24 : Aston Martin DB10, baby.

2126 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sesuai dengan kesepakatan, Jane mengantar Ryan ke bandara, yang menyetirpun juga Jane. Ryan bukan iya-iya aja, dia sudah meminta Jane untuk duduk di bangku penumpang tapi Jane menolak. Cewek itu betul-betul sanagt effort hari ini, Karena tidak ingin menghabiskan waktu dengan mendebat perempuan tersebut, Ryan akhirnya mengalah. Dia membiarkan Jane mengambil kunci mobil dan duduk di kursi pengemudi. Sembari memencet tombol untuk menghidupkan mesin, Jane terlihat menarik nafas kecil. “Gue gak pernah nyetir Aston Martin,” ujar perempuan itu. Ryan mengamati tiap pergerakan Jane yang kelewat santai. Cewek itu bilang dia grogi karena gak pernah nyetir Aston Martin, tapi setiap pergerakannya seolah dia udah biasa mengendarai mobil mewah. Bagaimana cara Jane memajukan kursi dan menghidupkan mesin, membuat Ryan terpukau. Kekasihnya ini benar-benar cantik, menawan, dan keren dalam satu waktu. Itu kenapa dia bisa sampai seterpukau ini padahal cuman ngelihat Jane nyetir. “f**k, i’m so excited.” Ryan ketawa. “Kenapa, sih?” “Dari dulu gue ngidam Aston, tauuu.” “Oh, ya?” Ryan mengamati spion tengah untuk memastikan Jane tidak menabrak mobil lain ketika mengeluarkan mobilnya dari deretan mobil lain yang terparkir. Gimanapun, mobil ini benar-benar kesayangan Ryan. Butuh waktu empat tahun buat Ryan bisa nabung sampai akhirnya membeli mobil ini dari rekan kerja papanya di luar negeri. “Tahu gitu kemaren pas lo ke kampus bawa mobil yang ini aja.” “Sinting. Bisa jadi bahan pembicaraan seantero kampus gue. Dikira gue gundik om-om lagi.” Jane gak salah, sih. Karena selama ini yang dibawa Ryan bukan mobil yang ini. Ryan jarang sekali memakai Aston Martin. Tapi karena dia pernah ngelihat sorotan Jane di i********:—iya, dia sempet stalking pacarnya kemarin-kemari—Jane pernah ngepost foto Aston Martin dengan caption “ternyata ada yang lebih cakep dari pada muka harry styles.” Makanya, Ryan langsung punya inisiatif pakai mobilnya yang ini buat sekarang. Tadi pun Jane sempet kaget karena Ryan memberitahu kalau Aston Martinnya dia simpan di salah satu gedung yang sama di tower apartemennya—bahasa gampangnya, sih, garasi khusus di apartemen ini, “Sejak kapan Jennie Laura peduli omongan orang?” Jane mesem. “Iya juga. Tapi di kampus—sebelum ketemu lo—gue kira yang paling bagus cuman mobilnya Gana.” “Gana siapa?” “Ada, temen gue sama Hanna. Dia bawa Rubicon. Tapi sebenernya dia kurang apa, ya, not suits him well gitu, loh.” “Kenapa?” “Rubicon kan cocoknya dipake cowo yang mukanya sangar. Kayak Christian Grey gitu.” Ryan langsung ngakak pas Jane sebut-sebut Christian Grey. “Lo nonton fifty shades?” “Who doesn’t?” “Ck, harusnya gue gak kaget,” Ryan geleng-geleng kepala. “Tapi, Yan.” “Hm?” “Aston Martin DB10 warna item does suit you well. Cocok banget buat lo.” “Oh, ya?” Ryan menyeringai. “Kenapa?” Jane mengedikkan bahu. Ogah jujur bahwa sebenarnya dia ngebayangin Aston Martin yang secakep ini dan yang nyetir Ryan yang gak kalah cakep, that’s freaking crazy. Siapa cewek yang gak bakal mupeng? Kalau aja Hanna masih jomlo, Jane yakin pasti Ryan jadi target umpannya juga. “Cocok aja.” “Mau make love di Aston Martin?” Jane langsung menoleh cepat, kaget, kemudian tertawa kencang. “Apa, sih?!” “Aston Martin suits us well.” ujar cowok itu sambil mendekat dan memberi kecupan lembut—sengaja menggoda karena dilama-lamain—di sudut bibir cewek yang lagi nyetir itu. “Ya, kan?” Jane mendorong pundak Ryan menjauh. “Not now, babyboy. Udah deket bandara.” Ryan berdecak kecil dan Jane terkekeh geli. “Makanya, cepet pulang. Jangan kelamaan di Gorontalo.” “Kalau udah pulang?” “We make love in your Aston Martin.” Seringai Ryan muncul lagi, kali ini lebih terlihat panas dari sebelumnya. “Deal.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Yang namanya di bandara, ketemu orang pelukan dan kecup-kecup singkat itu udah biasa banget. Ya gimana enggak? Kebanyakan di bandara itu adalah adegan orang-orang yang bakal pisah atau baru ketemu setelah sekian lama. Begitu pula yang dilakukan Jennie dan Ryan setelah cowok itu bilang keberangkatan pesawatnya sudah diumumkan melalui speaker. “Your attention please, passengers of Garuda Indonesia on flight number GA328 to Gorontalo Jalaludin Airport please boarding from door A12, Thank you. Perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA328 tujuan Gorontalo Jalaludin Airport dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12.” Dengan satu tangan, Ryan membawa Jane ke pelukannya, mencium puncak kepalanya beberapa kali, menghirup rambut harum perempuan itu sembari bicara disana. “Jangan nakal di Jakarta.” Jane terkekeh, kedua tangannya melingkar rapat di pinggang cowok itu kemudian kepalanya menengadah. “Harusnya gue yang bilang gitu. Jangan nakal, kalau udah urusannya langsung balik, gak usah dilama-lamain.” “Iya, tahu.” “Bawain oleh-oleh khas sana, ya.” “Apa?” “Ya gak tahu. Oleh-oleh khas sana pokoknya.” Ryan mengangguk, menunduk memberi kecupan di bibir kekasihnya masih dengan pinggangnya yang dipeluk erat oleh Jane. “Gak usah pulang ke kos. Di apartemen aja.” “Iya.” “Jangan diberesin dulu barang di kosan. Tunggu aku balik biar ada yang bantuin.” “Hmm.” “Libur mabok dulu, ya.” “Gak janji kalau itu mah.” Ryan menghela nafas. “Jangan sampe hangover.” “Iyaaa.” “Jangan mikirin Kaisar.” Jane ngakak. “Iya, iya. Ih.” “Serius yang itu.” “Iya, Yaaan.” Ryan mengangguk, memberi kecupan sekali lagi, kali ini sedikit agak lama sebelum memisahkan diri. “Bye.” “Bye!” Jane tersenyum. “Kabarin kalau udah landing.” Ryan mengangkat jempolnya. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Kalau udah kebiasaan, kemudian kebiasaan yang dilakukan itu gak lagi dilakukan, udah pasti ngerasa ada yang aneh dan kurang. Mungkin itulah yang terjadi pada Jane. Karena belakangan dia apa-apa pasti sama Ryan, ngapa-ngapain pasti ada Ryan, makanya, bahkan baru pisah di bandara dan sekarang cewek itu baru sampai di apartemen, dia udah kangen aja. Mungkin bener juga kata orang, kalau hubungan masih baru mah emang masih anget-anget kayak tai kucing. Walaupun sejujurnya Jane juga gak tahu apa tahi kucing emang anget. Cewek itu melepas atasan dan bawahannya, meninggalkan Jane dengan celana pendek sepaha dari bahan legging dan tanktop saja, lalu melempar tubuh ke atas ranjang. Cukup melelahkan memang hanya pulang-pergi ke bandara dan menyetir seorang diri, mengingat dia jarang banget bepergian jauh apa lagi dia yang nyetir. Tapi kali ini dia beneran gak masalah buat kecapekan, karena yang ia lakukan emang keinginannya sendiri buat nyenengin Ryan. Tuh, kan. Jane jadi terkikik sendiri karena baru ngerasa dia jadi ikutan bucin. Cewek itu membalikkan tubuh dengan posisi tengkurap, lalu memilih membuka ponsel dan scrolling-scrolling sosial medianya. Walaupun gak ada yang menarik, tapi dia sendiri juga gak tahu mau apa. Ini masih jam sepuluh kurang dan kuliahnya masih tiga jam lagi. Mungkin setelah lelah bermain ponsel, dia akan tidur sebentar sebelum berangkat ke kampus. Tapi baru juga mau stalking instagramnya Hailee Steinfield, dia udah menerima telepon video dari teman baiknya, Hanna. Jane langsung mengangkatnya gak pake lama. “Halo, Cintaaa!” sapanya sumringah. Jane hampir lupa kapan terakhir kali dia hangout sama cewek itu. “Eh lo di kos?” tanya Hanna mengamati background video Jane. “Di apartnya Ryan gue.” “Elah, zina mulu lo.” Jane nyengir. “Ngaca, ya, tolong.” “Gue kira lo ada kelas pagi. Baru mau gue samperin.” “Kagak. Gue siang doang hari ini.” “Ooh, ya udah. Ryan mana?” “Gak ada. Barusan berangkat ke bandara.” “Loh? Lo di apartnya orang tapi yang punya gak ada?” Hanna geleng-geleng kepala dengan muka dibuat-buat. “Bisa-bisanya.” “Orang dia yang nyuruh, kok. Gue mah iya-iya aja. Lagian lebih enak disini dari pada di kos. Hahaha.” “Iya, lah. Mana ada cowok cakep depan mata kan ya?” “Siapa?” Jeff tiba-tiba menyahut. “Cowok mana yang cakep?” “Apa, sih, ikut-ikut!” Hanna mendelik sambil noleh ke samping. “Sanaan.” Jane cuman bisa memutar bola matanya, heran banget Jeff tuh kalau cemburu bisa sampai separah itu. Ya kali deh Hanna ngomongin cowok lain aja gak boleh? Masa yang harus diobrolin Jeff melulu? Lawan bicaranya ya bosen kali. Apa lagi kan yang dibilang Hanna bener, Ryan emang cakep. Bahkan buat Jane, Jeff gak ada seujung kukunya Ryan. “Eh, Han. Gue lupa deh mau ngasih tau sesuatu.” Hanna langsung fokus lagi ke Jane. “Hah? Apa?” “Gue udah jadian sama Ryan.” “WHAT THE HELL!?” Jane ngakak sejadi-jadinya. Teman baiknya itu bahkan sampai berdiri, melotot, dan menutup mulut saking kagetnya. “Demi apa lo?” “Demi lovato,” Jane mengangkat dua jarinya. “Suwer. Hehe. Baru kemarin sih.” “Hah... sial... sumpah gue syok...” “Hahahaha, kenapa sih? Muka lo kayak abis ngelihatin setan aja.” “Gak gak, ini lebih bikin jantungan dari pada ngelihat setan.” Hanna menatap ponsel dengan muka serius. “Anjir lo gak tahu gue seseneng apa. Akhirnya! Gue udah bilang kan dari duluuu, Ryan tuh serius sama lo. Kelihatan anjir dia kalau ngelihatin lo kayak tulus banget, gue aja mupeng.” “Jangan ngomong aneh-aneh, sebelah lo kan ada lakik lo.” Hanna mengedikkan bahu. “Dia barusan cabut sama Deril. Wait, kapan? Kemarin, ya? Anjir masih anget banget itu. Ih, seneng deh gue akhirnya lo gak terbayang-bayang sama si Kaisar!” Jane tersenyum. “Ya iya, sih—“ “Kok ada sih-nya?!” “Ya maksudnya gue emang seneng karena ternyata gue betulan bisa buka hati buat Ryan. Tapi kalau soal Kaisar... gue juga masih belajar biar bisa lupain seratus persen...” “Oh...” Hanna langsung menatap pias. “Gue kira udah move on sepenuhnya.” Jane meringis, kemudian menggeleng. “Tapi Ryan emang sesayang itu, sebaik itu sama gue. Jadi gak bakal susah buat jatuh cinta ke dia.” Hanna mengangguk membenarkan. “Gue berharap yang terbaik aja, deh, buat lo berdua. Pokoknya kalau ada apa-apa kabarin gue, oke?” “Iya, tau.” “Jadiiii, malem ini Swillhouse, gak?” Hanna mengangkat alisnya sambil menyeringai. Jane jadi ikut menyeringai. “Swillhouse dong, sist.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Slow it down till my heart is ready to explode Bring it back, go down low As far as you can go Tell me will you love me tomorrow Like you love me tonight, oh oh See we can worry about it tomorrow Just give me tonight * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN