* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Dalam satu hari, Ryan merasa moodnya dijungkir balik, udah kayak roaller coaster. Terhitung dari bangun pagi, moodnya stabil karena dia baru bangun dan kemudian bisa mandi dan ngegame setelah kemarin-kemarin dia disibukkan flight kesana dan kemari akibat permintaan papanya, jadi itu terhitung stabil.
Setelahnya, moodnya naik pas Jane akhirnya dateng, berujung mereka jadi bercinta dan itu bener-bener membuat moodnya bagus, maksimal. Setelahnya, moodnya turun anjlok pas ketemu Kaisar di rumah sakit, makin anjlok lagi pas tahu kalau Jane jadi galau dan ngelamun efek ketemu mantan.
Tapi berhenti disana, moodnya kembali naik setelah dia diakui Jane sebagai pacarnya, di depan keluarga besarnya. Bahkan kemarin pas dia kenalan sama orang tua cewek itu aja, dia masih dianggap temen.
Sekarang, moodnya kembali stabil setelah Jane dan Ryan berpamitan pada Ia dan Ira, tante dan omnya Jane yang lebih sering dipanggil cewek itu dengan sebutan Mas dan Mbak mengingat yang pertama, usia mereka gak beda jauh. Kedua, Ia dan Ira sama-sama dari Jawa. Ryan jadi ikut-ikutan manggil Mas dan Mbak.
Kini mereka berdua sedang ada di mobil dalam perjalanan pulang menuju apartemen.
“Lo kelihatan deket banget sama Mbak Ira sama Mas Ia.” ujar Ryan memulai pembicaraan.
Sore ini langit Jakarta sangat cantik. Warnanya campuran antara orange dan pink yang membuat suasana hati mereka semakin bagus. Jane bahkan gak mau ketinggalan dengan mengamadikan langit Jakarta yang jarang banget semacam lukisan cantik begini, sekalipun temen-temennya udah bikin status yang serupa semua.
Cewek itu menyimpan ponselnya di tas sembari menoleh setelah mengirim foto jepretannya ke i********:. “Emang. Paling deket ya sama mereka dibanding sama yang lain,” jawabnya. “Dulu pas Mbak Ira nikah gue sampai nangis banget. Pertama karena gue sesayang itu sama dia, jadi kayak gak mau pisah. Yang kedua karena Mbak Ira akhirnya berhasil nikah sama cowok yang betulan sayang sama dia. Jadi gue terharu.”
“I see,” Ryan manggut-manggut. “Mas Ia emang kelihatan sayang banget sama Mbak Ira.”
“Ya, kan? Gue tuh paling gak suka berkomitmen dan ngomongin pernikahan. Tapi kalau udah ketemu Mbak Ira dan Mas Ian, tiba-tiba jadi pengin nikah.”
Ryan terkekeh. “Oh, ya?”
Jane mengangguk.
“Berarti sekarang pengin nikah dong lo? Kan abis ketemu mereka berdua.”
“Tadi doang,” Jane meringis. “Sekarang udah enggak.”
“Ye, labil gitu lo.”
Padahal Ryan udah siap mengeluarkan gombalannya dengan mengatakan, “Ya udah nikah yuk sama gue besok?”, tapi gak jadi.
“We all know, lah, nikah tuh gak segampang baca sumpah pernikahan di gereja terus enak-enak. Gue maunya nikah sekali doang seumur hidup—oke, semua orang juga pasti pengennya begitu. Tapi gue bener-bener yang... mean it gitu loh, Yan. Gue pengen nikahnya betulan sama cowok yang gue bisa jamin dia bakal cinta sama gue, sehidup semati mau sama gue, nerima gue kurang lebihnya. Dan itu gak gampang.”
“Gampang, Jane. You are so admirable. Nemu cowok yang mau cinta sama lo sehidup semati tuh gampang.”
Jane tetap menggeleng. “You wrong. Kebanyakan cowok mau sama gue karena gue cakep. Tapi bisa kebayang gak dua puluh tahun lagi kalau gue udah mulai keriput, atau pas nanti tua udah ompong, atau misal gue tiba-tiba gendut abis ngelahirin, gue gak bisa menjamin mereka yang sekarang mau sujud-sujud cuman karena mau jadi cowok gue, nanti juga tetep cinta sama gue.”
Jane mengambil nafas sembari menatap Ryan yang masih menyetir dengan sesekali meliriknya.
“Gue udah sering dikecewain cowok yang gue cinta. Gue gak mau ngerasain itu lagi dari cowok yang statusnya udah jadi suami.”
Ryan melengkungkan senyum mendengar itu.
Mendengar Jane ngomong panjang lebar dengan suara tegas dan keyakinan yang mantap bahwa ia tak ingin mempermainkan pernikahan, bahwa Jane punya pemikiran luas atas itu, somehow sangat membuat Ryan semakin kagum.
Mungkin ini yang namanya bucin. Jane ngomong apa dikit, ngelakuin apa dikit, dia udah makin tergila-gila aja. Ryan gak peduli. Dia suka mendapati diri sendiri semakin jatuh pada pesona Jane.
Tangannya bergerak mengusap rambut Jane dengan sayang. Tanpa berniat menutup-nutupi, cowok itu membuka suara.
“I will, Jane. If you let me to, i will.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Karena tadi ke rumahnya Ira pakai mobil Ryan, dan karena Jane meninggalkan mobilnya di apartemen Ryan, alhasil Ryan gak bisa langsung mulangin Jane ke rumah. Lagi pula kata Jane, ini masih terlalu sore untuk pulang. Lagi pula lagi, dia bukan pulang ke rumah, tapi ke kos. Jadi gak baka ada yang marahin.
“Bisa-bisa gue diketawain sama bokap nyokap kalau tahu gue jam segini udah balik, Yan,” ujarnya tadi yang bikin Ryan ketawa, walaupun tahu Jane lagi serius. Well, bukan Jennie Laura namanya kalau jam setengah enam senja begini udah mau balik sementara biasanya dia nyampe di rumah atau kosnya kalau udah lebih dari jam tengah malam.
“Nginep di kos gue aja?” tawar Ryan kemudian. “Gue besok kan udah flight ke Gorontalo. Kita bakal gak ketemu tiga hari.”
“Kenapa? Takut kangen, ya?” ledek Jane.
Ryan ngangguk aja jujur. Toh gak ada gunanya dia mau gengsi-gengsian sementara cewek di sampingnya itu udah tahu jelas kayak apa perasaannya.
“Iya, lah. Tiga hari itu.”
Jane jadi meledakkan tawa, kemudian mencondongkan tubuh demi memberi kecupan manis di pipinya. “Iya, deh. Gue nginep, deh.”
“Serius”
Jane mengangguk. “Besok flight jam berapa?”
“Jam delapan.”
“Ya udah, gue yang nganter ke bandara.”
“Loh? Gak usah. Gue biasanya taksi.”
“Kan sekarang ada gue. Maksudnya, lo apa-apa bisa minta tolong ke gue.”
Kini jadi giliran Ryan yang mencondongkan pipinya sendiri. Jane ketawa, tapi tak urung tetap memberikan kecupan satu kali lagi di pipi cowok itu.
“Thanks but no. Lo besok masih ada kelas.”
“Tapi siang. Jam satu.”
“Gak usah nanti capek.”
“Biasanya yang suka bikin gue capek itu kalau sama lo malem-malem, sih.”
Ryan ketawa. “Ya itu beda urusan lah.”
“Serius. Gue nganter lo atau gue gak usah nginep?”
“Ngancem?”
Jane mengangguk. Masang tampang gak bersalah.
Dia tahu Ryan mengkhawatirkannya tapi Jane ingin sesekali menjadi pengulur tangan bagi cowok itu. Rasanya selama mereka dekat selama ini, Jane belum pernah membahagiakan cowok itu.
Ryan menghela nafas. “Fine.”
“Sip. Sekarang cari makan dulu, ya? Gue udah laper lagi.”
“My pleasure, Queen.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Mereka betulan berhenti di salah satu rumah makan yang gak terlalu rame. Well, selain seleranya mereka adalah nasi padang, nasi pecel, dan nasi lain-lain yang kata orang makanan ‘norak’ karena seharusnya selera mereka adalah semacam spageti, pizza, dan lainnya, mereka berdua gak peduli.
Soal makanan, Jane dan Ryan betul-betul satu selera. Semua jenis makanan bakal masuk ke perut mereka, gak ada yang gak doyan selain daging kambing. Lebih seneng makanan tradisional dibanding makanan modern, tapi pecinta pizza nomor satu dibanding burger dan hotdog. Lebih suka minum air putih dan alkohol, dibanding teh, s**u, dan minuman lainnya.
Setelah Jane menyebutkan pesanan, mereka berdua langsung ambil duduk. Karena ini bukan kafe juga bukan restoran, benar-benar warung makan biasa, maklum kalau ruangan di dalamnya agak sedikit panas alias bikin gerah.
“Sebelah sini aja, kena kipas angin dari atas,” kata Ryan meminta tukar tempat duduk.
Jane mengangguk sambil melepas jaketnya.
“Tadi bayar langsung atau nanti bayarnya?”
“Bayar langsung.”
“Pakai duit siapa?” tanya Ryan karena dari tadi di toko peratan bayi, Jane pegang dompet Ryan. Gak, maksudnya Ryan yang titip dompet ke cewek itu.
“Duit gue—stop, jangan protes. Lo tadi udah beliin kado buat Aira.”
Ryan akhirnya gak jadi protes.
“Jane. Soal yang tadi...” cowok itu berdeham karena tiba-tiba canggung dan grogi. “Itu beneran?”
“Hah? Yang tadi apa? Wait, mau ambil minum.”
Jane berdiri untuk membuka lemari pendingin, kemudian mengambil satu botol air mineral dan menoleh pada Ryan. “Lo mau apa? Teh botol sosro?”
“Terserah.”
Sebenernya yang pengin teh botol sosro, tuh, Jane. Tapi dia juga pengen air mineral. Yah, gampanglah. Pasti nanti Jane juga icip-icip minuman Ryan.
Dia kembali duduk di samping Ryan. “Gimana?” tanyanya sambil menyerahkan minuman Ryan yang langsung diterima dan diletakkan di meja.
Ryan memilih menarik botol kemasan air mineral di tangan Jane lebih dulu, membukaka tutup botolnya dan menyalurkan.
Jane tersenyum kecil. “Terimakasih, si Act od Service.”
Ryan cuman geleng-geleng kepala.
“Jadi, tadi mau ngomong apa?”
“Soal yang... lo bilang ke tante-tante lo.”
“Bilang apa? Dih, kalau ngomong jangan setengah-setengah, dong! Bikin penasaran aja. Mana di slow motion lagi.”
Ryan ketawa. “Bukan slow motion.” INI DEG-DEGAN, batin Ryan nyolot. “Yang lo bilang kalau gue pacar lo. Itu beneran? Gue pacar lo sekarang?”
Jane langsung tersedak ludahnya sendiri sebelum dia meminum apapun.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *