27 : these heavy thoughts

2667 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Setelah membuka pintu apartemen dengan kartu akses yang sengaja dititipkan Ryan padanya selama Ryan masih di Gorontalo, Jane mengamati seluruh ruangan di dalamnya. Entahlah. Apa memikirkan laki-laki lain saat dirimu memiliki status dengan laki-laki lainnya lagi adalah salah satu bentuk dosa dan pengkhianatan? Bukan mau Jane di seperti ini, tapi Jane juga bisa membayangkan kalau dia pun akan marah jika Ryan memikirkan perempuan lain ketika sudah bersamanya. Apakah artinya Jane berkhianat saat ini? Dia tidak suka berkhianat, tak suka dikhianati. Lalu apa mau Jane saat ini, sebenarnya? Cewek itu menelusuri kanvas-kanvas berukuran persegi yang sengaja ditata rapi di salah satu dinding apartemen, Ryan sendiri yang menata dan memakunya dulu. Disana ada seni berupa foot-foto tato milik Ryan. Didominasi warna kanvas yang putih bersih dan gambarnya yang berwarna hitam, mereka sangat menyatu dengan bagaimana setiap ruangan Ryan di apartemen ini juga kebanyakan hanya memiliki warna hitam, putih, dan abu. Dia menghela nafas panjang ketika menemukan dia sangat merindukan Ryan hanya karena mengamati gambar bunga pada salah satu kanvas. Jane hafal letaknya. Itu ada di punggung tangan Ryan, berukuran besar, dan kalau tidak benar-benar mengamati, mungkin orang bisa salah paham mengira bahwa bentuk tato disana bukan bunga, melainkan gambar batik, atau malah semacam kincir angin, atau malah gambar tangan yang mengepal. Jika tato-tato lain di tubuhnya masih bisa ditutupi entah dengan baju lengan panjang atau apapun, maka tato yang tidak bisa ditutupi Ryan tentu saja yang di bagian punggung tangan hingga jemarinya. Tato Ryan betul-betul banyak, dan bodohnya Jane selalu lupa menanyakan apa arti gambar-gambar permanen di kulit cowok itu. Jane mundur selangkah agar bisa mengamati lebih luas lagi pajangan-pajangan gambar tato disana. Nampaknya dia belum puas. Nampaknya kalau orang lain merindukan kekasihnya maka mereka akan menatap foto wajah orangnya, Jane tidak begitu. Lihat saja apa yang ia lakukan sekarang. Tapi belum selesai Jane melihat-lihat, ponselnya bergetar panjang—mengingat  dia tadi memang memastikan mode suara di hapenya saat memasuki Swillhouse. Jane merunduk dan merogoh ponselnya yang ada di sling bag. Dia kira kekasihnya yang menelpon. Karena Jane benar-benar berharap nama Christian Dave yang muncul. Tapi sayangnya itu Kaisar. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Jane tentu saja merejectnya. Tapi bukan berarti seorang Kaisar bisa diam saja dan berhenti disana, kan? Jane masih ingat bagaimaana kelakuan Kaisar yang tak kalah keras kepala dan menyebalkan. Laki-laki itu tukang paksa. Menyerah, akhirnya perempuan itu memilih menekan tombol hijau seraya mulai melangkahkan kaki berjalan ke arah kamar, dengan telepon genggam ia taruh di samping telinganya. “Jane?” “Ngapain nelpon?” Suara di belakang Kaisar terdengar sedikit ramai. Jane bisa menebak kalau laki-laki itu mungkin belum pulang, masih di tempat yang sama seperti ketika keduanya bertemu, Swillhouse. Mungkin Kaisar sekarang sedang ada di toilet laki-laki atau di tempat parkir? Entahlah. Kenapa pula Jane harus penasaran, kan? “Udah nyampe kos?” “Hm.” “Syukurlah kalau selamat sampai tujuan.” “Kalau gak ada yang penting gue tutup.” Di seberang sana, Kaisar terdiam. Tapi Jane tahu cowok itu mungkin sedang menyusun kata-kat. “I miss you, i miss us.” “Lo udah ngomong gitu tadi.” “And i still mean it,” Jane memejamkan mata sambil memijat pangkal hidungnya. Dia merasa tiba-tiba migrain saja mendengar Kaisar kembali mengajaknya berbincang dengan topik sensitif seperti ini. Jane segera duduk di tepi ranjang, melempar asal tasnya dan melepas sepatu. “Gue gak peduli,” jawabnya masih dengan nada datar. Jane sudah berjanji pada diri sendiri bahwa dia tak akan terpancing lagi dengan Kaisar. Dia ingin menyudahi perasaannya. “Do you?” Jane berdecak sebal. “Lo, tuh, ngapain sih, hah? Lo punya cewek, gue punya cowok. Terus maksud lo ngomong gini apa? Crystal tahu kelakuan lo begini? Hah?!” “...” “Diem kan lo? Cewek lo tuh cewek baik, gue jamin dia gak bakal mau balikan sama lo kalau aja dia tahu sebenernya kita udah jadian waktu itu pas dia lo ajak bobo asik.” “Lo tahu dari mana?” “Ketebak. b******n emang gitu kan cara mainnya?” “Jane i’m sorry, oke? What i did to you was so wrong.” “Ya emang, baru nyadar sekarang lo?” “Tapi semakin kesini, gue semakin sadar kalau gue sayangnya sama lo. Kemarin-kemarin... mungkin... gue cuman obsesi sama Crystal, mungkin kangen doang karena dulu juga sempet lama sama dia—“ Jane terbahak, ketawa mencemooh. “Terus maksud lo ngomong gini apa, anjing? Lo mau bilang lo pengen gue balik ke elo? Terus abis kita balikan, lo ngerasa kangen juga ke Crystal dan di belakang gue mau nelpon dia bilang kangen dan pengen Crystal balik ke elo?” Jane benar-benar muak. Kenapa ada cowok sebodoh dan sejahat Kaisar? Dia gak tahu kenapa bisa-bisanya dia terjebak dalam lingkaran saitan dan mau-mau aja baper sama Kai sampai dia keterusan dan gagal move on padahal Kaisar orangnya sama sekali gak layak dicintai. “Enggak gitu—“ “Udahlah, anjing,” Jane menarik nafas dalam. “Gue gak ada waktu buat omong-kosong—“ Hape Jane bergetar panjang lagi, membuat dia langsung melihat layar dan menemukan Ryan meneleponnya. Cewek itu kembali berbicara pada Kaisar. “Intinya udah. Gue gak mau urusan sama lo dan denger lo ngebulshit. Gak takut karma apa ya elo tuh jadi cowok kok b******n banget?” “Jane—“ “Bye, cowok gue nelpon.” Jane langsung memutuskan panggilan teleponnya dengan Kaisar. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Ketika Jane baru hendak mengangkat telepon dari Ryan, panggilan tiba-tiba terputus. Jane jadi mengernyit, apa cowok itu kepencet doang? Jennie Laura: kenapa? belum tidur? Jane melirik ke arah jam weker di atas meja nakas yang menunjukkan pukul 00.01. Tiba-tiba dirinya ingin berendam saja untuk membenarkan cara kerja kepalanya yang tiba-tiba terasa korslet karena harus berhadapan dengan Kaisar tadi. Jadi sembari menunggu balasan dari cowok itu, dia memilih untuk menanggalkan dress-nya dan pernak-pernik yang ia pasang di leher dan di telinga, kemudian membersihkan wajahnya dengan triple cleansing karena jujur saja dia tadi memakai make up sedikit tebal. Setelah selesai dengan semua itu, air panasnya yang sudah siap di bath up membuat ia kembali beranjak dari kursi di depan meja rias dan segera masuk kesana usai dia memutar lagu dari salah satu playlist-nya di Spotify, kemudian menaruh ponselnya di tempat yang aman dari jangkauan air. Tepat ketika kulitnya menyentuh air, Jane bernafas lega dan puas. Dia benar-benar membutuhkan relaksasi semacam ini agar kepalanya tak penuh dengan benang kusust. Ah, Jane betulan membenci Kaisar. Coba saja malam ini dia tak bertemu dengan sang mantan, maka ia pasti sudah having fun dengan Hanna untuk melepas rindu bertemu dengan botol-botol alkohol. Jane memejamkan mata beberapa saat, menikmati hening pada isi kepalanya, dan menenangkan hatinya sendiri seiring dengan lagu yang ia putar menjadi teman baiknya malam ini. Sometimes I feel tired Of my heavy thoughts It's like start a fire When we're on the boat And I'm on my own now Just wasting my nights Without you behind I see it so clearly That you won't believe I just wanna stay here With you, my love Kemudian tak tahu apa alasannya, entah karena Kaisar yang kembali mengacaukan hatinya, atau karena ia yang terlalu rindu dan ingin memeluk Ryan, entah pula jika saja alasannya karena dia hendak memasuki fase PMS beberapa hari lagi, atau malah semua alasan itu jadi kombinasi yang tepat... Jane meneteskan air matanya. Dia menangis dalam keheningan malam ini untuk yang pertama kalinya. Jane lelah. Ia marah. Tapi ia tak tahu harus melampiaskannya pada siapa. Ia hanya lelah. Ia ingin tidur dan keluar dari segala macam rumitnya perasaan dan keadaan. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Jane terbangun pukul sepuluh siang. Bukan dari bath up, melainkan dari ranjang. Kemarin setelah berendan dengan nyaman diiringi rasa asin yang mampir ke lidahnya karena air matanya turun begitu saja, dan menangis semakin deras, dia memilih untuk segera menyelesaikan mandinya ketika ia baru sadar bahwa ia sudah sejam berada disana tanpa pergerakan. Setelah ia mengeringkan tubuh dan berganti baju, barulah ia akhirnya tertidur dengan pulas. Ia menyetujui quotes yang pernah ia baca di Pinterest, bahwa tidur abis nangis itu adalah surga dunia. Dia merasakan sendiri. Rasa nyaman dan kantuk yang menyerang membuatnya bisa terlelap dengan nyaman, sampai-sampai dia baru terbangun di pukul sepuluh, sementara kelasnya dimulai pukul sembilan. Iya, dia terlambat.  Bukan telat lagi, sih, namanya. Melainkan dia terhitung udah bolos karena dia gak mungkin bisa masuk kelas jam segini. Ketika dia membuka ponsel dengan buru-buru karena panik dia bangun kesiangan, dia menemukan rentetan telepon masuk dan pesan-pesan lainnya, kebanyakan dari tiga orang doang. Hanna, Ryan, dan Kaisar. Cewek itu menghapus langsung pesan masuk dari Kaisar tanpa membuka apa lagi membacanya. Dia segera memblokir nomor itu kemudian berlanjut membuka pesan masuk dari Hanna yang sangat spam. Tentu saja tanpa membaca satu-persatu, Jane udah bisa menebak apa isinya. Hanna menanyakan kenapa ia belum berangkat, kemudian meng-ping dia seratus kali, lalu mengumpati Jane dengan tebakan bahwa dia masih molor—yang mana ini sangat betul sekali, dan yang terakhir berakhir Hanna hanya mengiriminya pesan : bayar sejuta buat jasa titip absen ke gue. Jane menyeringai senang. Temannya yang satu itu emang teman terbaik sejagat raya. Lihat saja sekarang, bahkan tanpa ia meminta tolong, Hanna sudah peka duluan. Cewek itu mendesah lega karena pada akhirnya dia tidak perlu panik lagi karena absennya sudah diisikan oleh Hanna. Dia memiringkan posisi tidurnya, memilih kembali bersantai karena satu kelasnya yang lain masih nanti pukul setengah dua. Jadi yang ia lakukan saat ini adalah membuka pesan masuk dari kekasihnya. Jane sempat terpejam sesaat mencium harum bantal Ryan yang entah gimana bisa, parfum cowok itu sampai menempel disana. Perpaduan parfum dan wangi shampoo Ryan. Jane sampai hafal. Dan harum itu menempel di bantal yang Jane pakai. Kalau udah kayak gini, gimana Jane gak kangen coba? [00.30] Christian Dave: eh kepencet hehe sorry babe udah pulangkah? [00.50] Christian Dave: udah tidur? [07.00] Christian Dave: wake up babygirl kelas jam berapa? [07.55] Christian Dave: belum bangun? [09.00] Christian Dave: babe? [09.57] Christian Dave: guess you’ll late Jane nyengir doang baca serentetan pesan itu, ditambah banyaknya panggilan telepon masuk mulai dari tengah malem sampai yang paling terakhir adalah sekitar sepuluh menit yang lalu. Cewek itu segera mengetikkan balasan. Jennie Laura: baru banguuuun hehe iya, telat gapapa tapi, udah tipsen ke Hanna kamu lg dimana? Christian Dave: harusnya pasang alarm biar ga telat kemarin balik jam berapa? Jennie Laura: jam dua belas pas baru nyampe apartemen Christian Dave: tumben? by the way ada kelas jam berapa lagi hari ini? Jennie Laura: setengah dua iya, tibatiba gak mood kemarin Jane tidak berniat menceritakan apapun. Toh tidak ada yang terjadi kemarin di antara ia dan Kaisar. Jadi biarlah semuanya tetap ada di tempat, ia tak ingin mengganggu fokus Ryan yang sedang berada jauh darinya. Mungkin, mungkin saja ia akan cerita kalau Ryan sudah kembali ke Jakarta. Walaupun ia lebih berminat untuk tidak bilang apa-apa ke cowok itu. Christian Dave: can i call you? videocall Jane tersenyum kecil sembari menggerakkan jarinya untuk menelpon cowok itu lebih dulu. Video call, seperti keinginan Ryan. Di detik pertama dia menunggu, Ryan langsung mengangkat panggilannya. Cewek itu jadi mengernyit pas sadar Ryan masih di hotel, belum kemana-mana padahal ini sudah pukul sepuluh lebih “Kok masih di hotel?” tanyanya langsung bahkan tak ada sapaan halo dan lain sebagainya. Ryan menyugar rambutnya ke belakang sambil manggut-manggut. “Nanti ngecek proyek jam satu-an.” “Kasian, panas-panasan di Gorontalo.” “Kemarin kenapa pulang jam dua belas? Biasanya emang jam segitu?” tanya Ryan sedikit penasaran karena biasanya emang jam-jam pulang dari tempat seperti itu yakni di atas jam satu. “Hm... ya enggak, sih...” “Terus?” “Gak mood aja, pengin pulang.” “Jadinya sama Hanna doang? Jeff gak ada?” Jane menggeleng. Kemudian dia memilih untuk mengalihkan topik ke arah lain, karena sejujurnya membahas tentang kemarin hanya akan membuatnya teringat lagi pada Kaisar. “Kamu jadi pulang besok?” “Iya, mungkin siang sampe di apartemen.” “Okay, aku jemput di bandara, ya?” Ryan menggeleng. “Gak usah.” “Selalu deh—“ “Udah, gak usah. Kamu tuh jarang nyetir jauh. Kalau ada apa-apa di jalan malah aku yang takut.” “Ya gak bakal begitu juga,” Jane berdecak. “Gak tahu aja kamu aku sering ikut balapan.” “What?” Jane mengangguk, kemudian ketawa ngelihat Ryan yang kaget. “Iya, balapan liar, sih, bukan yang legal kayak di TV-TV.” “Itu malah lebih bahaya. Are you crazy?” “That was so fun, tau. Kamu harus nyoba kapan-kapan.” Ryan cuman geleng-geleng kepala. “Kayaknya aku masih belum banyak tahu soal kamu, ya.” “Ya gak apa-apa. Adaptasi, kan, gak sebulan sekaligus langsung tahu semuanya,” Jane tersenyum. “By the way, these pillow smells like you.” “Oh, ya?” Jane tersenyum dan membaui bantalnya, masih dengan posisi tidur yang miring dengan ponsel menghadap ke arahnya. “Iya. Kamu parfumin jangan-jangan bantalnya?” Ryan ketawa. “Ya enggaklah. Ngapain banget?” “Ya siapa tahu, kaaaaan.” “Makin kangen gak jadinya kalau bantal yang kamu pake bau aku?” Jane mengangguk lucu, membuat Ryan jadi gemas sendiri karena cewek itu cemberut. “Iya, lah.” “Besok aku pulang,” Ryan berujar. “I miss you more.” Dan gak tahu kenapa, Jane tiba-tiba pengin nangis lagi. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN