* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Hal paling nyaman dilakukan setelah bercinta itu adalah tidur. Semua orang akan setuju tentang itu. Karena bercinta membutuhkan banyak tenaga, jadi setelah usai melakukan, tenaga dan energi yang kita miliki terkuras habis, makanya tidur adalah hal paling nikmat yang dilakukan setelah seks. Sekalipun kita bangun tidur, sekalipun sebenarnya kita gak ngantuk.
Sebuah penelitian menjelaskan, hubungan seksual bila dibandingkan dengan wanita, pria umumnya lebih mengerahkan tenaga lebih saat berhubungan. Memang tidak selalu, namun biasanya pria yang lebih banyak “beraksi” dibanding wanita. Untuk mencapai kepuasan o*****e tersebut, tidak jarang lelahnya sebanding dengan latihan fisik.
Umumnya orang yang baru selesai melakukan latihan fisik, akan merasakan lelah dan ngantuk luar biasa. Tak heran apabila pria lebih mudah mengantuk setelah berhubungan intim karena begitu banyak tenaga yang dikerahkan.
Begitu pula untuk sesi percintaan kali ini. Setelah keduanya mengalami pelepasan hebat dengan beberapa ronde yang dihabiskan di atas ranjang, di jendela kamar menghadap balkon, di kamar mandi, hingga di karpet, tak ayal sekarang Ryan benar-benar terlihat tak berdaya di atas ranjang.
Berbeda dengan Ryan yang langsung memilih tidur setelah membuang kondomnya di tempat sampah, Jane memaksa Ryan melepaskannya karena cowok itu sebenarnya pengen tidur sambil memeluk, tapi Jane menolak karena ia ingin langsung mandi.
Pertama, Jane udah kebiasaan kalau habis dari luar rumah, entah bepergian jauh atau dekat, pasti langsung mandi. Apa lagi kalau setelah bercinta. Nah sementara barusan, dia baru bepergian dan baru bercinta. Mana bisa dia tidur langsung sementara badannya lengket semua?
Gak memperdulikan jam yang udah menunjukkan pukul setengah satu tengah malam, cewek itu memilih untuk membersihkan diri.
“Jane?”
Ketukan pintu kamar mandi itu membuat Jane yang baru berendam di dalam bath up dengan air hangat dan busa dengan harum yang lembut jadi menoleh ke arah pintu yang tertutup.
Suara Ryan yang memanggilnya membuat dia menjawab. “Gak dikunci, Yan.”
Setelahnya, cowok yang matanya masih kelihatan ngantuk itu masuk dan menghampiri sang pacar.
“Kok bangun, sih? Tidur aja kalau ngantuk.”
Ryan menggeleng.
Sejujurnya cowok itu gak ingin memperlakukan Jane dengan ‘gak sopan’ seperti ini. Dia gak terbiasa bersikap b******k dengan meninggalkan perempuannya tidur setelah ia menggagahinya. Jadi mau gak mau, dia tetap memaksa matanya untuk terbuka saat ia merasakan Jane meninggalkan ranjang, sekaligus meninggalkan dirinya yang sedang berada di bawah selimut sedang tenggelam dalam tidur.
“Mau mandi juga?”
Ryan mengangguk. Dia membungkuk untuk mencium bibir cewek itu, membuat Jane meraih rahangnya dan memberi balasan. Sedikit lebih lama dari sekedar kecupan sebelum kemudian Ryan berdiri.
“Aku mandi shower aja.”
Jane mengangguk. Itu memang pilihan terbaik untuk saat ini dibanding mereka mandi bersama di dalam bath up, karena tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi kalau Ryan memilih bergabung bersamanya, kan? Sementara dia tadi aja jalan udah agak kesakitan di selangkangannya akibat kelakuan Ryan yang buas dan liar. Dia belum siap digempur lagi.
“Kamu jangan lama-lama mandinya,” pesan Ryan. “Udah tengah malem gini.”
“Kan pake air anget?”
“Tetep, gak bagus. Abis aku mandi aku pesenin makanan. Laper, kan?”
Jane mengangguk. “Laper, tapi jalan kaki cari makanan tengah malem gini kayaknya lebih seru.”
Ryan terkekeh. Dia menghilangkan busa yang mengenai pipi Jane. “Terserah kamu aja.”
“Oke, gih sana cepet mandi.”
Ryan mengangguk sebagai jawaban dan betulan meninggalkan Jane.
Satu hal yang harus dia lakukan saat ini adalah berusaha menghilangkan rasa kantuknya yang seolah tak bisa dikontrol sama sekali ini.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Sekalipun Ryan yang mandi terakhir, tetep aja Jane yang keluar terakhir. Emang dasarnya cewek mandi lebih lama dari cowok. Udah valid banget no debat.
Ketika Jane keluar dari kamar mandi dengan handuk kimononya, dia menemukan Ryan sudah memakai jaket dan celana panjang, benar-benar udah siap diajak jalan-jalan tengah malam seperti permintaan Jane tadi.
“Kok cepet banget udah ganti baju aja?”
Ryan yang lagi main hape jadi mengangkat kepala sesaat dan mengalihkan atensinya dari ponsel yang dia pegang. “Iya, lah. Gih kamu cepet ganti. Aku juga laper.”
Jane kemudian mengambil baju ganti, lagi-lagi outfit milik Ryan lah yang jadi korban mengingat dirinya gak bawa baju lain dari kos. Pun dia selama ini gak pernah meninggalkan pakaian apapun di apartemen cowok itu.
“Aku pinjem ini, ya?” Jane menunjuk kaos milik Ryan di dalam lemari, membuat Ryan lagi-lagi harus mengangkat kepala terus mengangguk.
Ryan berdiri dan menaruh ponsel di atas ranjang, lalu membuka sisi lemari yang satunya dan mengeluarkan jaket tebal miliknya. “Pake ini juga. Dingin jam segini di luar.”
Jane mengangguk.
“Celananya ada? Underwear?”
“Aku bawa underwear. Kalau celana pakai yang tadi aja gak papa, gak kotor juga.”
Ryan agak pengen ketawa karena Jane emang punya kebiasaan bawa underwear lebih dari kosnya. Mungkin cewek itu udah mempersiapkan kalau aja Ryan tiba-tiba ngajak bercinta sehingga dia harus nyiapin ganti yang lain.
“Mau tinggal sama aku aja?”
Oh, anyway, entah sejak kapan Ryan dan Jane tiba-tiba merubah panggilan dari lo dan gue jadi aku dan kamu. Entah siapa pula yang memulai, keduanya sama-sama tidak sadar, tapi yang pasti mereka emang bukan bocah yang ngerubah panggilan aja pake diskusi dulu. Toh misal Jane gak nyaman, Ryan juga gak memaksa. Dia gak masalah misal Jane tetap menggunakan lo gue sementara dirinya pakai aku dan kamu. Tapi ternyata Jane juga ikut-ikutan aku kamu, kan? Itu artinya cewek itu pun tak masalah. Nyaman-nyaman saja.
Pertanyaan Ryan membuat gerakan Jane yang hendak memakai kaos jadi terhenti. Dan Ryan mengambil alih tugas itu dengan membantu Jane memasukkan tangannya ke lubang kaos, begitu pula pada tangan yang satunya. Jane nurut aja kayak anak kecil yang dibantu ibunya ganti baju.
“Maksudnya gimana?”
“Tinggal disini. Sama aku.”
Well, Ryan emang bakal seneng banget kalau aja Jane setuju. Selain karena Jane sudah jadi kekasihnya dan mereka akan tinggal bersama di atap yang sama dengan intensitas pertemuan jadi makin penuh dalam sehari, Ryan tahu orang tuanya tak akan masalah dengan ini.
“Dari pada kamu bolak-balik ke kos, lagian kos kamu juga bulan depan udah abis, kan? Pindahin barang-barangnya kesini, tinggal disini sama aku.”
Jane bergeming. Setengah dari isi kepalanya sadar kalau itu penawaran menarik. Tapi setengahnya lagi sedikit tidak yakin.
“Kayaknya gak usah, deh. Aku gak enak—“
“Gak enak apa, sih? Aku yang nawarin ini.”
“...Mama Papa kamu gak masalah?”
“Gak bakal. Mereka welcome, kok.”
Ah, harusnya Jane tahu itu. Toh River pernah cerita sendiri kalau cewek itu pun pernah diminta untuk tinggal bersama Ryan dengan alasan agar cowok di hadapannya ini tak tinggal sendiri.
“Oke.”
“Oke?” Ryan memastikan dengan senyumnya yang udah terlukis lebar. “Beneran mau?’
“Iya. Besok aku pindahin pakaian-pakaian di kos.”
“Gak usah semuanya. Seperlunya kamu aja. Nanti kalau aku udah balik dari Gorontalo, baru aku bantuin beresin.”
“Iya, deh. Terserah.”
Ryan menepuk kepala Jane, kebiasaan yang selalu dia lakukan kalau dia merasa senang karena Jane menurutinya. Setelahnya, cowok itu memegang kedua pundak Jane dan memutar tubuhnya, mendudukkan perempuan itu di kursi depan meja rias, lalu mengeluar hair dryer.
“My turn to help you dry your hair.”
Well, jangan lupa kalau Ryan ini salah satu penganut Act of Service.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Setelah mengeringkan rambut Jane, membiarkan perempuan itu berkutat dengan tasnya sebagai dempat mengantongi ponsel dan powebank—well, sebenarnya Ryan juga agak bingung kenapa Jane selalu kehabisan baterai pas mau keluar—keduanya kemudian turun ke lantai dasar.
“Ini jadi jalan kaki?” Ryan nanya. Ekspresinya kelihatan banget agak gak yakin karena tepat ketika dia sampai di gerbang, angin malam langsung berhembus dan kulitnya kerasa banget kalau kedinginan. “Dingin banget, Jane. Bawa mobil aja?”
“Kan udah pakai jakeeet,” Jane berujar gemas sambil menggandeng lengan Ryan. “Jarang-jarang kan ngedate tengah malem jalan kaki gini.”
“Kalau masuk angin gimana? Besok aku ke Gorontalo.”
“Kamu di—“
“Bukan akunya, kamunya. Kalau kamu masuk angin pas aku gak ada.”
“Gak bakal. Dikira aku cemen banget apa, jalan-jalan malem doang masuk angin.”
Ryan mengalah, akhirnya mereka berdua tetep berjalan menyusuri trotar. Angin malam ini memang sedikit lebih kencang dan Ryan takut sebentar lagi turun hujan.
Menyadari kekhawatiran Ryan, Jane akhirnya berujar lagi.
“Cari yang deket-deket aja. Makan lalapan kayaknya enak. Biar gak usah balik jauh-jauh.”
Ryan mengangguk setuju. Kini tangannya menepis tangan Jane dari lengannya yang terkait, memilih menggenggam tangan Jane dan keduanya saling berpegangan tangan sambil berjalan.
Terlihat sederhana. Tapi tidak semua pasangan pernah melakukan ini. Bagi Jane dan Ryan, hal kecil seperti jalan kaki di tengah malam dengan tangan saling bertautan, jalanan yang sedikit lebih sepi, lampu-lampu jalanan sebagai penerang, serta beberapa warung tenda yang terlihat buka, ini sudah lebih dari indah.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Ryan menyelesaikan makanannya lebih cepat dari Jane. Oh, itu tentu saja. Dimana-mana, seolah udah hukum alam kalau cowok lebih cepet menghabiskan makanan dari pada cewek. Siapapun itu. Perbandingannya bisa sampai satu banding tiga.
Kalau menurut penelitian sendiri, hal ini terjadi karena dua alasan. Pertama, pria dapat melahap makanan lebih banyak daripada wanita. Kedua, rahang pria lebih kuat dalam mengunyah makanan sehingga cepat melewati tenggorokan. Jadi bukan karena perempuan yang makannya kelamaan, melainkan pria memang memiliki kemampuan untuk makan lebih cepat.
Sembari menunggu Jane menuntaskan makanannya, dia memilih menyeruput minuman sambil ngelihatin cewek yang duduk di seberangnya itu.
“Kalau lagi makan bareng gini kamu prefer duduk hadep-hadepan atau sebelahan?” tanya Ryan random, banget.
“Sama aja sebenernya. Tapi prefer sebelahan.”
“Karena?”
“Gak suka dilihatin,” jawabnya kemudian menyuapkan nasi ke dalam mulut. “Kamu?”
“Hadep-hadepan kayak gini. Karena kalau ngomong sama orang jadi bisa ngelihatin mukanya.”
Usai Jane menelan makanannya, ia menjawab. “Khas cowok banget. Suka hadep-hadepan kalau ngobrol dengan alasan yang sama.”
Ryan mengedikkan bahu. “Tapi kalau sama kamu lebih seneng mangku.”
“Halah! Sssst!”
Jane mendelik tapi sambil ketawa.
“Jangan ngomong aneh-aneh. Kita gak sendirian.”
Ryan ikut ketawa. “Gih, cepet habisin. Biar bisa pulang.”
Jane jadi melirik jam tangannya. Sudah menunjukkan pukul dua kurang.
“Ya Tuhan, Yan...” cewek itu tiba-tiba langsung menepuk dahi sambil menatap pias ke arah cowoknya. “Yan, sumpah lupa banget besok—nanti pagi kamu udah berangkat ke bandara. Kok aku malah ngajakin jalan-jalan sampe jam segini, sih?!”
Ryan yang awalnya udah masang muka panik karena Jane yang panik juga langsung menormalkan ekspresi.
“Kirain apaan. Gak papa, kan masih sempet tidur di pesawat juga kalau kurang.”
“Ih, maaf...”
Ryan tersenyum geli. Dia gak pernah lihat cewek itu pasang wajah bersalah sambil merengut menyesal begitu.
“Gak papa, Babe.”
Tetep aja Jane ngerasa gak enak. Ryan harus sampai bandara maksimal pukul setengah tujuh, artinya harus berangkat dari apartemen maksimal pukul setengah enam, dan sekarang dia malah ngajakin Ryan makan di luar sampai pukul dua dini hari.
Cowok itu udah pasti bakal kurang tidur!
Jane segera menyelesaikan makanannya cepat-cepat, membuat Ryan berdecak gak suka.
“Gak usah cepet-cepet juga. Keselek nanti, Jennie.”
Jane gak menghiraukan. Untung aja makanannya gak tinggal banyak banget. Jadi hanya beberapa kali telan kemudian isi piringnya sudah habis. Cewek itu merasa isi perutnya langsung penuh karena makan terlalu cepat.
“Pelan-pelan aja, oke?” Ryan mendorong minuman air putih miliknya karena Jane betulan tersedak. “Minum dulu.”
Setelah menuruti perintah Ryan, cewek itu mengangkat satu tangannya, pertanda dia membutuhkan waktu beberapa menit untuk duduk dan menenangkan perut yang langsung terasa sesak tersebut.
“Wait, wait.”
“Iya, lagian aku juga gak nyuruh buru-buru. Kamu, sih, sok ngide banget.”
Cewek itu meringis sambil mengusap perutnya kayak ibu hamil.
“Pesen taksi aja? Atau aku gendong?”
“Gak usah, lah. Orang deket juga ngapain pakai pesen mobil.”
“Berarti gendong?”
“Lebih gak usah lagi!” Jane berdiri kemudian. “Tuh, udah mendingan. Tadi kekenyangan aja lagian. Yuk, pulang sekarang.”
“Yakin gak mau digendong aja?”
Ryan bukan ingin menggoda perempuan itu. Ia tulus pengen membantu karena takut perut kekenyangan Jane itu membuatnya susah jalan—ya walaupun Ryan tahu Jane gak selebay itu. Tapi apa salahnya menawari bantuan kan?
Tapi Jane malah mencubit perut Ryan membuat cowok itu tergelak.
Gak jelas banget pacarnya itu.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *