* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Demi Tuhan, rasanya Jane benar-benar ingin pindah ke planet lain. Dia gak tahu kenapa belakangan ini dia merasa dia jadi sering berpapasan dengan Kaisar. Di tempat-tempat yang tidak terduga, di waktu yang tak pernah Jane kira.
Mungkin. Mungkin saja kalau posisinya Jane masih single dan tidak mengikat hatinya pada siapapun, dia akan senang hati—sedikit—untuk memberikan waktunya dmei mengobrol dan meluruskan urusan yang belum selesai, walaupun Jane sendiri juga sedikit ragu. Memangnya urusan apa yang belum selesai? Jane sudah sepenuhnya meninggalkan Kaisar di hari ketika dia menguak pengkhianatan laki-laki itu.
Tanpa bermaksud munafik, Jane tentu bisa saja memuaskan rasa rindunya pada Kaisar—lagi-lagi dengan garis tebal bahwa seandainya dia tak memiliki kekasih.
Tapi kenyataannya, kini dia sudah memiliki Ryan. Laki-laki itu sudah berstatus resmi sebagai kekasihnya. Jane tidak ingin melakukan sesuatu yang bodoh yang kiranya akan membuat sang pacar jadi kepikiran dan bersedih, apa lagi selama ini Ryan sangat baik pada dirinya.
Lalu detik ini, ketika Jane baru keluar dari gedungnya seorang diri, hendak melangkahkan kaki ke arah kantin menyusul Hanna yang entah gimana bisa-bisanya cewek itu bolos kelas padahal lagi ada jadwal presentasi, dia bertemu dengan Kaisar.
Cowok itu duduk di salah satu bangku yang terletak di tempat parkiran—yang mana kalau mau ke kantin, emang harus ngelewatin tempar parkir dan artinya Jane ketemu sama Kaisar.
Sepertinya Kaisar memang sengaja menunggu kedatangan Jane. Karena tepat ketika perempuan itu muncul dan lewat, Kaisar langsung berdiri dan menghadang jalan perempuan itu.
Jane tentu saja terkejut. Dia tak menyangka bahwa ada saja hari yang membuatnya jadi bertemu lagi dan lagi dengan mantannya yang satu itu. Dia menghela nafas, menatap malas pada cowok kulit sawo matang di hadapannya yang entah sengaja atau tidak sedang mengenakan jaket kulit hitam yang mana dulu Jane yang membelikannya.
“Minggir.”
Jane melangkah ke kanan, dan Kaisar menghadangnya. Cewek itu melangkah ke kiri, Kaisar pun sengaja menghadangnya. Cowok itu sepertinya sengaja memancing amarah Jane.
“Minggir!” Jane mendorong kencang pundak cowok itu dan keinginannya berhasil. Dia berhasil menggeser Kaisar dari posisi berdirinya kemudian Jane langsung lanjut jalan dengan muka ketus bukan main.
Sudah dia bilang, Jane selalu merasa moodnya anjlok seketika setiap kali bertemu dengan Kaisar.
Tapi laki-laki itu betulan gak berminat untuk membuat hidup Jane tenang. Karena baru saja dia melangkahkan kaki dua langkah, Kaisar menarik lengannya, membuat Jane langsung balik badan dan menepis tangan itu cowok.
“Apa, sih?!”
Kaisar menarik nafas dalam. “Lima menit doang, please. Gue pengen ngomong sesuatu.”
“Kita gak ada urusan ya, Kai! Berhenti bikin semuanya jadi rumit.”
“Gue malah pengin semuanya jadi makin mudah, bukan kayak yang lo maksud,” Kaisar mengedarkan pandangan ke arah samping kanan dan kirinya. Beberapa orang jadi curi-curi pandang ke arah mereka berdua karena Jane sempet bersuara nada tinggi dan terdengar ke telinga banyak orang.
“Ikut gue, ya? Jangan ngobrol disini, dilihatin banyak orang.”
Jane menepis lagi dengan cepat kala Kaisar menggenggam tangannya. “Dont you dare to f*****g touch me!”
“Oke, oke, i’m sorry, oke?” Kaisar termundur satu langkah dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, bahwa ia tak akan melakukan itu lagi. “Tapi bisa kita gak ngobrol disini?”
“Gak bisa. Kalau lo ada perlu sama gue, ngomong aja disini.”
“Jane, ini rame—“
“Gue gak peduli. Lo tadi minta lima menit, kan? Sure, silakan. Mulai dari sekarang so jangan buang-buang waktu.”
Jane sama sekali tidak peduli kalaupun dia dianggap jahat dan antagonis karena dari tadi suaranya melengking membuat telinga orang-orang bisa menangkap betapa kasar perilaku Jane pada Kaisar. Apa lagi cowok itu terlihat anteng-anteng aja. Malah cenderung kalem.
Kaisar yang tak ingin buang-buang waktu jadi langsung diam dan menurut. Dia memutuskan untuk mengikuti saja semua permintaan Jane. Dari pada ia diusir dan Jane memilih tidak mau berbicara dengannya lagi.
“Gue minta maaf. Itu yang pertama. Mungkin lo bosen denger ini dari gue tapi—“
“Emang,” jawab Jane sambil memutar bola matanya malas.
Kaisar menatap Jane dengan pandang dengan rasa bersalah. “Tapi gue beneran minta maaf karema gue sangat menyakiti hati lo.”
“Yang kedua,” Jane langsung ingin pada intinya saja, tak ingin mendengarkan kalimat yang bertele-tele. “Yang kedua apa? Skip aja yang pertama soal maafan dulu.”
“Gue udah putus sama Crystal.”
What?!”
Jane membelalakkan mata tanpa bisa mengontrol ekspresi. Bukannya kearin cowok itu bilang bahwa dia masih baik-baik aja dengan Crystal? Kenapa sekarang sudah begini?
“Jangan mikir aneh-aneh. Ini gak ada hubungannya sama lo.”
Dan dengan itu Jane sedikit bisa bernafas lega.
“Tapi gue betulan kangen lo, Jane. Gue kangen kita.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Gue kangen kita.
Berapa kali laki-laki itu bersuara dengan kalimat yang sama belakangan ini? Terlalu sering.
“Lagi. Lo mau ngomongin soal ini lagi?”
‘”Jane, wait. Wait, please,” cowok itu meraih tangan Jane yang sudah hendak pergi begitu saja. “Please, biarin gue ngutarain apa yang pengin gue utarain.”
“Dan ngebuang waktu gue cuman buat dengerin omong-kosong lo? No, thanks.”
“Jane, this is not bullshit at all. Here, listen to me. Gue kangen lo, gue kangen kita, gue masih sayang lo, dan gue tahu lo juga masih gak bisa lupain gue—“
“Ngaco—“
“I know it, Jane. Jangan bohong. Sejak kapan, sih, Jennie Laura suka boong? Isi kepala lo, tuh, transparan, Jane. Kelihatan.”
Kaisar meremas tangannya, kini Jane menurut saja ketika Kaisar menariknya dan mengajaknya duduk di kursi kayu yang sebelumnya diduduki Kaisar saat ia menunggu Jane keluar dari gedung. Keduanya kini duduk bersampingan, dengan badan Kaisar yang menyerong menghadap ke arahnya.
“Sejauh apapun gue mau pergi dari lo, Jane, ternyata apa yang gue mau tetep elo. Elo lagi, elo lagi. Gue kira awalnya gue betulan gak bisa ngelupain Cystal, itu alasan kenapa dulu gue ngehubungin dia pas kita masih bareng. Ternyata enggak. Bukan itu. Tapi karena gue cuman mau mastiin aja apa perasaan gue ke dia dulu beneran masih ada, tapi ternyata enggak. That’s just obsession.”
Jane masih memilih diam dan mendengarkan.
“Yang gue mau adalah elo. Yang gue butuhin di hidup gue juga elo. Bukan yang lain, siapapun itu,” Kaisar mengusap lembut punggung tangan Jane. “Lo juga, kan? You still love me, gak ada yang berubah di antara perasaan kita berdua.”
Jane meneguk ludah ketika menatap mata Kaisar yang menatapnya penuh penyesalan juga rindu yang sangat besar.
“Gue punya pacar, Kai.”
“Pacar, kan? Bukan suami. Lo tahu kemana hati lo berlabuh, Jane. Jangan buang-buang waktu dengan macarin cowok yang gak lo sayang. You still belong to me, right?”
Jane gak mengangguk juga gak menggeleng walaupun ingin sekali dia mengutarakan bahwa dia memang masih memiliki cinta dan harapan untuk Kaisar.
“Diemnya elo gue anggap iya,” Kaisar mengulas senyum. “Gue bisa nunggu kapanpun lo mau mutusin Ryan. Gue tahu, lo tahu, kita sama-sama tahu, kita masih bisa memperbaiki hubungan kita biar lebih baik dari pada yang dulu. Take your time, buat mikirin permintaan gue, buat mikirin semuanya yang menurut lo jadi halangan. You know that i’ll be here, always, for waiting your answer.”
Kaisar mengusap lembut kepalanya, kemudian tersenyum dan berdiri.
“Sori karena gue ingkar janji, ini udah lebih dari lima menit dari yang gue minta.”
Jane ikut berdiri, masih tidak bisa buka suara apapun karena isi kepalanya yang penuh dan dia tidak bisa berpikir jernih.
“Mau pulang? Gue anter? Atau balik ke kosan?”
Kali ini cewek itu menggeleng. “Gue mau ke kantin. Hanna nunggu.”
Kaisar mengangguk-anggukkan kepala. “Oke, go ahead.”
Jane mangangguk kaku, kini balik badan dan melangkah meninggalkan Kaisar yang bahkan tak bergerak dan merubah posisi.
Baru empat langkah gadis itu menjauh, kini Jane memilih berhenti. Tangannya gemetar karena bingung, dia dilema besar, jadi dia berbalik, menatap Kaisar yang memberinya senyum.
“Kenapa?”
Jane harap bisa memberikan jawaban sekarang juga, detik ini juga. Tapi dia tidak bisa.Dia bimbang.
Jadi perempuan itu menggeleng, kemudian tersenyum. “Enggak,” lalu lanjut pergi meninggalkan Kaisar.
Pejamkan mata bila
Ku ingin bernafas lega
Dalam anganku, aku berada
Di satu persimpangan
Jalan yang sulit kupilih
Kupeluk semua indah hidupku
Hikmah yang kurasa sangat tulus
Ada dan tiada cinta
Bagiku, tak mengapa
Namun ada yang hilang, separuh diriku
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *