* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Jane tahu Jakarta itu gak sempit. Dengan jumlah penduduk DKI Jakarta yang tercatatat sebanyak 11,25 juta jiwa pada Juni 2021 saja sudah terlihat alasan kenapa Jakarta sampai macet, Jakarta sampai banjir, dan lain sebagainya. Karena penduduknya banyak.
Jakarta luas banget. Dan kenapa lagi dan lagi ia selalu dipertemukan dengan laki-laki bernama Kaisar yang menyandang status sebagai mantan kekasihnya, dengan catatan yang paling susah dilupain Jane. Kenapa?
Jane lebih rela kalau dia harus dipertemukan lagi dengan Theo, dosennya yang entah belakangan ini dia malah gak pernah ketemu orang itu di kampus. Setidaknya kalau ia berhadapan dengan Theo, satu-satunya sikap yang ia tunjukkan adalah dingin—jika mereka kebetulan bertemu secara personal. Jika di kampus, maka ia akan menghormati Theo seperti apa yang seharusnya mahasiswa lakukan pada dosen mereka. Dengan tambahan mungkin Jane akan sedikit suka sarkasme.
Lebih baik lagi kalau ia dipertemukan dengan Jiro Dimanegara alias Jidi. Pria itu adalah mantan yang paling disayangi Jane—bukan sayang dari wanita pada pria, sekarang hubungan mereka lebih seperti kakak dan adik. Akan lebih mudah baginya untuk bertemu dengan Jidi.
Asalkan jangan Kaisar.
Tapi boro-boro begitu, yang ada belakangan ini, dia gak pernah ketemu Jidi maupun Theo, tapi Kaisar lagi, Kaisar mulu.
Tuhan seolah sangat sengaja bikin hati Jane terombang-ambing. Jane benci Kaisar. Dia membenci laki-laki sawo matang itu karena Jane sadar Kaisar terlalu banyak mengambil hatinya.
Lalu sekarang, dari belasan atau bahkan puluhan klub malam besar dan ternama di kota Jakarta, sebut saja Dragonfly, Velvet, Jenja Jakarta, Fable, dan Classic, kenapa dia harus bertemu Kaisar di Swillhouse?
Kaisar masih tampak menawan, selalu, bahkan setelah sekian lama tak menjadi kekasihnya. Laki-laki itu punya aura seksi dan mengintimidasi, walaupun Jane akui kalau dibanding kekasihnya yang sekarang, Ryan, Kaisar bukan apa-apa. Laki-laki itu jelas bukan tandingan yang setara dengan Ryan.
Seharusnya Jane tidak membalas tatapan Kaisar seperti apa yang saat ini ia lakukan. Seharusnya dia langsung mengalihkan wajah kala dari table Kaisar yang berjarak sedikit jauh dengan table miliknya dengan Hanna, menatapnya dan mengunci pandangan.
Jane seolah terhipnotis, tak bisa mengalihkan mata kemana-mana. Dan ia gak tahu harus sampai kapan adu tatap seperti ini yang membuatnya kembali ke masa-masa penuh cinta yang manis saat mereka berdua masih bersama, kalau aja Hanna gak tiba-tiba menepuk pahanya menegur.
“Watch your behavior, Jane.”
Jane tersentak dan menoleh ke arah Hanna. Teman baiknya itu memutar bola mata, tampak jengah dengan kelakuan Jane yang lagi-lagi mudah terombang-ambing kalau udah dihadapkan dengan Kaisar.
“Lo udah punya cowok, oke? I mean, lo udah punya cowok yang sesayang itu sama lo, dan dia setia, dan Ryan gak neko-neko, jadi please, gak usah balik-balik gamonin Kaisar lagi.”
Benar. Apa yang diucapkan Hanna benar. Seharusnya Jane mampu mengendalikan diri sendiri.
Tapi dia tidak yakin dia bisa.
Apa yang ada di kepalanya sedari tadi adalah, mengapa Kaisar berada disini, bermabuk-mabukan sedangkan Crystal masih berada di rumah sakit? Atau kekasih Kaisar itu sudah dipulangkan? Tapi kenapa Kaisar tidak menemani Crystal yang seharusnya masih bed rest alih-alih harus pergi bersenang-senang?
“Jennie Laura!” tegur Hanna lagi.
Jane terperanjat lagi. “Stop kagetin gue!”
“Gue laporin Ryan lo ya kalau masih ngelamun. Mikirin Kaisar pasti.”
“Enggak.”
Hanna mencibir gak percaya, hendak kembali mengangkat gelasnya kala kemudian dia menemukan laki-laki yang jadi bahan perbincangan mereka malah kini sudah berdiri, dan berjalan mendekat. Tentu. Tentu Hanna sudah tahu dimana langkah kaki Kaisar akan berhenti.
Di hadapan Jennie Laura.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Here you go,” Hanna menggumam menyindir Jane.
Dia melirik Kaisar sinis namun tak mengeluarkan sepatah katapun. Begitu pula dengan Kaisar yang sepertinya masih suka bersikap gak sopan dengan memandang Hanna dengan sorot malas.
Layaknya hubungan Jeff dan Jane yang gak baik mirip anjing dan kucing, hubungan Hanna dan Kaisar pun juga begitu. Malah lebih parah lagi. Kalau Jane masih mau ngomong sama Jeff walaupun agak nyolot, Hanna bener-bener udah gak mau bersuara di depan Kaisar. Najis katanya.
“Hai,” Kaisar tersenyum dan berhenti di depan Jane. “Boleh duduk disini?”
Jane merasakan detak jantungnya yang kembali berulah.
Kalau kemarin saat di Rumah Sakit dia bertemu dengan Kai masih dalam zona aman karena dia membawa Ryan, kali ini dia tak memiliki pegangan. Hanna tentu tak bisa mengendalikan perasaan Jane yang tiba-tiba tergoyah begini.
Tapi Jane berusaha semaksimal mungkin untuk memasang topengnya. Dia mengambil slot gelasnya dan menatap Kaisar malas.
“Gak. Just sit at your own sofa.”
Kaisar terlihat menghela nafas. Tapi bukannya dia bersikap tahu diri dengan pergi meninggalkan Jane, cowok itu malah duduk di meja setelah menyingkirkan botol dan gelas disana. Lututnya berbenturan dengan lutut Jane. Kaisar memandang lurus ke arah mantan kekasihnya, tak menghiraukan Hanna sama sekali.
“Sama Hanna doang? Cowok lo yang kemarin kemana?”
Jane gak berminat menjawab.
Kaisar terkekeh kecil tiba-tiba. “Gue udah nebak sih gak bakal long last. Dia bakal jadi cowok ke sekian yang lo mainin sesuka hati, terus lo tinggal setelah lo puas. Tipikal Jennie Laura, right?”
Perempuan itu menghela nafas, membenci sifat Kaisar yang selalu bersikap semena-mena dalam menilai orang. Sejujurnya, Kaisar ini punya banyak sifat buruk. Kenapa Jane masih saja susah melupakan laki-laki b******n seperti dia?
“Apapun yang gue jalani, itu bukan urusan lo. Oke? Urusin kehidupan lo sendiri. Lagian bukannya kemarin lo bilang cewek lo lagi opname? So why are you here?” Jane mengangkat satu alisnya tinggi, mengintimidasi. Kemudian dia menyeringai. “Oh, gue lupa. Harusnya gue apal kalau lo emang b******k. Tipikal Kaisar banget, kan?” ujarnya membalik kalimat Kaisar tadi.
“Dia udah pulang dari rumah sakit. Gue disini karena temen gue ngundang,” Kaisar menunjuk ke arah belakang, menunjuk ke meja tempatnya tadi berkumpul bersama teman-temannya. “Rio—masih kenal Rio, kan? Dia abis putus sama Sindi, jadi ngajakin yang lain buat mabok-mabokan.”
Too much information. Batin Jane ketus.
“Jane.”
Cewek itu mau gak mau mengangkat kepala membalas tatapan Kaisar.
“Gue b******k, gue tahu. Gue nyakitin lo banyak banget,” Kaisar menatapnya lembut. Merasa bersalah. “Gue udah kecipratan air, better sekalian nyebur aja, kan?”
Jane mengernyit gak paham sama maksud Kaisar.
“I miss you. I miss us.”
Dan Jane gak tahu kenapa enam kata itu mampu membuat sorot mata tajamnya yang sedari tadi menatap Kaisar, kini jadi melembut.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Jane bersyukur karena Hanna lebih tegas dari yang ia pikirkan. Dia gak tahu bakal jadi apa hatinya kalau Hanna gak langsung ngusir Kaisar biar pergi, sementara Jane udah gak bisa berkata-kata. Ia bimbang. Hatinya bimbang.
Mendengar laki-laki itu bilang bahwa Kaisar merindukannya, sedikit banyak membuat Jane senang. Senang karena Kaisar juga merasakan bagaimana rasanya merindukan masa lalu yang sudah usai seperti apa yang ia rasakan selama ini, senang karena Kaisar akhirnya mendapat karma dengan menyesali keputusannya dulu dengan meninggalkan Jane untuk perempuan lain, juga senang karena ia akhirnya memiliki sedikit waktu untuk kembali menyelami mata lembut Kaisar walau hanya beberapa detik saja.
“Gue bener-bener out of my mind,” Hanna mengomel. Dia menatap Jane dengan pandangan kecewa dan gak habis pikir. “Lo, tuh, udah ada Ryan. Kenapa gak langsung nendak burung Kaisar pas dia milih buat ngajak lo ngobrol!?”
Jane menghela nafas. Dia memijit pelipisnya. Bukan pusing karena terlalu banyak mengonsumsi alkohol hari ini.
“Kalau lo beneran oleng lagi ke mantan lo yang b******k kayak anjing itu, gue bener-bener—f**k. gue gak tahu lagi harus ngomong apa. Lo t***l, sih, kalau kata gue.”
“Andai ngatur hati segampang bolak-balikin telapak tangan, Han. Gue juga maunya milih langsung buang nama Kaisar di hidup gue sejak lama dan gantiin posisinya sama Ryan. Tapi gue gak bisa,” Jane mengerang kesal. “Lo sendiri pernah kan sadar kalau lo g****k karena Jeff b******k tapi lo-nya juga masih cinta?”
“Beda konteks, Jane!”
“Sama!”
Hanna memutar bola matanya. “Terserah, deh.”
Hilang sudah mood Jane buat bersenang-senang hari ini.
Sebisa mungkin, setelah Kaisar menghilang dari hadapannya, Jane memilih buat gak melirik ke meja semula milik cowok itu. Dia tahu dia salah. Walaupun kenyataannya Jane tak melakuka apapun, juga tak sempat membalas apapun dengan pengakuan mantannya tadi, tetap saja, fakta bahwa hatinya kembali jatuh pada Kaisar membuta dia dilanda rasa bersalah pada Ryan.
“Balik aja, lah, sekarang,” Jane berujar memutuskan sambil mengambil tasnya.
Hanna menoleh. “Serius?”
“Iya, gak mood gue.”
“Mending balik, sih, emang. Ngelihat muka mantan lo bikin mood gue ancur juga.”
Sebenci itu Hanna sama Kaisar.
Keduanya sepakat untuk berdiri dan meninggalkan kelab malam. Jane sama sekali tidak menoleh ke arah Kaisar, walaupun Hanna sempat memberitahunya bahwa Kaisar memandangi Jane tanpa berhenti.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Alasan Jane menyayangi Hanna, mensyukuri keberadaan perempuan itu dalam hidupnya, hingga menganggap Hanna seperti kakak sendiri—atau bahkan di beberapa momen dia malah lebih cinta sama Hanna dari pada sama mamanya sendiri, adalah karena perhatian perempuan itu pada Janegak main-main.
Hanna gak sungkan buat marah kalau Jane emang salah, gak sungkan buat ngedikte dan menjelaskan step apa yang harus dilakukan Jane agar tidak salah langkah, membantu cewek itu menyelesaikan masalah yang dihadapinya, ketawa pas Jane ketawa, nangis pas Jane nangis. Hanna sebaik itu ke dia.
Kalau ada yang bertanya siapa manusia di dunia yang tahu segala sesuatu tentang Jane, jawabannya adalah Hanna. Dia gak pernah sama sekali nutup-nutupin rahasia dari cewek itu, mulai dari hal kecil sampai hal besar.
Walaupun Jane sadar kalau Hanna gak bisa terbuka ke dirinya seperti dia yang terbuka pada Hanna, dia gak pernah mempermasalahkan. Toh tiap orang punya karakter masing-masing.
Duulu ketika Hanna akhirnya memberi tahu tentang masa kelam yang dia miliki pada Jane, dia sama sekali gak kecewa dan marah karena baru diberi tahu hal sebesar itu saat semuanya sudah sangat buruk. Dia tetap mendengarkan keluh kesah Hanna, dan mencoba memberikan solusi terbaik serta uluran tangan sebisanya.
Dia sadar banget, kalau Hanna bukan tanpa alasan menutupi rahasia dari Jane. Bukan karena Jane adalah orang yang gak bisa dipercaya, bukan juga karena dia tak cukup dekat dengan Hanna hingga Hanna harus memberitahunya rahasia besar tersebut, tapi karena Hanna malu dengan masa lalu yang ia miliki.
Toh Jane bersyukur karena setidaknya Hanna tidak menyimpan rahasia itu sendirian, ada Juno dan Gana sebagai teman dekatnya yang lain yang selalu mendukung Hanna di belakang, dan menjaganya dari jahatnya dunia. Jane bersyukur karena teman terbaiknya itu punya orang-orang yang menyayangi dia.
Pun dengan keberadaan Jeff yang walaupun Jane akui cowok itu betulan rese dan nyebelin, dia tahu Hanna dan Jeff saling mencintai. Keduanya terikat sangat tulus, walaupun kalau orang lihat selalu bilang bahwa Jeff dan Hanna gak bisa berakhir bersama karena keduanya toxic.
Well, afterall, siapa yang memutuskan hidup siapa, kan? Dengerin omongan buruk dari orang lain yang gak kenal siapa kita adalah salah satu hal yang sangat buang-buang waktu.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Kenapa Jane tiba-tiba ngomongin Hanna?
Ada dua hal alasannya. Pertama, karena kali ini, sepanjang perjalanan dari Swillhouse hingga kosan Jeff untuk mengantar Hanna pulang, dia sebenarnya sedikit pusing karena Hanna gak berhenti ngomel dan ceramah ke Jane.
Tentu aja bisa ditebak topik apa yang dibawakan cewek itu. Apa lagi kalau bukan tentang Kaisar dan Ryan.
Hanna mengulang-ulang kalimat bahwa Jane harusnya ingat bagaimana Kaisar bisa dengan brengseknya selingkuh dan tidur dengan perempuan lain saat mereka masih bersama, Jane yang harusnya tidak kembali terpikat dengan Kaisar apa lagi ketika dia sudah menjalin hubungan secara resmi, Jane yang seharusnya membuka mata lebih lebar karena Hanna punya firasat bahwa Ryan adalah laki-laki yang tepat, Jane yang ini dan Jane yang itu.
Dia beberapa kali menghela nafas, sedikit banyak berulang kali dia hanya jawab iya-iya saja pada Hanna, tanda bahwa dia paham. Toh dia memang paham betulan. Ini kesalahannya, dan apa yang dikatakan Hanna seratus persen benar, gak ada yang salah.
Nah yang itu juga yang bikin Jane nyebut Hanna sebagai pengganti ibunya. Karena dalam beberapa waktu, seperti saat ini, cewek itu bisa betulan bersikap sangat keibuan pada Jane.
Lalu alasan kedua adalah karena Jeff.
Gak cuman saat ini, sebelum-sebelum ini, Jane sebenernya sering banget tiba-tiba ngelamun mikirin Hanna dan Jeff. Dia jelas gak lupa gimana Hanna dulu adalah cewek b******k yang suka matahin harapan dan hati laki-laki. Mulai dari brondong sampai om-om, semuanya yang pernah naksir Hanna, berakhir jadi tempat sampah saja. Hanna dulu selicik itu. Sebelas dua belas sama Jane. Makanya banyak yang suka bilang kalau Jane dan Hanna adalah cermin. Mereka seperti orang yang sama hanya saja beda tubuh. Hampir gak ada bedanya dilihat dari segi karakter.
Kemudian datanglah Jeff di kehidupan Hanna, yang kalau kata Adera yakni : dan kau hadir merubah segalanya.
Sumpah, Jane masih gak ngerti kenapa cinta bisa bikin hidup orang seberubah itu. Jane tahu Jeff pun gak bisa diandelin buat bikin Hanna berubah jadi orang yang lebih baik, toh sekalipun udah pacaran, Hanna tetep gak berhenti ngerokok dan mabuk-mabukan. Tapi bagaimana keduanya selalu ada untuk satu sama lain saat diterpa masalah, bagaimana mereka jadi saling melengkapi, bagaimana keduanya bisa jatuh cinta sedalam-dalamnya seolah manusia lain ngeblur di mata Jeff dan Hanna, Jane gak tahu kalau cinta bisa sampai kayak gitu.
Lalu somehow...
Jane iri sendiri.
Dulu, dia pikir Kaisarlah yang akan jadi pelabuhan terakhirnya. Karena Jane begitu terbuka, menyerahkan segalanya, menceritakan semuanya, pada Kaisar. Ia kira dia bisa Hanna sementara Kaisar jadi Jeff-nya. Tapi ternyata dia salah.
Jane ingin melabuhkan hatinya pada orang yang tepat. Sekalipun dia gak bisa disebut perempuan baik, apa dikira dia tidak lelah menjelajah dari satu laki-laki ke laiki-laki lain? Dia pun ingin berhenti, dia ingin bertemu dengan siapapun belahan jiwanya yang sudah tertulis di suratan takdir agar ia tak perlu membuang-buang waktu untuk laki-laki yang salah.
Kemudian Hanna memberinya tamparan keras.
“Ryan orangnya,” katanya tadi. “Lo tahu firasat gue jarang meleset. Ryan orang paling tulus yang pernah lo temuin. Semua orang bisa lihat gimana dia rela bersujud depan kaki lo saking cintanya. He’s may be your last.”
Dan saat ini, Jane hanya bisa berdiam diri, dengan menghela nafas berkali-kali, berharap dia bisa betul-betul belajar fokus saja pada Ryan dan menghapus nama Kaisar.
Semoga. Semoga saja ia berhasil.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *