* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Apa Jane udah pernah bilang kalau dia adalah orang yang kalau udah ngerasa bersalah, bakal ngelakuin apa aja biar dia gak terus ngerasa begitu? Karena rasa sedih bahkan masih jauh lebih mendingan dari pada ngerasa bersalah. Makanya Jane benci ngerasa bersalah karena itu bikin dia merasa dihantui. Jadi solusi kalau dia udah begitu, dia akan bertanggung jawab.
Pun dengan apa yang ia alami kali ini. Walaupun bagi Ryan—coowk itu mengatakan sendiri bahwa ini bukan masalah besar—tetap aja Jane yang gak enak sendiri. Jadi sebagai bentuk tanggung jawabnya, dia rela pasang alarm jam empat lebih lima belas agar dia bisa bangun lebih pagi—walaupun ini terlalu pagi.
Jane sudah merencanakan semuanya matang-matang. Mulai dari pasang alarm, bangun pagi, mandi, bangunin Ryan, dan lain sebagainya. Goal-nya adalah satu : Ryan gak terlambat ke bandara.
Sekalipun matanya masih merah banget alias Jane masih sengantuk itu, dia tetep langsung bangun dan mencoba mematikan alarm yang ia taruh di samping kepalanya dengan suara sepelan mungkin, takut Ryan jadi terbangun juga.
Jane sadar cowok itu masih sangat pulas. Mereka berdua bahkan baru tidur di pukul dua lebih sedikit, dan sekarang di pukul setengah lima Jane udah bangun. Kebayang gak betapa Jane sangat effort hari ini buat Ryan?
Dia langsung ke kamar mandi, mandi ala kadarnya, pun dia mandi bukan karena dia membutuhkan mandi, mengingat tadi pukul satu malam dia juga sudah mandi bersama Ryan, tapi kali ini dia hanya butuh menghilangkan kantuknya dengan mandi air dingin. Dan ia melakukan itu.
Setelah selesai mandi bebek alias asal-asalan, cewek itu pergi ke dapur dan membuka kulkas. Karena dirinya gak terlalu ahli dengan urusan masak-memasak, dia memilih masak omelet saja yang paling mudah. Juga membuat salad buah dadakan sebisanya. Sebetulnya salad buah jelas bukan pilihan terbaik untuk sarapan, tapi entahlah, Jane hanya berusaha sebisanya. Biar Ryan sendiri nanti yang akan memilih mau makan apa. Selain itu, dia juga membuat cereal, mengoles beberapa potong roti, juga menyiapkan kopi amerikano, berharap itu membuat Ryan fokus pagi ini untuk urusannya di Gorontalo.
Jane jelas belum selesai menyiapkan itu kala jam sudah menunjukkan pukul lima kurang lima, jadi yang ia lakukan adalah langsung membangunkan sang pacar. Beruntung Ryan bukan tipe cowok yang sulit dibangunkan.
Dia baru menggoyangkan lengan cowok itu dan Ryan langsung membuka mata, sedikit menyipitkannya karena harus mengumpulkan nyawa.
“Jane?”
Yang dipanggil mengangguk.
“Kok udah bangun?”
“Gih kamu mandi. Jam setengah enam ke bandara.”
Ryan mencari jam dinding, kemudian mengangguk setelah memastikan bahwa memang sudah seharusnya dia bersiap untuk berangkat.
Yang bikin Ryan aneh adalah ketika dia tidak menemukan kekasihnya di kamar kala dia sudah selesai dari kamar mandi. Niatnya untuk mencari Jane ia tunda dulu karena ia harus ganti baju dan menyiapkan yang lain untuk keberangkatannya. Barulah selesai dengan segala sesuatunya, dia muncul ke dapur dan menemukan Jane disana, dengan tangan cekatan—walaupun itu lebih tepatnya disebut terburu-buru—menyiapkan isi meja makan.
“Sarapan,” Jane berujar setelah menghembuskan nafas lega karena semuanya sudah siap. Dia menarik kursi untuk cowok itu, memintanya segera duduk. “Aku cuman masak sebisanya, tapi semoga kenyang”
Ryan masih mengerjap bingung dengan apa yang dilihatnya. Dia yang sudah duduk nyaman menghadap meja makan dengan warna-warni menu mulai dari yang berkarbohidrat tinggi hingga yang paling gak bikin kenyang semua tersedia disana.
“Kamu... masak sendiri?”
Jane mengangguk. Kemudian meringis sambil mengulurkan kotak bekal kecil di hadapan Ryan. “Ini salad buah. Buat bekal aja. I... i don’t know will you like it or—“
“I like it,” Ryan langsung memotong kalimat perempuan itu. Dia menarik lembut tangan kekasihnya agar mau duduk di kursi sebelahnya yang kosong. Lutut mereka berdua bersentuhan, dengan satu tangan Jane yang dia genggam erat.
Ryan betulan merasa tersanjung. Cewek di hadapannya, pacarnya itu, bukan tipe cewek yang mau turun ke dapur. Dan perempuan itu kini malah mau berkecimpung dengan sayur dan buah demi dirinya. Katakan pada Ryan, bagaimana dia tidak jatuh hati pada setiap tingkah laku Jane?
“Harusnya gak perlu bangun pagi banget dan bikin beginian.”
“Kamu gak—“
“Aku suka, jelas. Aku... i don’t know how to tell it but i feel so loved. By you.”
“You are. You are loved. By me.”
Ryan merasakan hatinya melambung tinggi. Dia gak tahu kapan terakhir kali dia merasa mencintai dan dicintai seindah ini. Dengan Jane, dia merasa semuanya sempurna lewat hal-hal kecil.
“Kamu harus sarapan sekarang, abis ini aku anter—“
“No,” Ryan menggeleng dan memotong lagi. “Ini bisa nunggu. Now i just wanna kiss you so bad. May i?”
Jane terkekeh, namun tetap saja dia mengangguk dan kembali beranjak dari duduknya, berpindah naik ke pangkuan laki-laki itu dan merangkum bibir Ryan dengan sayang.
Well, tidak hanya Ryan yang selalu tersanjung lewat hak-hal kecil yang dilakukan Jennie Laura. Tapi Jane pun selalu merasa tersanjung karena Ryan selalu menghargainya, selalu membuatnya seolah melakukan hal besar padahal tidak.
Dan bukannya ini memang cinta yang paling tepat? Keduanya benar-benar saling melengkap satu sama lain.
Whispered something in your ear
It was a perverted thing to say
But I said it anyway
Made you smile and look away
Nothing's gonna hurt you, baby
As long as you're with me, you'll be just fine
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *