21 : i want you to be mine

1714 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Yang lo bilang kalau gue pacar lo. Itu beneran? Gue pacar lo sekarang?” Jane menatap Ryan yang menunggunya menjawab pertanyaan itu sembari mengulurkan selembar tisu karena Jane yang tiba-tiba tersedak. Cewek itu berdeham membersihkan tenggorokannya, tiba-tiba salah tingkah sendiri. Shit, kemana Jennie Laura yang dulu? Masa ditanyain gitu doang dia bisa salah tingkah. “Hmm,” cewek itu menggumam sok santai sambil menyeruput sedota air mineralnya. “Maunya gimana?” “Lo harusnya gak perlu nanya gue maunya gimana.” “Gue pengen nanya. Lo sendiri maunya gimana?” “I want you to be mine.” Jane melengkungkan senyum gelinya. Ini bakal jadi acara nembak paling gak modal dan gak romantis. Ryan memintanya untuk menjadi kekasihnya di rumah makan sederhana, diringi ruangan yang pengap dan gerah, dengan harum makanan yang sedang disajikan, betul-betul suasana yang tidak mendukung. Tapi anehnya, Jane tetap suka. Dia menyukai bagaimana Ryan menatapnya dalam dan tulus, penuh cinta dan kekaguman, mendalami pada bola matanya yang hitam dan menyiratkan perasaan yang tidak bisa diungkapkan lebih banyak lagi. He loves her so much. Rasanya sekalipun mereka sedang di tempat umum, namun Ryan dan Jane sama sekali tidak bisa fokus ke hal lain selain lawan bicaranya. Jane mengangguk kemudian, masih dengan senyumnya yang terukir kecil. “Then i’m all yours now.” Dan begitu saja hingga pundak Ryan langsung lemas karena lega. Wajah kaku dan grogi yang diperlihatkan Ryan selama menunggu jawaban dari perempuan yang duduk di sampingnya itu hilang begitu saja, tergantikan dengan Ryan yang tersenyum lebar, saking senangnya. “Ini serius, kan? We’re official now?” Jane mengangguk. “Emang maunya gue bercanda doang?” Ryan menggeleng. Dia menoleh ke pemilik warung yang masih sibuk sendiri, sebelum maju dan memberi kecupan singkat di bbir Jane dan langsung beralih mengecup kening Jane sedikit lebih lama. “Thank you. I love you.” “I love you too.” Baik Ryan dan Jane sama-sama sedang bahagia, sedang merayakan perasaan yang menggebi-gebu ini. Sekalipun dari hati mereka yang paling dalam, keduanya sangat tahu bahwa ini artinya perjalanan yang sesungguhnya sedang dimulai. Ryan memang sudah memiliki tempat di hati Jane, tapi bukan berarti nama Kaisar menghilang begitu saja sementara tadi siang perempuan itu masih kembali terluka karena dipertemukan oleh sang mantan kekasih. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  Ryan sama sekali gak bisa menutupi rasa senangnya. Biarlah bebatuan, hujan, dan angin yang akan menerpa mereka setelah ini sebagai konflik dalam hubungan, itu bisa dipikirikan nanti. Yang paling penting saat ini adalah menjalani apa yang ada di depannya. Jane sudah resmi menjadi milik Ryan. Cowok itu terus menggumamkan klaim tersebut dalam hatinya. Jadi kenapa ia harus resah dan gelisah memikirkan masa depan? Selama di sampingnya masih ada Jane, selama perempuan itu masih mau berusaha untuk semakin mencintainya dan sepenuhnya melupakan masa lalu, Ryan yakin keduanya akan baik-baik saja. Senyuman yang sedari tadi terulas di bibir Ryan, juga ekspresi senang di wajahnya, tidak juga luntur barang sedetik. Jane gak bisa menahan tawa gelinya sepanjang perjalanan tadi. Apa lagi sesekali Ryan akan meraih tangannya untuk ia kecup. “Lo kayak cowok puber baru pacaran.” ujar Jane meledek, walaupun dia pun sama bahagaianya. Hanya saja dengan melihat Ryan seperti ini, Jane merasa sangat dilambungkan tinggi karena ia tahu Ryan memang secinta itu. Laki-laki itu sebahagia ini hanya karena Jane mengiyakan permintaannya untuk menjadi kekasih Ryan. “Dan ini gara-gara siapa?” Jane ketawa lagi. Setelah Ryan memarkirkan mobil di basemen, mereka berdua segera menuju apartemen. “Jadi nginep sini, kan?” Ryan nanya setelah melepas sepatunya. Cowok itu mengikuti Jane yang udah kayak pemilik apartemen saja, nyelonong masuk ke kamar, kemudian menaruh tasnya di sofa kamar. Tapi Ryan sama sekali gak keberatan. Dia senang Jane nyaman berada di apartemennya. Dia senang perempuan itu bisa menganggap apartemen Ryan seperti rumahnya sendiri. “Iya, jadi. Besok juga jadi gue yang anter.” Ryan bergeming. “Lo udah janji bakal ngijinin gue.” “Alright, alright. You can drive me to airport tomorrow. Besok gak keberatan tapi harus berangkat pagi?” “It’s okay.” Ryan mengangguk. Sempat-sempatnya dia membubuhkan kecupan di puncak kepala Jane yang lagi duduk dan menunduk, membuat cewek itu lagi-lagi terkekeh. Jane mengangkat kepala dan menemukan Ryan mendekat ke arah kasur. Dia melepas kaos yang dia pakai, membuatnya jadi bertelanjang d**a dan melempar kaos yang sudah ia pakai itu ke keranjang tempat pakaian kotor di ujung ruangan. Ini masih pukul tujuh malam. Keduanya tidak sedang memiliki jadwal apapun. Dan itu membuat Ryan senang. Tuhan memang penulis skenario terbaik. Di hari jadi mereka yang pertama, tak akan ada yang bisa mengganggu quality time Jane dan Ryan saat ini hingga besok. Padahal biasanya ada aja yang bakal bikin rusuh. Entah deadline tugas, kerjaan, orang tua yang minta ini dan itu. But here they are. With no schedule at all. “What are we gonna do?” Ryan nanya setelah mengganti celana panjangnya jadi celana santai selutut berwarna abu-abu muda. Jane kini yang gantian berdiri saat Ryan bersandar nyaman di atas ranjang, dengan kaki di luruskan, sementara punggungnya menyandar di kepala kasur. Cewek itu mengedikkan bahu. “Nothing.” “Pengin keluar, gak? Kalau mau gue bisa book fancy dinner. It’s our day.” Jane menggeleng. “Kita udah terlalu sering fancy dinner. Gue bosen.” “Hei, mana ada sering? Baru cuman sekali. Atau dua kali?” Tapi Jane emang gak terlalu sering makan di luar. Apa lagi fancy dinner walaupun Ryan selalu membuatnya takjub dalam mendekor dan memilih restoran romantis. Tapi tetap. Kalau ada pilihan lain, maka Jane jelas lebih suka makan di rumah setelah pesen grab food atau go food atau s****e food untuk mengantar makanan ke rumah. Dia gak perlu repot-repot menjaga sikap, gak perlu repot-repot ketemu orang, gak perlu repot-repot dandan. Bener, kan? Asal nyaman dan kenyang. “Kita juga barusan makan. Masa mau makan lagi?” Jane bertanya. “Kan bisa nanti, Sayang.” Jane tiba-tiba salah tingkah lagi. Padahal ini cuman panggilan sayang, dan Ryan memang betulan sayang. Tapi seolah Jane gak pernah dipanggil begitu, pipi hingga telinganya memerah. Dia sampai pura-pura ngelihatin lemari di samping biar Ryan gak tahu kalau dia salah tingkah. Tapi Ryan kan udah teranjur lihat. Cowok itu langsung tergelak. “Kenapa, sih? Gampang banget dibikin salah tingkah sekarang?” “Dan itu gara-gara siapa?” tanya Jane menjawab Ryan seperti cara cowok itu tadi menjawab Jane. “Come here,” Ryan udah gemes banget ngelihatin Jane yang masih aja memerah. Cowok itu menepuk pahanya, menyuruh Jane duduk disana. Tapi Jane menolak dengan menggelengkan kepala. “Gue mau mandi dulu.” “Nanti aja bareng gue.” Cewek itu memutar bola matanya dan gak menghiraukan maunya Ryan. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Apa Jane udah pernah bilang kalau dia suka sekali menantang dan menggoda Ryan? Iya, dia suka. Melihat tatapan Ryan yang panas dan liar seolah ingin menerkamnya, Jane suka. Tidak sia-sia dia ngegym sampai capek seminggu tiga kali demi membentuk p****t sempurna, tanpa lemak dimana-mana, dan segala sesuatu yang ia miliki di tubuhnya. Jane jelas sadar diri kalau dia memang semenawan itu. Kalau enggak, mana mungkin sih banyak cowok suka ngejar-ngejar dia dari jaman SMP? Dan kali ini, ia pun melakukan hal yang sama. Alih-alih menuruti perintah pacarnya yang menyuruh ia duduk di pangkuan Ryan, Jane memilih melepaskan kancing demi kancing dari kemeja putih yang ia gunakan. Gak pelan-pelan macem di slow motion, dia gerak biasa. Seolah dia gak tahu kalau Ryan yang lagi duduk di atas kasur itu lagi ngelihatin dia jeli banget. Setelah kemeja itu ia tanggalkan, kini tubuhnya hanya terlapos tanktop ketat warna hitam. Ia sengaja tak melepaskan celana jeansnya. Betul-betul sengaja karena dengan tanktop ketat dipadu dengan jeans ketat yang membungkus indah p****t dan kaki jenjangnya, dia betulan terlihat seksi. Dan dia suka Ryan menatapnya sampai seperti itu. Jane melepas jedai yang ia pakai, membuat rambut halus dan lebatnya itu langsung terurai seperti iklan-iklan sampo di TV. “Jane.” “Hm?” Jane noleh pakai wajah santai, betulan pura-pura bego. “What are you doing?” “Gak ngapa-ngapain. Mau mandi, kan?” “Nanti aja. Bareng gue.” Jane membawa ujung taktop bagian bawahnya untuk naik ke atas, melepasnya perlahan, dengan tubuh menghadap ke arah Ryan. Sekali lagi, dia sengaja. Ryan meneguk ludah kala bongkahan indah dan padat itu terlihat menantang padahal masih dibalut dengan bra hitam yang warnanya sangat kontars dengan kulit d**a Jane yang putih dan mulus. Oh, baru tadi pagi dia dan Jane bercinta. Kenapa sekarang rasanya dia kembali lapar dan ingin mencumbu Jane lagi? * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN