup baik untuk menjadi pengganti Kaisar? Apakah usahanya selama ini belum membuahkan hasil apapun selama ini? Sampai kapan Jane akan menyimpan nama Kaisar di hatinya sementara Ryan terus menunggu? Sampai kemudian Ryan tak tahan untuk tak menegur perempuan yang masih menyandarkan kepala di kaca mobil dengan menutup mulut. “..Are you fine?” Jane menoleh, kemudian mengusap kedua lengan tangannya sendiri seperti orang kedinginan, padahal bukan, dia hanya membutuhkan pengalihan untuk lamunannya barusan. “Hm, i’m fine.” “Kelihatannya enggak,” Ryan berujar jujur. “Efek mantan masih sebegitu gedenya?” Jane berharap Kaisar tidak lagi memberi pengaruh apapun pada hatinya. Jane juga ingin segera lepas dari bayang-bayang laki-laki itu. Tapi tidak bisa. Tapi masih tidak bisa. Padahal Jane sudah menerima keberadaan Ryan, sudah jatuh cinta pada cowok itu, tapi ternyata Ryan belum cukup untuk membantunya keluar dari belenggu mantan. Jane sungguh merasa bersalah. Dia bahkan baru sadar kalau ia mendiamkan Ryan sejak tadi mereka dari rumah sakit hingga sekarang perjalanan ke rumah tantenya sudah sanagt dekat. “Maaf.” Jane betulan merasa bersalah. Ryan menghela nafas, tapi tak ayal tetap memberi Jane senyum tulus dan mengusap rambutnya. “Gue gak papa.” “No, lo bohong,” Jane menyergah. “Gue nyakitin lo lagi, right?” “Jane, gue pun udah bilang bakal bersedia nunggu lo selama apapun itu, kan? It’s fine by me.” Perempuan itu betulan gak tahu kenapa Tuhan gak langsung bikin hatinya jatuh sedalam mungkin buat Ryan aja dari pada gamon ke mantan brengseknya. Ryan begitu baik, tulus, dan pengertian. “I’m trying, Yan.” “I know, Jane. Dan gue disini, oke? Gue nungguin lo berhasil. It’s okay. Take your time as long as you need.” Jane mengusap tangan Ryan yang berada di persneling, membelainya lembut dan membawanya ke depan bibir Jane. Cewek itu mengecup punggung tangan Ryan, betulan merasa bersalah karena lagi-lagi menyakiti hati cowok itu. “Gue bakal berhasil. Gue bakal pulang ke elo, Yan. Lo percaya, kan? Lo mau nunggu gue, kan?” Ryan mengangguk, senyumnya semakin melengkung. “Gue percaya.” Ryan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Jane kala cewek itu mengangkat pinggang untuk mencondongkan tubuh demi meraih bibir Ryan. Cewek itu mengecup bibir Ryan beberapa saat sebelum menjauh setelah mengusap rahang tegasnya. “Gue boleh jujur?” Jane tentu saja mengangguk. “Gue jadi ragu mau ninggal lo ke Gorontalo. Takut lo ketemu dia lagi.” Dan Jane makin lupa sama gue. Lanjut Ryan dalam hati. Jane paham ketakutan cowok itu. Dia pun sama. Mengingat sebenarnya Jakarta ini sempit dan banyak kemungkinan dia bisa ketemu—walaupun entah gimana dan dimana. “Gue bakal lebih sering video call elo. Oke?” Jane hanya bisa menjanjikan itu. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Halo, onty Janeee?” Sapaan itu keluar begitu saja bahkan sebeleum Jane dan Ryan memasuki pintu masuk rumah megah milik tantenya, Ira. Karena Ira memangbaru melahirkan dan baru pulang kemarin dari rumah sakit, tak ayal rumahnya sedang banyak tam. Semuanya berkumpul disini, kecuali mamanya yang kayaknya baru menenguk keesokan hari. Dan yang brarusan menyapa dia itu bukan salah satu ponakannya, melainkan tantenya yang satunya, Rina, yang sedang mengggendong anaknya yang masih berumur delapan bulan itu. Jane tersenyum lebar sambil membawa Ryan masuk. Sementara cowok yang dibawanya itu sedikit kikuk karena artinya seetlah ini ia harus berkenalan dengan keluarga besar Jane. Dia merasa senang sebenarnya, tapi ia pun punya rasa grogi. “Halooo, Cia!” Jane langsung menciumi pipi gembul Cia yang sedang digendong, kemudian menyalimi tantenya dan mencium pipi kanan dan kiirnya, “Waaah, sama siapa ini? Pacar?” tanya Rina sambil menggoda. Jane gak mikir dua kali buat mengangguk. “Iya, Tan. Pacarku.” Oh, jangan tanya seperti apa Ryan sekarang. Cowok itu langusng menoleh pada Jane, dengan alis berkerut, tapi bibirnya gagal menahan senyuman, Dia sanagt sennag. Walaupun mungkin saja Jane mengenalkan dia seperti itudi depan saudaranya karena Jane malas menjelaskan atau bagaimana, intinya dia kini bahagia. Ryan ssegera menyalimi tangan tantenya Jane dengan sopan. “Halo, Tante. Saya Ryan.” “Halo, Ryan. Saya Rina. Waduh, Jane. Kamu kok bisa nemu pacar cakep gini carinya dimana?” Jane ketawa. “Beli di s****e, Tan.” Mereka tergelak bersama. “Ya udah, gih, masuk aja. Yanag lahiran masih di kasur dari tadi.” “Di dalem banyak orang?” Tantenya itu mengangguk lagi. “Ya udah, kalau gitu masuk aja deh aku,” Jane noleh ke Ryan. “Diturunin sekarang aja kadonya?” Ryan mengangguk menyetujui. “Aku tinggal ya Tan,” ujar Jane berpamutan kemudian diangguki oelh Rina. Setelahnya, Jane dan Ryan mengeluarkan hadiah yang meeka beli dari toko peralatan bayi tadi yang dibeli, dan menyuruh satpam untuk membawakan ke dalam rumah dan menumpuk kannya di meja tempat menaruh hadiah. “Jane,” panggil Ryan kala Jane sudah mengajaknya menemui tante Ira dan bayinya di dalam. “Hm?” “Ini nanti bakal ketemu keluargamu lebih banyak lagi, ya di dalem?” Jane mengangguk dan tersenyum kecil kala sadar bahwa Ryan sedang grogi dan sedikit tak siap. Dia menepuk pundak Ryan. “Iya, tapi dibawa santai aja. Mereka santai kok orangnya.” “Beneran gak papa gue ikut masuk?” “Ya gak papa, lah. Orang gue udah bawa lo-nya kesini juga.” “beneran gak papa juga gue ngaku jadi pacar lo ke mereka?” tanya Ryan lagi, setengah menggoda. Jane tergelak lagi, tapi kali ini ditutupnya tawa itu dengan senyum manis si cewek. “Iya, Pacar. Gak papa, kok.” Emang Jane doang yang bisa bikin Ryan salah tingkah begini. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Tentu aja setelah mendapat booster dari Jena, yang walaupun Ryan gak tahu apa cewek itu serius atau cuman main-main doang, mood Ryan langsung berubah drastis. Dari yang awalnya bete perkara Kaisar, sekarang jadi berbunga-bunga akibat kelakuan Jane tadi. Namanya selain Christian Dave atau Ryan, ia kini juga dikenal keluarga besar Jane dengan sebutan ‘pacarnya Jennie.” Sampai kemudian... “Oh, berarti udah gak sama yang itu, ya, Jane?” tante Ira yang baru lahiran itu mengkode bibirnya membentuk nama Kaisar, yang dipahami Ryan dan Jane dengan baik. Ryan agak bingung sebenarnya. Mantan Jane kan gak cuman satu, gak cuman Kaisar doang, kenapa kebanyakan orang cuman tahu Kaisar? Padahal kata cewek itu, Kaisar aja juga gak pernah ke rumahnya. Apa Kaisar dulu seberharga itu sampai dimana-mana nama Jane selalu disambungkan dengan nama Kaisar? Jane menggeleng setelah melirik Ryan sesaat. “Enggak, tan. Dibuang ke laut aja yang itu. Sekarang dapet yang lebih baik.” Ryan tersenyum kecil mendengar jawaban perempuan di sampingnya. “Iya, yang ini lebih grapyak juga sama keluarga. Kalau yang sama kemarin itu, kan, kayak agak sombong gitu, ya, anaknya?” “Udah, ah, jangan dibahas,” Jane segera mengalihkan topik. “Ini dedeknya boleh aku gendong gak, Tan?” “Boleh, dong. Mas, bantuin Jane gendong Aira.” Suami Ira itu mengangsurkan gendongannya pada Jane. Sebenarnya, Jane tuh gak pernah punya pengalaman momong bayi. Dia suka bayi kalau pas kecil doang, alias pas kayak gini. Kalau udah memasuki bangku SD, dia rasanya sebel banget karena mereka udah masuk fase nakal. Tapi ya so far dia gak pernah menolak keberadaan bocah. Kan ada tuh orang yang gak suka bayi sampai kebangetan. Nah, Jane gak pernah sampai kayak gitu. Apa lagi kalau bocilnya lucu banget kayak yang sekarang ada di gendongannya. Yang ada Jane jadi pengen bawa pulang! “Kok tumben namanya gak pakai inisial huruf I, mbak?” tanya Jane iseng, mengingat anak pertama dan kedua tantenya yang lagi di luar kota itu sama-sama berawalan dengan huru I. Ita dan Ila. Iya, cewek semua. “Iya, Mas Ia yang ngide.” Ia itu panggilan suaminya Ira. “Aira itu singkatan dari Ia Ira.” jelas mas Ia. “Pengennya pakai huruf I. Tapi karena ini bakal jadi anak terakhirnya, rencananya, jadi ya udah deh gak papa dibikin beda aja namanya.” “Loh, anak terakhir? Katanya bakal produksi terus sampai dapet cowok?” Ira dan Ia ketawa karena digoda begitu sama Jane. Ya walaupun sebenarnya itu juga gak salah mengingat mereka emang pengen sampai punya anak cowok. “Gak, deh. Gak jadi. Dikasihnya cewek terus, berarti rezekinya emang cewek,” jawab Ia. “Lagian kalau ngelihatin tantemu lahiran ini mas Ia yang gak tega, Jane.” “Mas Ia nih sampai nangis sehari semalem abis aku lahiran,” Ira mengompori sambil meledek suaminya. “Ya gimana gak nangis orang gak tega.” Jane tertawa. Tapi hatinya betulan menghangat mendengar mereka berdua yang ada di hadapannya. Semanis apapun hubungan mama dan papanya, bagi Jane, gak ada yang menandingi manisnya kisah rumah tangga Ira dan Ia. Mereka berdua sempat ditentang keluarga, bahkan hampir kawin lari kalau belum juga dapat restu dari pihak Ia padahal mereka udah siap menikah. Masalahnya kecil, hanya karena Ira yang dianggap perempuan tidak baik kemudian keluarga Ia tidak suka dengan itu. Tapi takdir Tuhan emang gak bisa diterka. Tiba-tiba restu turun dan mereka menikah. Jane menyaksikan sendiri bagaimana Ira dan Ian—yang sebenarnya tante dan omnya itu cuman beda tujuh tahun sama Jane—menangis sambil berpelukan saking terharunya. Pernikahan mereka dilakukan secara sederhana, tidak ada acara resepsi besar-besaran seperti Rachel Vennya atau Raffi dan Nagita. Tapi betulan mengundang banyak tangisan dari orang-orang yang mencintai mereka berdua. Jane yang jarang nangis aja meneteskan air mata saking ikut terharunya. Kini melihat Ira dan Ia masih sangat saling mencintai bahkan setelah punya anak tiga, Jane otomtis membatin, bahwa dia ingin memiliki suami yang kelak akan mencintainya sebesar Ia mencintai Ira. “Kamu tuh Jane, cepet nikah. Orang calonnya udah di depan mata gini. Mau nunggu apa?” Dibilangin kayak gitu, Jane otomatis mendelik ke tantenya, kemudian menatap Ryan yang cuman senyum-senyum doang gak membantu. “Kita masih kuliah kali, Mbak. Masih lama, lah.” “Loh, emang kenapa? Nikah sama kuliah juga gak papa.” Jane berdecak sambil geleng-geleng kepala. “Doain yang terbaik aja, lah.” “Itu pasti, lah. Tapi Ryan sendiri gimana? Udah pernah kenalan sama orang tuanya Jane? Respon orang tuamu gimana, Jane?” “Udah,” Ryan menjawab sopan. “Mereka baik, kok, Mbak. Open ke saya.” “Oh, bagus itu. Udah ngantongin restu, gampanglah kalau mau nikahin. Ya kan, Ryan?” Ryan tersenyum lebih lebar. Entahlah, tiba-tiba bayangan menikahi Jennie Laura jadi salah satu cita-citanya. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN