26 : don't get wasted

1945 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sepengetahuan Jane, Ryan emang udah kosong di jam lima sore. Maksimal jam enam, cowok itu uah sampai di hotelnya dan gak ada jadwal keluar atau meeting. Kecuali keesokan harinya karena Ryan harus menghadiri pesta pertunangan salah satu rekan kerjanya yang juga diselenggarakan di hotel ternama Gorontalo, dihadiri oleh pejabat-pjabat penting lainnya. Kenapa Jane bisa tahu sampai mendetail begitu tentang jadwal-jadwal Ryan disana? Tentu aja karena Ryan sendiri yang cerita. Padahal tanpa Ryan cerita, Jane tuh yakin seratus persen cowok itu gak bakal aneh-aneh. Bilang kalau dia sok tahu, karena gimanapun Jane belum kenal lama denga Ryan. Terhitung kedekatan mereka baru menginjak bulanke tiga. Tapi entahlah, bukannya firasat perempuan sangat tajam kalau menyangkut hal-hal seperti ini? Jadi Jane gak pernah curiga kayak gimana-gimana. Atau mungkin beda lagi kalau aja ada River di Gorontalo juga. Malam ini, di pukul setengah sembilan, Jane baru membuka hape kala dia menerima panggilan telepon dari sang pacar. Cewek itu menekan tombol hijau untuk mengangkatnya, kemudian membunyikan loudspeaker dan meletakkan ponsel di meja depannya, sementara dia masih berkutat dengan lipstik di depan meja rias. “Babe?” Suara Ryan di seberang sana hanya terdengar biasa, kalau bagi orang lain. Tapi beda lagi kalau yang denger adalah Jennie Laura. Suara cowok itu terdengar panas dan seksi di telinga, juga sekaligus menumbuhkan rasa rindu padahal mereka belum berpisah dua puluh empat jam. Bahkan baru dua belas jam. “Ya?” sahut Jane. “Udah selesai mandi?” “Udah. Mau ganti video call?” “Boleh.” Kemudian panggilan video call masuk secepat itu, di detik setelahnya. Jane tersenyum manis ketika layar gawainya penuh dengan wajah Ryan. Seperti biasanya, cowok itu selalu bertelanjang d**a kala selesai mandi, atau hendak tidur. Dan mungkin di sana, Ryan memang melakukan dua-duanya. Dia baru selesai mandi dan hendak tidur. Jane masih suka tergiur sendiri mlihat tato-tato di lengan Ryan. Dan kekagumannya gak bakal berhenti kalau aja Ryan gak menegurnya. “Kamu jadi mau keluar sama Hanna?” Jane mengangguk sambil meletakkan lipsticknya. Dia menoleh ke kamera ponsel. “Iya. Gak papa, kan?” “It’s okey. Asal bisa jaga diri, ya?” Jane mengangguk. Satu hal lagi yang bikin dia suka, jatuh cinta, dan gak mikir ulang buat nerima Ryan jadi pacarnya adalah karena cowok itu gak ribet, gak kekanakan, pengertian, dan bisa dewasa. Hal kayak ini mungin kelihatan biasa aja di mata sebagian orang. Tapi sejujurya kebanyakan dari laki-laki bakal ribet dengan melarang pacarnya buat gak ini dan gak itu. Sekalipun alasan mereka benar, bahwa mereka hanya ingin yang terbaik untuk kekasihnya, tapi itu artinya cowok yang kayak gitu gak cocok buat Jane. Bukan tipenya banget. “Siap.” “Sama Hanna doang? Atau ada Jeff?” “Gak ada Jeff. Aku udah bilang, sih, tadi ke Hanna kalau aku gak mau cowonya ikutan.” Ryan tertawa. “Gak mau jadi nyamuk, ya?” “Iya, lah. Enak aja aku sekarang udah ada cowok masa mau jadi nyamuk mulu.” “Kapan-kapan kita jalan berempat aja biar gak nyamuk-nyamukan.” Jane melongo. “Sama Jeff? No way. Males banget. Dia tuh rese, gak sama aku doang, sama kamu malah lebih-lebih. Gak inget apa?” “Ya makanya, karena itu kita harus jalan-jalan bareng kapan-kapan, siapa tahu kan jadi makin akrab.” Jane betulan gak habis pikir sama pacarnya. “Yang jemput siapa, Babe? Kamu apa Hanna?” “Aku. Hanna, kan, gak ada mobil.” Ryan manggut-manggut. “Mau berangkat sekarang?” Jane melirik ke arah dinding. Lalu kembali ke layar ponsel dan menganggukkan kepalanya. “Iya, berangkat sekarang. Aku tinggal gak apa-apa, ya?” “Iya, drive safely, ya.” “Gak usah nungguin aku pulang. Kalau ngantuk istirahat langsung,” pesan Jane. “Udah dinner, kan?” “Udah, kok.” “Good. Aku matiin, ya?” Ryan mengangguk. “Kalau ada apa-apa langsung telpon.” “Iya, Sayang. Bye, love you.” Cowok di seberang sana makin melebarkan senyumnya. Gadis cantik dengan dress putih tulang itu memang paling tahu cara membuat Ryan senang bukan main. “Miss you,” jawab Ryan membuat Jane tertawa. “Makanya cepet pulang biar gak kangen.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sejak terakhir kali dia mergokin Jeff dan Hanna lagi make out, entah di kosan Hanna atau di kosan Jeff, dan membuat matanya ternodai, Jane emang bener-bener milih buat nungguin temennya itu di depan kos aja dari pada masuk ke kos. Dia gak mau mengulangi kejadian tersebut, jadi sekarang pun yang ia lakukan setelah sampai di depan kosan Jeff adalah menelpon Hanna dan menyuruhnya turun karena dia sudah di depan. Gak lama setelah ini—ralat, ding, lama banget—Hanna akhirnya muncul. Itu pun sama Jeff. Udah Jane bilang, kan? Jeff tuh segila itu bucin ke temennya. Masa ke bawah doang aja dianter? “Lo gak boleh ikut!” ujar Jane setelah membuka kaca mobil dan mendelik ke arah Jeff. Yang diajak ngomong cuman memutar bola mata. “Siapa juga sih yang mau ikut?” “Halah, biasanya kan lo suka ngintilin Hanna!” Dan Jane yakin pasti sebelum Hanna turun tadi, Jeff udah mohon-mohon biar diizinin ikut, tapi sama Hanna tetep gak dibolehin karena udah keburu janji sama Jane mau ke Swill berdua doang. Kebaca banget, hafal banget Jane sama kelakuannya Jeff. Lagi pula sekarang muka cowok itu juga kelihatan bete. “Ati-ati kalau nyetir. Cewek gue jangan boleh minum banyak-banyak.” Jane kini yang memutar bola mata. Tanpa dikasih tahu pun dia tahu harus apa. Dikira sebelum sama Jeff, yang jagain Hanna kalau lagi clubbing siapa lagi kalau bukan dia? Aneh banget. “Bacot lu.” “Serius,” Jeff hampir menjitak kepala Jane saking emosinya. “Kalau ada cowok nempel-nempel langsung hajar aja. Lo kan lulusan taekwondo.” “Iya, iya. Hadooh, posesif banget lo jadi orang.” Kemudian Hanna berpamitan pada Jeff, dan berakhir Jeff ceramah lagi dengan kebanyakan pesan dan larangan. Hanna harus ini, Hanna harus itu, Hanna gak boleh gini, gak boleh gitu. Barulah setelah Jane muak karena Jeff buang-buang waktu, dia langsung menghidupkan mesin dan meninggalkan pekarangan kosan Jeff. Entahlah. Bahkan sampai saat ini Jane masih suka bingung. Kenapa dari banyaknya cowok ganteng dan gak rese, Hanna malah macarin cowo gak ganteng dan rese kayak Jeff Raksakatama? Kayak gak ada yang lain aja. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  * * * * * * * * * * * * * * I saw it coming, from miles away I better speak up if I got something to say 'Cause it ain't over, until she sings You had your reasons, you had a few But you knew that I would go anywhere for you 'Cause it ain't over, until she sings Lagu More Than You Know yang dibawakan oleh Axwell itu memenuhi uangan, setaip beat musiknya mendengung kencang di telinga. Tapi alih-alih mengganggu, tentu saja malah banyak pengunjung bar yang langsung turun ke dance floor. Ah, Jane rasanya senang sekaligus rindu sekali. Kapan terakhir kali dia bersenang-senang dan mabuk-mabukan begini? Udah lama banget. Padahal kalau dinget-inget, dulu dia bahkan rutin banget seminggu sekali atau dua kali pas weekend. Jennie Laura dan alkohol seolah gak bisa dipisahkan. Your good intentions are sweet and pure But they can never tame a fire like yours No it ain't over, until she sings Right where you wanted, down on my knees You got me begging, pretty baby set me free 'Cause it ain't over, until she sings “Turun sekarang, gak?” Hanna berteriak sambil mencolek lengan Jane, berusaha mengajak perempuan itu mengobrol sekalipun suaranya hampir teredam oleh keramaian. Jane menggeleng dan mengibaskan tangan. “Nanti aja.” Hanna mengangguk setuju. Tangannya kembali meraih botol alkohol dan menuangkan gelas masing-masing dari mereka. Kali ini langsung penuh. “Jangan mabok. Gue ogah urusan sama cowok lo.” Hanna ketawa doang tapi tetep aja diteguk habis. “Lo udah pamit sama Ryan tadi?” “Udah.” “Dibolehin?” Jane mangangguk. “Enak pasti tuh punya pacar gak posesif.” Jane ngakak. Dia tahu kadang Hanna bisa betulan lelah menghadapi Jeff yang sangat posesif dan protektif. Sesayang apapun cowok ke cewe atau sebaliknya, pasti tetep bakal capek kalau terlalu diatur. Terasa mencekik. “Syukurin aja,” jawab Jane sambil menepuk pundak Hanna. “Gitu-gitu, kan, Jeff udah cinta mati. Lagian lo kelihatan hidup banget setelah sama itu cowok.” “You right.” “Cheers?” Hanna mengangguk dan mengangkat gelasnya. “Cheers!” Keduanya tertawa-tawa entah menertawakan apa, padahal gak ada yang lucu. Tangan kanan ereka mengangkat gelas dan meneguk cairan panas di tenggorokan tersebut. Saking udah berteman baik sama yang namanya minuman keras, mereka gak ngerasa gimana-gimana lagi. Come a little closer, let me taste your smile Until the morning lights Ain't no going back the way you look tonight I see it in your eyes “Eh, Jane.” Cewek yang dipanggil mendekatkan telinga ke arah Hanna. “Hah? Apa?” “Itu,” Hanna mengedikkan dagu. “Siapa tuh?” Jane memicingkan mata. Gak paham sama yang dimaksud Hanna. “Itu siapa, sih?” Tangan Hanna langsung menunjuk ke arah yang dimaksud. Bukan di lantai dansa, melainkan di table lain yang letaknya agak jauh. Tapi sekarang, tanpa harus bertanya lebih jauh, Jane tahu siapa yang dimaksud teman baiknya itu. Kaisar ada disana. Dengan mata elang mengunci tatapan Jane. Dan ini adalah kabar buruk. I just need to get it off my chest Yeah, more than you know Yeah, more than you know You should know that baby you're the best Yeah, more than you know * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN